SEKILAS KISAH NABI ADAM DAN NABI SIS

SEKILAS KISAH NABI ADAM DAN NABI SIS

Adam di turunkan di India, palebah Himayala, pami Ibu Hawa di Arab”

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ
وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

1. Nabi Adam Alahi salaam (Sanghyang Janmawalijaya/Sanghyang Adhama) Usia 960 Tahun.

a. pertama kali sareat shalat subuh 2 rakaat diturunkan kepada Nabi Adam Alahi Salaam
b. Beristeri Dengan Siti Hawa (Dewi Janmawanujawa/Sang Dewi Kawahnya)

Dimanakah Nabi Adam Diturunkan?

Hadits-hadits yang menguatkan teori Nabi Adam AS, diturunkan di Al Hind.

1. Dari Qatadah RA, beliau berkata bahwa: “Allah SWT meletakkan Baitullah (di bumi) bersama Nabi Adam AS. Allah SWT telah menurunkan Nabi Adam AS di bumi dan tempat diturunkannya adalah di tanah AL HIND. Dan dalam keadaan kepalanya di langit dan kedua kakinya di bumi, lalu para malaikat sangat memuliakan Nabi Adam as, kemudian Nabi Adam AS pelan-pelan berkuranglah tinggi beliau.” (H.R Musonif Abdur Razaq)

2. Dari Ibnu Abbas RA, telah berkata: “Sesungguhnya tempat pertama di mana Allah SWT turunkan Nabi Adam AS di bumi adalah di AL HIND”. (H.R Hakim)

3. Dari Ali RA, telah berkata: “Bumi yang paling wangi adalah tanah AL-HIND, di sanalah Nabi Adam AS diturunkan dan pohonnya tercipta dari wangi surga.” (Kanzul Ummal).

4. Dari Ibnu Abbas RA, telah meriwayatkan Ali Bin Abi Thalib RA telah berkata : “Di bumi tanah yang paling wangi adalah tanah AL HIND (karena) Nabi Adam AS telah diturunkan di AL HIND, maka pohon-pohon dari AL HIND telah melekat wangi-wangian dari surga.” (HR. Hakim)

5. Dari Ibnu Abbas RA telah berkata bahwa jarak antara Nabi Nuh AS dengan hancurnya kaumnya adalah 300 tahun. Dari tungku api (tannur) di AL HIND telah keluar air dan kapalnya Nabi Nuh AS berminggu-minggu mengelilingi Ka’bah. (H.R.Hakim). Riwayat ini penting karena kita telah tahu bahwa Nabi Nuh kemungkinan besar berasal dari Sundaland.

6. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA mengatakan bahwa seorang Raja dari AL HIND telah mengirimkan kepada Nabi Muhammad SAW sebuah Tembikar yang berisi Halia. Lalu Nabi SAW memberi makan kepada sahabat–sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi SAW pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu. (HR. Hakim)

7. Dari Ali RA berkata bahwa dua lembah yang paling baik di kalangan manusia adalah lembah yang ada di MAKKAH dan lembah yang ada di AL HIND, di mana Nabi Adam AS diturunkan. Di dalam lembah itu ada satu bau yang wangi, yang darinya bisa membuat kamu jadi wangi.

8. Dari Ibnu Abbas RA meriyawatkan dari Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa Sesungguhnya Nabi Adam AS telah pergi haji dari AL HIND ke Baitullah sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki tanpa pernah naik kendaraan walau sekalipun. (HR. Thabrani). Mengapa? Karena dulu tanah AL HIND dan ARAB adalah satu daratan.

