WALI ALLAH YANG TETAP HIDUP

Diposting pada

Daftar Isi

WALI ALLAH YANG TETAP HIDUP

Para wali tetap hidup di alam kuburnya seperti kehidupan mereka di dunia. Para wali yang ahli tahajjud tetap tahajjud di alam kuburnya. Yang ahli tadarus Qur’an tetap tadarus Qur’an. Yang ahli silaturahim tetap silaturahim. Dan seterusnya. Hal ini sebagai kenikmatan yang mereka alami di alam kubur.

WALI ALLAH selau diberi keistimewaan (karomah) dari hidup sampai wafatnya. Banyak cerita nyata dari para pecintanya yang membuktikannya. Diantara mereka ada yang ditolong dari kecelakaan, perampokan, dll sebagai wasilah,dan itu adalah KARUNIA BESAR DARI ALLAH untuk para kekasih-NYA.

Dalil tentang hal ini diantaranya adalah ayat yg menjelaskan bahwa para syuhada’ (orang mati syahid) tetap hidup di alam kuburnya, yakni ayat :

[سورة البقرة (٢) : الآيات ١٥٤]

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْواتٌ بَلْ أَحْياءٌ وَلكِنْ لاَّ تَشْعُرُونَ (١٥٤)

“Jangan kalian katakan bagi orang yg dibunuh di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati ! Namun, mereka adalah orang-orang yg hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya”

Jika para syuhada’ saja mendapat karunia tetap hidup di alam kuburnya, maka para ulama’ dan wali pasti mendapat karunia lebih besar, mengingat derajat mereka lebih tinggi.

Sebagaimana diketahui, bahwa Di Indonesia jumlah makam wali sangat banyak dgn berbagai tingkatannya, nomor kedua setelah Hadlromaut, Yaman.

Banyak kitab yg menulis biografi para wali di Timur Tengah, seperti kitab Jami’ Karomatil Auliya’, Thobaqotul Auliya’, dsb. Sebenarnya, di Indonesia waktu itu sudah banyak para wali, hanya saja tradisi tulis-menulis di tanah air belum semarak, jadi tidak sempat terbukukan.

BACA JUGA:  Sunan Kalijaga, Dzikir

Tingkatan wali tertinggi disebut Al-Quthbul Ghouts, dan hanya ada 1 orang dalam setiap masa. Beliau dijuluki Abdullah. Kemudian, di bawahnya ada Al-Imamani (dua imam), yg salah satunya akan menggantikan Al-Ghouts ketika wafat.

Kemudian di bawahnya ada Al-Autad, jumlahnya ada 4 orang. Imam Syafi’i dulu adalah pemimpin wali Autad. Kemudian di bawahnya ada Al-Abdal, jumlahnya ada 7 orang. Dst.

Keterangan tentang tingkatan para wali tingkatan para wali bisa di baca diantaranya di kitab Jami’ Karamatil Auliya’.

Imam Malik ra juga pernah berkata :

بلغني أن الأرواح تسرح حيث شاءت

“Ada kabar sampai padaku, bahwa para arwah itu dapat bepergian ke mana pun mereka mau”

Tentunya, hanya ruh orang-orang pilihan saja yg mendapatkan karunia di atas, seperti ruh para wali.

Marilah kita gemar berkunjung kepada para wali, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, dengan niat agar kita dapat mengikuti golongan beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah, bagaimana para awliya’ bertaqarrub dan beramal sholeh serta menjauhi larangan ALLAH