ROSULULLAH BURAQ DAN SYEH ABDUL QODIR JAILANI

Syaikh Rosyidin Al-Junaidi meriwayatkan, pada malam Mi’raj, malaikat datang menghadap Rasulullah SAW. sambil membawa buroq. Tampak sekali kaki buroq itu bercahaya laksana bulan, dan paku kasut telapak kakinya bersinar seperti sinar bintang.

Dikala buroq itu dihadapkan kepada Rasulullah SAW., ia tidak bisa diam dan kakinya bergoyang-goyang seperti sedang menari. Rasulullah SAW. bertanya “Mengapa kamu tidak diam? Apakah kamu menolak untuk kutunggangi?”. Buroq berunjuk sembah: “Tidak, demi nyawa yang menjadi penebusnya, saya tidak menolak, namun ada suatu permohonan, nanti pada waktu Rasulullah SAW. akan masuk surga, jangan menunggangi yang lain selain saya sendiri yang menjadi tunggangannya.
“Rasulullah SAW. menjawab: “baik, permintaanmu akan kukabulkan “. Buroq masih mengajukan permohonannya: “Ya Rasulallah, saya mohon agar tangan yang mulia memegang pundakku untuk tanda bukti nanti pada hari kiamat”. Lalu dipegangnya pundak buroq itu oleh Rasulullah SAW. Karena gejolak rasa gembira sehingga jasad buroq itu tidak cukup untuk menampung ruhnya, sehingga naiklah badannya membumbung tinggi keatas setinggi empat puluh hasta tinggi badannya. Rasulullah berdiri sebentar melihat badan buroq itu menjadi naik keatas sehingga terpaksa Rasulullah SAW. mencari dan memerlukan tangga.

Baca juga:  Memaknai Tembang Ilir-ilir secara Tasawuf

Sementara itu, tiba-tiba datanglah ruh Ghoutsul A’dhom Syaikh Abdul Qodir Jailani mengulurkan bahunya sambil berkata: “Silahkan bahuku diinjak untuk dijadikan tangga”. Lalu Rasulullah memijakkan kaki beliau pada bahu Syaikkh, dan ruh itu mengantarkan telapak kaki Rasulullah SAW. untuk menunggangi buroq. Di saat itu Rasulullah SAW. bersabda: “Telapak kakiku menginjak bahumu, dan telapak kakimu nanti akan menginjak bahunya Para Wali Allah.

Dan Diriwayatkan lagi dalam kitab Roudhotun Nadhirin fii Manaqibi As-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pada masa periode keenam dari zaman Abi Ali Al-Hassan As-Sirri, sampai pada masa kelahiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, tidak ada seorang ‘alim ulama, kecuali pada umumnya mereka membicarakan tentang keagungan pangkat kewalian Beliau dan akan menginjak bahu Para Wali Allah.

Para ‘alim ulama itu menerima isi dari pengumuman tersebut, kecuali seorang wali dari kota Asfahan ia menolak isi dari pengumuman itu. Dengan adanya penolakan tentang kewalian Syaikh, paada saat itu juga gugurlah ia dari pangkat kewaliannya.

Hampir 300 tahun lagi Syaikh Abdul Qodir akan lahir, kedudukan pangkat kewaliannya sudah masyhur dikenal masyarakat.

Baca juga:  Abu Yazid al Busthomi Riyadloh Yang Sangat Keras

Dan Diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu al-Izz ‘Abd al-Mugtis bin Harb al-Baghdadi beserta banyak lagi lainya, “Kami menghadiri majelis Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Di ruang tamu beliau banyak sekali para Syaikh dan wali yang mengikuti majelis beliau waktu itu. Ada sekitar kurang lebihnya empat puluh tujuh para Syaikh, dan masih banyak lagi yang berada dalam majelisnya. Ketika Syakh ‘Abdul Qadir al-Jailani berbicara, tampak sekali hati beliau dalam keadaan kesadaran penuh, yakni ketika beliau menyatakan, “Kakiku Berada di Atas Bahu Para Wali Allah.” .
Syaikh ‘Ali bin al-Haiti melangkahkan kakinya saat itu juga, lalu naik beberapa langkah ke mimbar Sang Syaikh, dimana kemudian dia memegang kaki Sang Syaikh dan meletakkannya di atas bahunya sembari memposisikan kepalanya di bawah keliman jubah Syaikh. Semua yang hadir di situpun membungkuk seperti yang dilakukan oleh Syaikh al-Haiti. Dan tidak ada satupun seorang Wali Allah di muka bumi ini yang pada saat itu tidak menundukkan bahunyanya sebagai pengakuan tulus terhadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, serta sebagai penghormatan kedudukan ruhani beliau yang khusus.
Ada 300 auliya’ Allah dan 700 rijaul ghaib yang hadir di majelis itu. Bahkan kumpulan para jin berkumpul pada saat itu. Para jin shalih tersebut keluar dari segala penjuru cakrawala demi menghormati pernyataan beliau tersebut. Mereka mengucapkan selamat kepada Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan menunjukkan laku taubat melalui tangan beliau.
Syaikh al-Makarimi menyatakan, “Pada hari itu, seluruh Wali Allah tahu, bahwa panji kesultanan wali telah tertancapkan di sisi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Semua wali dari timur hingga barat serentak membungkukkan badan mematuhi pernyataan beliau ini.”
Sayyid Syaikh Khalifatul Akbar berkisah, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. tercinta, dan aku bertanya kepada beliau tentang pernyataan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tersebut. Rasulullah SAW. Menjawab, “Abdul Qadir al-Jailani telah mengatakan hal yang sebenarnya, karena dia sang Quthb, dan dia kuberikan tempat di bawah sayapku dan dalam perlindunganku.

Baca juga:  Suluk Linglung Wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga

Ya Allah….., Hamparkanlah bau harum keridloanMu kepada Syaikh Abdul Qadir, Dan anugerahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang engkau titipkan kepada Syaikh Abdul Qadir. Amin Ya Mujibas Sailiiin

Tags: #Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani #Rosullulah

Leave a reply "ROSULULLAH BURAQ DAN SYEH ABDUL QODIR JAILANI"