9. Dari Ubay bin Ka’ab RA mengatakan: “Saya berkeinginan untuk keluar di jalan Allah ke AL HIND”. Ubay bin Ka’ab RA bertanya kepada Hasan RA: “Berilah saya nasihat!”. Hasan RA berkata: “Muliakanlah perintah Allah dimanapun kamu berada maka Allah akan memuliakan kamu.” (H.R. Baihaqi fii Syu’bul iman)

Baca juga:  PERTEMUAN SUNAN KALIJAGA DENGAN NABI KHIDIR

1o. Dari Sauban RA dari Rasulullah SAW beliau bersabda: “Dua golongan dari ummatku yang diselamatkan Allah dari Neraka yaitu golongan yang berperang di AL HIND dan golongan yang berkumpul bersama Isa Alahis Salaam” (Riwayat Nasai dan Ahmad)

Jadi AL HIND disini adalah Nusantara dan bukanlah India yang seringkali banyak ditafsirkan orang. Bahkan justru India pada masa dahulu adalah bagian kecil dari wilayah AL HIND atau sekarang Indonesia (sundaland Nusantara).

Namun ini hanya teori yang masih banyak harus ditahkik. Akan tetapi FAKTANYA adalah, di dunia ini, di manakah yang paling banyak penghasil kayu wangi? Gaharu, Kemenyan, Cendana, kayu manis dan kayu-kayu wangi lainnya? Dan negara manakah penghasil gaharu di dunia?

Wartawan atau budayawan atau pengembara yang ingin melakukan perjalanan untuk tujuan menulis reportase yang menarik, sebaiknya berkaca kepada Empu Prapanca dan Bujangga Manik. Mereka adalah “wartawan purba” yang mengajari prinsip-prinsip jurnalisme yang hebat, yang mencatat secara teliti hampir semua aspek yang ditemui dalam perjalanannya, sehingga ratusan tahun kemudian—di zaman kini—kita dapat dengan jelas merasakan dan memahami apa yang terjadi di zaman dulu, zaman yang dikisahkan oleh dua “jurnalis pioner” itu.

Kalau Prapanca mencatat kondisi Jawa (plus Nusantara) pada abad 13 dan 14 M, maka Bujangga Manik mencatat kondisi Jawa dan Bali pada abad 15 dan 16 M menjelang menyebarnya agama Islam oleh jasa para Wali. Sejarah Jawa sudah sangat lama, namun jangan khawatir, pencatatan sejarah Jawa paling lengkap justru bukan dilakukan oleh bangsa asing seperti yang anda-anda duga dan yakini selama ini.

Pencatatan paling lengkap justru oleh pujangga kuno asli Nusantara dalam KITAB BABAD TANAH JAWI. Dan jika selama ini, kitab tersebut kita tertawakan dan kita hina, justru para sarjana barat, terutama sarjana mutakhir, seperti Prof.Dr. Arysio Santos dan Prof. Dr. Stephen Oppenheimer justru mengakui keabsahan KITAB-KITAB KUNO JAWA.

SEJARAH JAWA VERSI BABAD TANAH JAWI

Kitab “Babad Tanah Jawi” banyak dikutip oleh Kitab-kitab turunannya, misalnya : “Kitab Pustaka Raja Purwa”,“Serat Paramayoga”, “Serat Kandha”, “Serat Jitapsara” dan sebagainya.

Kitab-kitab tersebut menyebutkan bahwa Nabi Adam memiliki anak 40 pasang kembar dampit ditambah 2 yang tidak lahir secara kembar. Yang laki-laki Sayidina Sis, sedang yang perempuan Siti Hanun. Diceritakan bahwa nabi Adam berkehendak menjodohkan anak-anak kembar dampitnya dengan cara silang. Namun Siti Hawa, isterinya, menentang dan ingin menjodohkan anak kembar dampitnya dengan pasangan masing-masing.

Alasannya sudah merupakan ketentuan takdir dijodohkan sejak dalam kandungan. Dari silang sengketa antara Adam dan Hawa tersebut kemudian sama-sama marah dan sama-sama mengeluarkan rahsa yang diterjemahkan sebagai darah. Ki Sondong Mandali sendiri menterjemahkan sebagai “dayaning urip” (daya hidup).

