SEMBILAN ETIKA IMAM JUNAID AL-BAGHDADI

Diposting pada

Konon, Imam Al-Junaid sempat menulis sebuah karya berjudul “Tashih al-Iradah fi Adab as-Shuhbah”. Sayangnya kitab ini -hingga kini- masih belum ditemukan.

SEMBILAN ETIKA MENURUT IMAM JUNAID AL-BAGHDADI

Imam Al-Hujwiri dalam kitab Kasyf al-Mahjub mengatakan, “Para guru sufi memberikan penjelasan tentang hak dan kewajiban dalam jalinan persahabatan. Mereka juga menyuruh para murid2nya untuk mengamalkannya. Etika persahabatan ini bagi para sufi merupakan sebuah kewajiban yg harus dijalankan”.

Dari sini menjadi jelas bahwa etika persahabatan bagi para sufi adalah sesuatu yang penting. Sesuatu yg menampakkan secara jelas sebagai salah satu bentuk prilaku seseorang terhadap orang lain. Bukankah tasawuf sendiri dibangun di atas pondasi akhlak? Sebagaimana perkataan Imam Junaid al-Baghdadi, “Siapa saja yang memiliki akhlak dan pekerti yg baik, maka ia semakin tinggi tasawufnya”.

Para sufi sendiri tidak melakukan mujahadah kecuali dengan terus memperbaiki budi pekertinya. Tujuan hidu paling esensial bagi para sufi adalah berakhlak seperti akhlak-Nya. Sebuah prinsip yang diteladankan dari Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya adalah al-Quran.

Sudah menjadi sebuah konsensus para ulama bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW adalah teladan dan panutan bagi umatnya. Imam Junaid sendiri menyimpulkan bahwa inti dari akhlak ada empat: kedermawanan, kemurahan hati, nasihat, dan kasih sayang.

Memang para sufi lebih banyak menitikberatkan pada sisi pekerti ketimbang perhatian mereka terhadap sisi ibadah. Bagi siapa saja yang akhlaknya baik meskipun dalam hal ibadahnya kurang sempurna dianggap lebih utama daripada orang yang ibadahnya terjaga namun etikanya buruk. Imam Junaid sendiri berkata:

Seorang fasik yg beretika baik lebih aku cintai ketimbang seorang qari’ yg berperilaku buruk.

Ungkapan Imam Junaid di sini berkaitan dengan etika pergaulan dengan orang lain yang mestinya dibangun dengan pekerti yang baik. Budi pekerti merupakan perbuatan lahir yang juga sekaligus menunjukkan sisi batin seseorang. Sebab yang bisa ditularkan oleh seseorang kepada yang lain adalah sesuatu yang tampak dari sisi lahiriahnya.

Maka, siapa yang bersahabat dengan orang yang memiliki pekerti yang baik maka kebaikannya dapat ditularkan kepadanya. Sebaliknya, siapa yang bersahabat dengan orang yang berperilaku buruk, maka akan dapat terpengaruh oleh keburukannya.

Oleh karena itu, Imam Junaid menilai pentingnya menyeleksi persahabatan, bahkan dalam persoalan untuk sekadar makan bersama sekalipun. Imam Junaid berkata:

Makan bersama-sama itu ibarat menyusu (bagi bayi), maka lihatlah dengan siapa kalian makan bersama!

Sebagaimana karakter dan akhlak bayi terbentuk dari ibu yang menyusuinya, maka sama halnya kebiasaan makan bersama. Sebab, biasanya makan bersama hanya bisa dilakukan dengan orang-orang yang sering bareng bersamanya.

Salah satu bukti pentingnya tema etika persahabatan di kalangan sufi ini bisa dilihat dari karya-karya “anggitan” mereka tentang tema ini. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menulis karya khusus mengupas syarat-syarat persahabatan (dalam catatan kaki di sebutkan di antaranya kitab Al-Ghunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Abd Qadir Isa dalam Haqaiq ‘An at-Tashawwuf). Salah satu dari para sufi yang memiliki ‘konsen’ di tema ini adalah Imam Junaid Al-Baghdadi.

Konon, Imam Al-Junaid sempat menulis sebuah karya berjudul “Tashih al-Iradah fi Adab as-Shuhbah”. Sayangnya kitab ini -hingga kini- masih belum ditemukan.

Meski demikian, ada beberapa poin yang dapat diambil dari dawuh-dawuhnya Imam Junaid tentang etika persahabatan. Sekurangnya ada sembilan etika:

Pertama, izin persahabatan

Tidak nyelonong pergi tanpa izin. Sebagaimana Nabi Musa yang mula-mula memohon izin kepada Nabi Khidir untuk menjadi karibnya. Etika ini tidak hanya berlaku bagi guru-murid, melainkan berlaku bagi sesama sahabat. Nabi Musa meminta izin untuk membersamai Nabi Khidir, lalu Nabi Khidir mengizinkan dengan syarat; tidak banyak bertanya. Pada saat Nabi Musa bertanya (memprotes) tindakan yang dilakukan oleh Nabi Khidir, maka Nabi Khidir meninggalkan Nabi Musa. Dan, demikian juga bila kita menemukan sahabat yang sering kali tidak seirama maka sudah selayaknya untuk meninggalkannya.

Kedua, kasih sayang

Allah SWT berfirman: “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa dalam persahabatan yang baik adalah menunjukkan adanya kasih sayang.

Ketiga

Tidak menjelekkan sahabatnya dengan menunjukkan sesuatu yang tidak disukainya; Imam Junaid berkata: Ketika kamu memiliki sahabat, maka hendaknya janganlah melakukan sesuatu yang dibencinya.Semisal, membuka aibnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *