KAROMAH WALI YANG TIDAK DIKENAL

Diposting pada

Daftar Isi

WALI YANG TIDAK DIKENAL

Suatu kali, kemarau panjang yang keras dan getas melanda Mekah. Saat itu Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama besar, sedang berada di sana.

Seperti diceritakan sang ulama, para penduduk Mekah pergi ke Arafah guna melakukan salat istisqa’ (salat minta hujan). Tetapi, hujan yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Malah terik mentari kian memanas. Bumi meranggas panas.

Hari Jumat, kembali mereka datang ke Arafah. Mereka berduyun-duyun ke sana usai salat Jumat, lalu melakukan salat istisqa’.

Di antara orang-orang itu ada seorang lelaki kulit hitam yang menarik perhatian Ibnul Mubarak. Badannya kurus, fisiknya lemah. Ibnul Mubarak terus memperhatikan lelaki tersebut.
Sampai di Arafah, lelaki itu salat sunnah dua rakaat. Kemudian dia berdoa lalu bersujud. Dalam sujudnya dia berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud ini sampai Engkau menyiram hamba-hamba-Mu.”

Tiba-tiba Ibnul Mubarak melihat sekerat awan di langit. Sepotong awan lagi muncul lalu bergabung dengan awan tadi. Begitulah seterusnya hingga awan itu menebal. Dari situ kemudian hujan turun, seperti mulut-mulut kedekatan pada Allah. Lelaki itu mengucap ‘alhamdulillah’ lantas pulang.

Ibnul Mubarak membuntutinya. Lelaki itu terus berjalan hingga masuk ke rumah pedagang hamba sahaya. Ibnul Mubarak membalikkan badan lantas pulang.

Esok paginya Ibnul Mubarak mengantongi sejumlah uang dinar dan dirham. Kemudian dia mendatangi rumah pedagang budak kemarin. “Saya mau beli seorang budak,” katanya. Pemilik rumah lantas menyuruh budak-budak beliannya keluar. Ada 30 orang yang ditawarkan. Ibnul Mubarak memperhatikan wajah mereka satu per satu. Tak satu pun berwajah lelaki kemarin.

BACA JUGA:  Imam Ghozali, Latihan Rohaniah seorang Sufi

“Masih ada yang lain?” tanya Ibnul Mubarak.
“Ada,” jawab si penjual. “Tapi dia seorang lelaki lemah dan pendiam. Tidak pernah mau bicara dengan siapapun.”

“Suruh dia keluar. Perlihatkan padaku.”
Si penjual mengeluarkan seorang budak lagi yang tak lain adalah lelaki yang dilihat Ibnul Mubarak di Arafah. “Berapa harganya yang ini,” tanyanya.

“Dua puluh dinar. Tetapi untuk Anda, saya korting lima puluh persen. Cukup Anda bayar sepuluh dinar saja.”

“Tidak, aku malah akan menaikkan harganya. Dia saya bayar dengan 27 dinar.”
Tentu saja si penjual senang.

Ibnul Mubarak lantas memegang tangan si budak dan membawanya pulang. Sampai di rumah si budak bertanya, “Tuan, mengapa Tuan membeli saya, sedang saya tidak kuat apa-apa? Saya kan tidak bisa melayani Tuan dengan baik.”