Rahsa tersebut kemudian ditempatkan dalam cupumanik (cupu = wadah, manik = inti) dan sama-sama dipanjatkan doa. Rahsa dalam cupumanik Nabi Adam berubah menjadi orok bayi namun hanya ragangan, atau tubuh yang belum bernyawa. Atas kemurahan kodrat dan iradat Allah, bayi yang ada pada cupumanik milik Nabi Adam menjadi lengkap perwujudannya sebagai manusia yang sempurna, kemudian cahaya nurbuwah (kenabian) yang ada di badan Nabi Adam berpindah ke dalam tubuh bayi hingga dapat hidup sempurna.

Adam mendapatkan bisikan dari Allah agar bayi tersebut dinamakan Sayidina Sis (Nabi Sis) alias Seth atau Set-yang dalam Jitapsara (Kitab susunan Begawan Palasara, Jawa) disebut Sang Hyang Sita. Nabi Adam memanjatkan syukur kepada Allah dan menjalankan bisikan gaib tersebut dan bayi digendongnya. Tiba-tiba datang badai (angin ribut) yang ikut menerbangkan cupu tempat bayi hingga jatuh di tengah Samudera Hijau dan diterima malaikat Ngazazil. Malaikat Ngazazil atau Ajajil ini nantinya akan berubah menjadi Iblis.

Baca juga:  MATAHARI DITAHAN TERBENAM UNTUK NABI YUSYA' BIN NUN ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ

Cerita tersebut di atas secara samar-samar telah menjelaskan bagaimana Adam (dalam pengertian “ilahi” sebagai Hyang Adhama, Atman, Dzat Sejatining Urip) beremanasi atau bertajalli / mewujud menjadi Sang Hyang Sita (Nabi Sis). Jelasnya, kelahiran Sang Hyang Sita (Nabi Sis) bukan melalui proses biologis antara Adam dan Hawa. Namun oleh sebab keluarnya rahsa atau “dayaning urip” dan atas kemurahan kodrat dan iradat Allah.

Namun diambil logikanya saja, Viddy Ad Daery menyimpulkan, Nabi Sis adalah keturunan Nabi Adam hasil pernikahan dengan Siti Hawa dalam wujud istimewa, disebut-sebut Nabi Sis itu mempunyai sifat dan fisik mirip Nabi Adam, dan bahkan segalanya mirip Nabi Adam, terutama dari segi kecerdasan dan kebijaksanaannya.

Nabi Sis mendapatkan jodoh dari Allah berupa bidadari bernama Dewi Mulat. Malaikat Ngazazil mengetahui dan mendengar bahwa kelak di kemudian hari keturunan Adam akan sangat dikasihi Allah.

Maka Ngazazil selalu berdoa kepada Allah dan selalu berupaya agar keturunan Adam dan keturunannya bisa menyatu. Maksudnya, agar dirinya dapat menurunkan raja-raja bagi manusia. Doa Ngazazil dikabulkan, kemudian anaknya, Dlajah atau Dajjal, dibuat mirip dengan Dewi Mulat untuk menggantikan isteri Nabi Sis tersebut. Sedang Dewi Mulat disembunyikan. Setelah Ngazazil mengetahui nutfah Nabi Sis (Sang Hyang Sita) jatuh di telanakan (rahim) Dlajah, maka cepat-cepat Dlajah dibawa pulang ke kahyangannya dan Dewi Mulat dimunculkan kembali.

Dewi Mulat melahirkan anak kembar pada waktu julungwangi atau saat matahari terbit. Yang satu berwujud bayi laki-laki dan yang satunya berwujud Cahya (Nur).

Pada waktu yang sama Dlajah juga melahirkan, tepat saat julung pujut atau saat matahari tenggelam. Yang dilahirkan Dlajah berwujud Asrar (rahsa) yang berkilauan memancarkan cahaya laksana embun pagi di daun talas. Selanjutnya Asrar tersebut dibawa Ngazazil ke Kusniyamalebari dan dipersatukan dengan anak Nabi Sis dengan Dewi Mulat yang berwujud Cahya (Nur).

