SERIBU TAHUN LALU IBNU SINA TELAH MEMPREDIKSI CORONA

Diposting pada

Dalam adegan lainnya, Ibn Sina menjelaskan kepada sahabatnya bahwa *tidak usah takut* menghadapi wabah ini, tetapi hadapilah dengan suka cita dan kegembiraan, karena wabah itu tidak takut kepada pengecut dan penakut.

Berbagai inovasinya, sebetulnya, selaras dengan ilmu pengetahuan modern, antara lain, bahwa pasien dalam kondisi sikap mental yang optimis, lebih cepat merespon pengobatan dari pada pasien yang takut karena panik. Rasa takut, secara signifikan dapat melemahkan imunitas atau kekebalan tubuh.

Dia menjelaskan pula, bahwa wabah itu disebabkan oleh partikel yang tidak terlihat oleh mata telanjang, menembus udara, rambut, pakaian, dan sentuhan, serta ditularkan melalui gesekan antar manusia.

Sehubungan dengan hal di atas, Ibnu Sina menyampaikan kata mutiaranya:

اَلوَهْمُ نِصْفُ الدَاءِ، وَالإطْمِئْنَانُ نِصْفُ الدَوَاءِ، وَالصَبْرُ بِدَايَةُ الشِفَاءِ

al-wahm nişfud-dā-i, wal-ițmi’nān nişfud-dawā-i, wal-şabr bidāyah al-syifā

Delusi (serba kawatir) adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh pengobatan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan.

Di samping tidak boleh takut kepada penyakit, dalam film itu Ibnu Sina juga menerangkan cara pencegahan wabah lainnya, yaitu yang bersangkutan harus menjauhi kerumunan manusia, uang harus disterilkan dengan air cuka, masjid dan pasar harus ditutup sementara, sehingga setiap orang shalat di rumahnya masing-masing, agar rantai penyebaran infeksi tidak berlanjut.

Di samping itu, dokter dan paramedis yang merawat pasien, agar mensterilkan hidungnya dengan kapas yang direndam dalam cuka dan mengunyah auraq al-syaikh (semacam daun-daunan), yang semuanya ini baru dikenali oleh orang-orang setelah wabah pandemi Corona menyebar ke berbagai negeri.

Baca juga:  JANGKA JAYABAYA: WOLAK-WALIKING JAMAN

Pada masa Corona sekarang ini, yakni hampir seribu tahun setelah Ibnu Sina wafat, kita baru menyadari bahwa kosep dan inovasi Ibnu Sina sudah digunakan dalam pengendalian penyebaran Corona di berbagai negara di dunia. Dahulu, Ibn Sina pernah curiga ada beberapa penyakit ditularkan oleh mikroba, maka untuk mencegah infeksinya di antara sesama manusia, ia menemukan metode dengan mengisolasi yang bersangkutan selama 40 hari. Metode ini dia sebut al-arba’iniyyat (40 harian)* lalu dikenal dalam bahasa Itali dengan quarantine lalu diserap dalam bahasa Indonesia menjadi karantina. Karena kemajuan ilmu kedokteran, untuk masa sekarang ini karantina lazimnya dilakukan selama 14 hari.

Dari film yang berdurasi relatif pendek itu, kita mendapat informasi yang sangat berharga. Bahwa ilmu kedokteran yang dikembangkan ahli medis muslim di abad pertengahan pernah mempengaruhi dunia kedokteran terutama di daratan Eropa.

Inovasi-inovasi Ibnu Sina dalam bidang medis terutama dalam usahanya membatasi penyebaran wabah, sangat relevan untuk digunakan pada pembatasan penyebaran Corona masa sekarang ini. Apa yang diinisiasi oleh Pemerintah dan WHO tentang physical/social distancing, menggunakan masker, menghindari kerumunan orang, cuci tangan, dan karantina mandiri tidak usah diperdebatkan, tetapi untuk segera dilaksanakan, sehingga bangsa Indonesia ini bisa segera mengendalikan korban yang berjatuhan, dan dapat mengakhiri covid-19 dengan sesegera mungkin. Amin.

Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi, Lc., M.Ag, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.