Walijo Menjadi Wali Di Bai’at Nabi Khidir

Pagi itu Walijo terbaring di atas dipan di depan rumahnya, menahan pusing kepala, mungkin karena semalaman dia tidak bisa tidur. Sudah beberapa bulan ini dia seperti itu, setiap malam tidak bisa terlelap, entah kenapa matanya tidak mau diajak tidur.
Tiba tiba Walijo mendengar Gurunya memanggilnya, “Jo, mreneo reng pondok saiki, ono sing arep ketemu kuwe” ( Jo datang ke Pondok sekarang, ada yang mau ketemu kamu)

Suara Mbah Yai begitu jelas terdengar di telinga Walijo, padahal jarak dari rumah Walijo yang berada di perbatasan Kudus dan Demak ke Pondok Mbah Yai yang berada di pesisir Rembang sekitar 77 km.
Walijo mau menggunakan Ilmu Melipat Bumi yang baru diajarkan Mbah Yai beberapa bulan yang lalu.
Walijo berdiri dan menutup mata lalu mulutnya komat kamit.. Dan tiba tiba terdengar suara ayam berkoak koak rame banget…
Ternyata ketika Walijo membuka mata.. Dia telah dikelilingi ayam…
Walijo berada di kandang ayam yang berada di kebun belakang pondok Mbah Yai..

“Alhamdullah, untung ora gupak lencung” ( Alhamdulillah tidak terkena kotoran ayam).

Walijo langsung menuju ndalem sowan Mbah Yai,  “Assalamu alaikum, kulo Walijo, Mbah Yai” ( Assalamu alaikum Saya Walijo, Mbah Yai) kata Walijo.

“Ayo Le melu” ( Ayo ikut)

Walijo mengikuti langkah kaki Mbah Yai, menuju ke pesisir laut.

Mereka berdua menaiki perahu kecil, ” Dayung perahune ke Tengah laut” sambil tangan Mbah Yai menunjuk ke tengah laut. Walijopun mendayung perahu menuju ke tengah laut seperti  yang ditunjuk oleh Mbah Yai.

Sesampai di tengah laut, Mbah Yai ngendiko, ” entenono neng kene” (Tunggu disini).

Mbah Yai berdiri dan keluar dari perahu, berdiri di atas air laut dan berjalan entah menuju kemana.

Baca juga:  Syekh Subakir, Babad Tanah Jawa

Mbah Yai berjalan menjauh dari Walijo, lama kelamaan Mbah Yai menghilang dari pandangan Walijo.

Walijo sendirian berada di tengah laut, kemanapun melihat hanya air laut yang nampak.

Dia duduk sambil dzikir qolbu, ketika tengah hari Walijo sholat Dhuhur, kemudian dia dzikir qolbu.

Ketika tiba waktu Ashar Walijo sholat Ashar, lalu dzikir qolbu lagi.

Begitupun ketika tiba waktu magrib dan isya’.

Walijopun meneruskan dzikir, tiba tiba datang hujan badai, hingga perahu kecil itu terguncang guncang, Walijo masih dalam posisi duduk dzikir qolbu. Hingga badai itupun berlalu.

Entah sudah berapa hari Walijo duduk dzikir di atas perahu. Malam itu bulan purnama bersinar, Walijo masih duduk berdzikir, terdengar ada suara, “Buka matamu Walijo”.

Walijo membuka mata, di depannya telah duduk seorang lelaki.

Walijo mengulurkan tangannya bermaksud untuk bersalaman dan mencium tangan Lelaki itu, ketika memegang tangan Lelaki itu terasa ada yang aneh, jempol tangan Lelaki itu tidak bertulang. Kemudian Walijo mencium tangan Lelaki tersebut. Walijo bergumam dalam hati, ” apa beliau…”.

Belum selesai Walijo bergumam, Lelaki itu berkata, ” Iyo Jo, bener”

Kemudian Nabi Khidir membai’at Walijo menjadi Wali , menggantikan Wali lain yang telah meninggal kemarin.

Link artikel: https://soffar.com/walijo-menjadi-wali-di-baiat-nabi-khidir/

{ bersambung}

Tags: #Nabi Khidir #Walijo

Maqam Kewalian Gus Dur
Maqam Kewalian Gus Dur diungkapkan oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, menurut beliau
Kisah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani Bertarung Melawan Setan, Iblis
“Kisah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani Bertarung Melawan Setan, Iblis, dan Hawa Nafsu” Bertarung
Kisah Sunan Drajat dan Pendekar Sakti Lamongan
Kisah Sunan Drajat menguji Pendekar sakti di Lamongan GAGAK RIMANG – Terdapatlah seorang

Tinggalkan pesan "Walijo Menjadi Wali Di Bai’at Nabi Khidir"