Ruh Manusia Tidak Terpisah Dengan Tuhan

Ruh manusia tidak terpisah dengan Tuhan, ia ibarat matahari dengan cahayanya”. Hubungan antara Allah dengan roh manusia tidak terpisahkan. “Hubungan antar keduanya bisa terganggu apabila roh manusia dipengaruhi oleh tarikan material yang ada pada diri manusia”, yaitu tarikan (hawa) dari jasad/jasmaniah yang selalu tunduk pada sifat-sifat alam materi.

Imam al-Ghazali sebagai seorang hujjatul islam dalam berbagai karyanya, mengatakan bahwa yang menjadi hakikat manusia itu adalah rohnya. Tubuh atau jasad bukanlah hakikat manusia, karena tubuh adalah sesuatu yang terus berubah-ubah dan tubuh atau jasad tidak membedakan manusia dari makhluk lain seperti tumbuhan dan hewan.

Yang dimaksud dengan hakekat disini adalah sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu identitas esensial membedakannya dari yang lainnya.

Setelah roh berada/bersama jasad manusia Allah memanggil/ menyebutnya dengan nama “An-Nafs”. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Asy-Syams ayat 7-8 :
Artinya : “7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. asy-Syams : 7-8)
Panggilan atau sebutan lain terhadap roh yang sudah ditiupkan ke dalam jasad/ jasmani tersebut adalah “qalb”, seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 10 yang berbunyi :
Artinya : “dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Q.S. al-Baqarah : 10)

Baca juga:  Jalan Menuju Khorqul-awaa’id

Sebagaimana nama lain dari An-Nafs, maka Al-Qalb juga merupakan nama dari roh yang merupakan hakikat manusia itu sendiri, seperti dijelaskan dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : “Ingatlah dalam tubuh manusia ada segumpsl darah, apabila baik maka akan baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak maka rusaklah seluruhnya, itulah dia hati.”

Tags: #al-Ghozali #makrifat

Leave a reply "Ruh Manusia Tidak Terpisah Dengan Tuhan"