Nabi Muhammad,rosul,nabi muhammad,Rosullullah

SHALAWAT PENGGANTI MURSYID

Diposting pada

Daftar Isi

Ketahuilah bahwa Jalan wushul kepada Allah melalui Shalawat kepada baginda Nabi SAW adalah salah satu jalan yang paling dekat ( mudah untuk mencapai kewushulan ) .

SHALAWAT PENGGANTI MURSYID

ﺫﻛﺮ ﺑﻌﺾ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺍﻧﻬﺎ ﺗﻮﺻﻞ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻴﺦ
“ Sebagian para Ahli Haqiqat berkata bahwa Shalawat kepada Nabi SAW dapat menjadi sebab Wushul seseorang kepada Allah Ta’ala tanpa melalui bimbingan seorang Syaikh “

Ada dua pendapat tentang hal ini .
Pendapat pertama adalah Shalawat Nabi itu mempunyai faidah yang sangat banyak . Diantaranya adalah akibat berShalawat Nabi , hati pembacanya akan menjadi bersih dan bersinar dan menguatkan himmah ( semangat beragama ) nya.

Sesudah hati bersih dan bersinar , dan ditunjang kuatnya himmah , maka Madad serta Asrar akan banyak datang serta bersemayam di dalamnya menghantarkan menuju kedekatan kepada Allah Ta’ala ( Wushul ) .

Artinya Shalawat Nabi benar-benar dengan sendirinya mampu menghantar seorang pesalik menuju Allah tanpa bimbingan seorang Syaikh sama sekali .

Tentang hal ini , Syaikh As Sya’raniy dalam Al Yawaqit Wal Jawahir berkata :

“ Ketahuilah bahwa Jalan wushul kepada Allah melalui Shalawat kepada baginda Nabi SAW adalah salah satu jalan yang paling dekat ( mudah untuk mencapai kewushulan ) . Siapa gerangan yang tidak menghidmahkan dirinya secara khusus kepada Baginda Nabi , kemudian dia berangan-angan untuk dapat masuk kedalam Hadhrotillah ﺣﻀﺮﺓﺍﻟﻠﻪ , maka sungguh mustahillah angan-angannya itu ( dapat terwujud ) .

Tidak mugkin ( Malaikat ) para penjaga Hadratillah mau mempersilahkan dia masuk disebabkan ketiadaan adabnya kepada Allah Ta’ala . Hukumnya dia itu seperti seorang petani yang ingin bertemu langsung dengan Raja tanpa melalui perantara khusus ( orang-orang dekat ) Sang Raja . “

Shalawat – Shalawat Nabi yang mempunyai peran laksana “ Syaikh “ tersebut mesti dijalani dengan sebaik-baiknya Adab . Imam As Sya’raniy dalam kitab Masyariqul Anwar berkata :
“ Seseorang yang membaca Shalawat kepada Baginda Nabi SAW mesti melakukannya dalam keadaan suci ( berwudhu ) serta hati yang khudur . Karena bershalawat itu adalah sebuah munajat kepada Allah sebagaimana Shalat yang ada Rukuknya , ada Sujudnya , Hanya saja dalam shalawat , bersuci itu tidak merupakan syarat sahnya ( menurut Syara’ ).

( Mengapa bershalawat semestinya bersuci dan dengan hati yang khudhur ? ) Karena seseorang yang bershalawat itu sedang ada dalam kedekatan dihadapan Allah Azza Wajalla , memohon kepada Allah agar memberikan Shalawat ( Rahmat) Nya kepada Nabi Nya , yakni Nabi Muhammad SAW

Keadaan Rohani yang bersih dari seorang pembaca Shalawat diperlukan karena dari sisi maknawiy , nuansa Shalawat itu tidak ubahnya sebuah kedekatan kesahabatan dengan Nabi .

Syaikh As Sya’raniy berkata :
“ Seperti telah aku sebutkan , bahwa persahabatan secara barzahiyyah dengan Rasulullah SAW sangat memerlukan kebeningan ( spiritual ) sehingga layak bersanding dengan beliau SAW . Seseorang yang mempunyai hati nurani yang kotor yang dia akan malu seandainya kekotorannya itu terlihat ( baik di dunia ataupun di akhirat ) maka dia tidak sah bersahabat , bersanding dengan Rasulullah SAW .

sebagaimana tidak ada manfaatnya keshahabatannya orang – orang Munafiq dan sebagaimana orang-orang Kafir yang membaca Al Qur’an , bacaannya itu tidak ada manfaatnya dan mereka tidak dapat mengambil manfaat dari Al qur’an yang mereka baca , sebab mereka tidak meyakini hukum-hukum yang ada di dalamnya . “

Bershalawat dengan sembarangan , tanpa adab yang sempurna bukannya tanpa manfaat . Bahkan sesungguhnya dengan cara yang seperti itu saja , shalawat sudah sangat tinggi nilainya . Al Imam Muhammad Abil Mawahib As Syadziliy , seorang Auliya’ besar , bahkan terhitung bagihan dari Auliya yang tterbesar yang pernah ada , bermimpi bertemu dengan Baginda Nabi SAW . Syaikh bertanya :

“ Duhai Rasulullah . Apakah balasan 10 Rahmat Allah terhadap satu kali bacaan Shalawat itu diberikan kepada seseorang yang membacanya dengan penuh khudhur ? “

Rasulullah SAW menjawab :
“ Tidak . Tetapi itu untuk seseorang yang membaca Shalawat kepadaku dalam keadaan hatinya yang lalai . ( Bershalawat dengan keadaan lalai seperti itu ) Allah Ta’ala akan mengutus untuknya , Malaikat – Malaikat yang laksana Gunung-gunung besarnya , mereka beristighfar emohon ampunan dosa untuknya .

Adapun seseorang yang membaca Shalawat kepadaku dengan hati penuh khudhur , maka hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahui besarnya balasannya.

Dengan kemuliaan-kemuliaan sedemikian ini , tidak heran jika banyak Ulama’ meyakini , memperbanyak membaca shalawat dapat dengan mudah mengantarkan menuju kedekatan dengan Allah Ta’ala , meskipun tanpa bimbingan Syaikh . Meskipun ada juga yang berpendapat berbeda .
Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Al Quthb Mulawiy bahwa kewushulan seorang pesalik mau tidak mau harus melalui bimbingan Syaikh Murabbiy . Adapun Shalawat Nabi “ hanyalah” salah satu pintu masuknya saja . Beliau berkata :

ﺍﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻥ ﻟﻬﺎ ﺗﺄﺛﻴﺮﺍ ﻋﺠﻴﺒﺎ ﻟﺘﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﻭﺍﻻ ﻓﺎﻟﻮﺍﺳﻄﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ ﻻﺑﺪّ ﺍﻻ ﺑﻪ

“ Sebetulnya hal ( kemuliayaan shalawat ) ini artinya Shalawat itu mempunyai pengaruh yang mengagumkan dalam membuat hati menjadi bersih dan bercahaya . Jika bukan demikian , Maka washilah ( jalan ) seseorang untuk menggapai Wushul itu , mau tidak mau mesti melalui bimbingan Seorang Syaikh “

Apapun itu , bershalawat Nabi memang merupakan sarana dan jalan kebaikan bagi ummat ini untuk mencapai kemuliaan hidup mereka baik di dunia maupun di akhirat . Sampai-sampai dikatakan :
“ Dijaman akhir , segala pintu kebaikan telah tertutup kecuali pintu Shalawat kepada Nabi SAW “

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ

Kiai madadd salim

BACA JUGA:  MARYAM, SITI HAJAR HADIR SAAT ROSULULLAH LAHIR