Kemudian berubah menjadi laksana bayi laki-laki yang masih diliputi cahaya dan tidak dapat dipegang. Kakek bayi-bayi tersebut, Nabi Adam (Hyang Adhama), memberi nama Anwas (Nasa, dalam Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud bayi laki-laki (dari Dewi Mulat) dan Anwar (Nara, dalam Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud cahya (persatuan antara anak Dewi Mulat dan anak Dlajah).

Sayid Anwas tekun beribadah kepada Allah SWT., sedang Sayid Anwar gemar bertapa dan berkelana hingga bertemu dengan Malaikat Ngazazil , kakeknya, dan berguru kepadanya. Sayid Anwar mendapatkan berbagai ilmu kesaktian. Bisa berubah sebagai laki-laki atau perempuan, bisa menghilang dan kasat mata (tidak bisa diindera). Juga bisa terbang ke angkasa dan masuk ke perut bumi. Viddy Ad Dery menyimpulkan, bahwa Sayid Anwar adalah seorang liberalis atau menghalalkan segala cara.

Ketika Sayid Anwar pulang dan bertemu Nabi Adam, maka kakeknya melihat berubahnya perilaku cucunya itu. Nabi Adam paham bahwa perubahan itu dikarenakan ulah Ngazazil dan berkata kepada Nabi Sis, bahwa kelak Sayid Anwar akan murtad dari ajaran agama yang dipeluk kakek dan ayahnya.

Kitab Paramayoga tidak secara jelas menguraikan tentang malaikat Ngazazil dan bagaimana ceritanya bisa punya “anak” bernama Dlajah. Di sinilah “kehalusan” pujangga Jawa dalam menukil ajaran Islam tentang Allah Swt. dan Malaikat.

Para pujangga Jawa menghormati ketauhidan Islam dengan menempatkan Allah Swt. pada wilayah “tan kena kinaya ngapa”. Serta tetap membuat misteri tentang posisi Malaikat. Secara samar-samar memposisikan kesetaraan Malaikat dengan Hyang Adhama, sehingga disebutkan bahwa Malaikat Ngazazil berkehendak ikut menurunkan raja-raja penguasa manusia. Secara tersirat menyatakan bahwa Malaikat (sebagai Kuasa Allah) ikut mengatur “uriping manungsa”. Maksudnya, ikut terlibat dalam proses beremanasinya Dzat Sejating Urip selanjutnya.

Namun Viddy Ad Daery lebih suka melogik-kan kisah ini, karena toh bisa dilogik-kan, kalau kita mempretheli “kisah-kisah mistis”nya.

Baca juga:  Kemanakah Perginya Air Bekas Memandikan Jenazah Rasulullah?

Kisah Nabi Adam dan Sis

Di dalam Taman Surga lahir seorang manusia yang diberi nama Adam. Ketika Tuhan memilihnya sebagai khalifah, para malaikat yang dipimpin Ajajil mengajukan keberatan karena umat manusia mereka anggap hanya bisa berbuat kerusakan saja. Maka, Tuhan pun mengajari Adam berbagai macam ilmu pengetahuan yang membuatnya mampu mengalahkan kepandaian para malaikat.

Di hadapan para malaikat, Tuhan menguji kepandaian Adam. Para malaikat akhirnya mengakui keunggulan Adam. Tuhan kemudian memerintahkan semua malaikat untuk bersujud menghormat kepadanya. Para malaikat serentak bersujud melaksanakan perintah Tuhan, kecuali makhluk bernama Ajajil. Dialah yang nantinya dikutuk menjadi “Iblis”.

Ajajil menolak bersujud kepada Adam karena baginya hanya Tuhan semata yang pantas disembah. Meskipun mengajukan berbagai alasan, tetap saja Ajajil dianggap sebagai pembangkang. Ajajil kemudian dikeluarkan dari Taman Surga dan dijuluki sebagai Sang Iblis.

Nabi Adam kemudian menikah dengan wanita pilihan Tuhan yang bernama Hawa. Keduanya diizinkan menikmati segala macam isi Taman Surga kecuali buah dari sebuah pohon larangan.

