HAKIKAT ZIKIR MENURUT SYEIKH ABDUL QADIR AL JILANI

SYEH ABDUL QODIR AL JILANI, SAPI YANG BERBICARA

Diposting pada

Daftar Isi

Suatu ketika tepatnya di hari Arafah, di kala Abdul Qodir masih berusia remaja. Ia hendak membajak ladangnya dengan seekor sapi, dalam kisah lain kambing, namun tiba-tiba saja terjadi keanehan.

Binatang tersebut menoleh dan menatapnya kemudian berbicara seperti manusia:
“Hai Abdul Qodir, engkau tidak dijadikan untuk ini dan tidak diperintahkan untuk mengerjakannya”
Pemuda itu sangat terkejut mendapat teguran dari seekor sapi yang sebelumnya tidak dapat berbicara dalam bahasa manusia,

Kedengaranya memang aneh tapi begitulah kenyataan yang terjadi, Allah maha berkehendak, Abdul Qodir sadar dan ia segera meninggalkan tempat itu untuk pulang, dan setibanya di rumah ia langsung naik atas suthuh (loteng). Dan dari atas sana ia dapat melihat banyak orang yang pergi ke padang Arafah untuk melakukan Wukuf.

Hati pemuda itu jadi tergugah, ia pun bergegas menemui sang ibu untuk menyampaikan isi hatinya:
“Ibu, serahkanlah aku kepada Allah. Dan izinkanlah aku pergi ke Baghdad untuk belajar serta berziarah kepada orang-orang shalihin.”
“Wahai Anakku,kenapa engkau tiba-tiba saja berkata seperti itu?” Tanya ibu tua itu.
Setelah Abdul Qodir menceritakan peristiwa aneh yang baru dialami, maka sang ibu sadar bahwa anaknya akan memperoleh derajat yang mulia sebagaimana para Auliya’ kekasih Allah wa Rasulihi Saw.

Sang ibu menangis karena terharu, kemudian ia mengambil harta warisan almarhum ayah Abdul Qadir.

Warisan tersebut berupa uang sejumlah 80 dinar,selanjutnya di bagi dua, yakni 40 dinar untuk Abdul Qadir dan 40 dinar yang lainnya untuk saudarannya.
Ibu Fathimah segera membuatkan sebuah saku untuk menyimpan uang di bawah ketiak pada baju yang akan dipakai oleh putranya. Seusai menyiapkan segala keperluannya, sang ibu menghampiri Abdul Qadir untuk memberi restu dan menyampaikan beberapa pesan yang bernilai mutiara.

Baca juga:  MENCEGAH KEBUTAAN KOLBU

Yakni harus berkata benar dan berlaku jujur dalam segala hal. Dengan sikap yang penuh adab(tata krama),Abdul Qadir mengucapkan selamat tinggal kepada ibunda tercinta.
“Pergilah, wahai anakku. Kini engkau telah aku titipkan kepada Allah mungkin wajahmu tidak akan dapat lagi kulihat hingga datangnya hari qiamah”.

Itulah ucapan Fathimah yang mengiringi kepergian buah hatinya dengan linangan air mata kasih.

Abdul Qadir pergi ke baghdad mengikuti rombongan kafilah,mereka melalui padang pasir yang teramat luas.
Di dalam perjalanannya meninggalkan wilayah Hamdan,tiba-tiba muncul segerombolan penjahat berkuda.
Mereka mengepung dan merampas semua dagangan milik kafilah itu dengan paksa.
Salah seorang diantara mereka menghampiri Abdul Qadir yang berpenampilan seperti orang miskin, kemudian bertanya:
“Hai orang fakir,engkau mempunyai apa?!”
“Aku membawa uang empat puluh dinar!” Jawabnya.
“Mana?!” Tanya penjahat itu.
“Dijahit dalam saku dan berada di bawah ketiakku.”
Penjahat itu mengangap Abdul Qodir berbohong dan tidak memiliki apa-apa,sehingga ia tidak diperhatikan. Dan pemuda itu ditinggalkan begitu saja.
Namun sesaat kemudian datang lagi yang lain dengan menghunuskan pedangnya yang berkilat tajam. Kemudian mangajukan pertanyaan yang serupa. Abdul Qodir tetap menjawab sejujurnya seperti semula. Tetapi penjahat itupun tifak percaya dan berlalu untuk menemui pemimpinya.
Tampak ada sesuatu yang dibicarakan diantara mereka,sehingga pada akhirnya pemuda itu dibawa ke sebuah perbukitan. Disana Abdul Qodir melihat para penjahat tersebut sedang membagi harta rampasan.
Kemudian ia dihadapkan kepada pemimpin mereka.
“Kau membawa apa?!”tanya sang pemimpin.
“Aku hanya membawa uang sejumlah empat puluh dinar”.jawab Abdul Qodir
“Mana uang itu?!”
“Di dalam saku dan dijahit dibawah ketiakku.”
Orang itu segera mengeledah dan benarlah,ia menemukan uang sejumlah empat puluh dinar.
Mereka sangat kagum akan kejujuran Abdul Qodir karena pada umumnya semua orang pasti menyembunyikan bahkan berbohong agar harta miliknya selamat.
“Kenapa engkau berkata jujur?”tanya penjahat
“Karena ibu berwasiat,agar aku berkata jujur dan benar,dan aku tidak dapat mengingkari janjiku kepada beliau.”
Jawaban Abdul Qodir yang tulus itu membuat pimpinan penjahat tertegun dan tiba-tiba saja ia menangis,kemudian berkata:
“Engkau tidak mengingkari janji pada ibumu,sedangkan kami telah bertahun tahun berbuat salah serta melangar larangan Allah. Maka mulai saat ini juga aku bertobat kepada Allah,”ikrar sang pemimpin.
“Kau adalah pemimpin kami dalam perampokan,maka engkau juga pemimpin kami dalam bertobat,”seru anak buahnya dengan serempak.
Kemudian semua barang rampasan itu dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing sambil meminta maaf. Mereka itulah orang-orang yang pertama kali bertobat di hadapan Syech Abdul Qodir al Jaelani yang masih muda.