Sementara itu Ajajil Sang Iblis datang menyusup ke dalam Taman Surga dengan menyamar sebagai seekor ular. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa Adam tidak sempurna dan bisa dikalahkan. Melalui kepandaiannya berbicara, ular samaran Ajajil berhasil menghasut Adam dan Hawa sehingga keduanya memakan buah pohon larangan tersebut. Mengetahui hal itu, Tuhan pun menghukum pasangan tersebut keluar dari Taman Surga.

Adam kemudian membangun tempat tinggal baru di daerah Asia Barat Daya bernama Kerajaan Kusniyamalebari. Setelah memimpin selama 129 tahun, barulah Adam dan Hawa memiliki keturunan. Setiap kali melahirkan mereka mendapatkan putra dan putri sekaligus. Putra yang tampan lahir bersama putri yang cantik, sedangkan putra yang jelek lahir bersama putri yang jelek pula.

Setelah lahir lima pasangan, Adam dan Hawa berniat menikahkan putra dan putri mereka itu. Adam memutuskan untuk menikahkan putra yang tampan dengan putri yang jelek, serta sebaliknya. Sementara itu, Hawa mengusulkan agar putra yang tampan dinikahkan dengan putri yang cantik, serta putra yang jelek dengan putri yang jelek, sesuai pasangan kelahiran masing-masing.

Adam dan Hawa sama-sama saling mempertahankan pendapat. Keduanya sepakat mengeluarkan rahsa untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Atas kehendak Tuhan, rahsa milik Adam tercipta menjadi bayi namun hanya berwujud ragangan, sementara rahsa milik Hawa tetap berwujud darah. Menyaksikan hal itu Hawa pasrah terhadap keputusan Adam.

Beberapa waktu kemudian, cahaya nubuwah Adam keluar dari dahinya dan berpindah pada tubuh ragangan bayi tersebut. Akibatnya, ragangan bayi itu hidup menjadi bayi normal. Tuhan memberi petunjuk supaya bayi tersebut diberi nama Syits, di mana kelak ia akan menurunkan para pemimpin dunia. Adam sangat bersyukur dan membawa bayi Syits pulang.

Setelah Adam pergi, cupu yang tadinya digunakan sebagai wadah rahsa terhempas oleh angin kencang sehingga jatuh di dekat Samudera Hijau. Cupu tersebut ditemukan oleh Malaikat Ajajil dan disimpannya sebagai pusaka, dan diberi nama Cupumanik Astagina.

Beberapa tahun kemudian Syits tumbuh menjadi manusia istimewa yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Selain memiliki lima pasang kakak, Syits juga memiliki 35 pasang adik dan seorang adik perempuan yang lahir tanpa pasangan bernama, Siti Hunun.

Pada suatu hari Nabi Adam mengutus Nabi Syits untuk mengambil buah di Taman Surga. Nabi Syits berhasil memasuki tempat tersebut dan mendapatkan buah yang diinginkan ayahnya. Selain itu, Syits juga mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa seorang bidadari bernama Dewi Mulat.

Syits kemudian menikah dengan Mulat. Keduanya hidup berumah tangga di negeri Kusniyamalebar.( Wallahu alam bishowaf)

Tags: #Nabi #Nabi Adam

BURUNG PERKUTUT, “SANTRI” PERTAMA NABI ADAM AS
BURUNG PERKUTUT, “SANTRI” PERTAMA NABI ADAM AS Sebuah kisah, sempat mimin dapatkan waktu
KISAH NABI AYUB YANG PENUH DERITA
KISAH NABI AYUB Nabi Ayub as menggambarkan sosok manusia yang paling sabar, bahkan
PEMUDA YANG TERTIDUR 309 TAHUN
Ashabul Kahfi adalah kisah tentang sekelompok pemuda beriman yang tertidur lelap di dalam
KISAH MUKJIZAT NABI IDRIS
KISAH NABI IDRIS AS DAN MUKJIZAT NABI IDRIS. Ketika Nabi Syits telah beranjak

Leave a reply "SEKILAS KISAH NABI ADAM DAN NABI SIS"