KAROMAH AL QUTB AL HABIB HUSEIN BIN ABUBAKAR AL AYDRUS (LUAR BATANG)

Diposting pada
4. Menjadi Imam di Penjara.

Dalam masa sekejap telah banyak orang yang datang untuk belajar islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan mengganggu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan dimasukkan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan seksi dua.
Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain. Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin sholat bersama-sama pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luarpun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan terkunci.
Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur.

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Di saat mereka beristirahat; lewatlah seorang sinyo ( anak Belanda ) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakkan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si sinyo kaget dan berlari kea rah pembantunya.. Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi pembesar di negeri ini. Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia dipercaya & diangkat menjadi Gubernur Batavia.

Baca juga:  Kyai Ini ‘Sulap’ Wanita Jadi Hafidzoh Qur’an
6. Cara berkirim uang.

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein, bahwa kelak akan menjadi orng besar di negeri ini, ternyata benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan, diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa habib Husein..
Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya. Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya kelaut. Gubernur yang memberi uang jadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya di buang ke laut. Di jawab oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman. Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut.
Walhasil tak satu keping uangpun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.
Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang dibuang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang.

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya :
“Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.”
Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkannya sebidang tanah di kampong baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir. Habib Husein telah dipanggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis, tanggal 17 Ramadhan 1169 H atau bertepatan tanggal 27 juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang,

Baca juga:  300 RAJA JIN BERGURU PADA WALI INI

Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husein diusung dengan kurung batang ( keranda ). Ternyata sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenazah Habib Husein kembali berada di tempat semula. Dalam bahasa lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud. Namun demikian jenazah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.
Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “ Kampung baru Luar Batang.” Dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

( Dikutip dari buku Riwayat singkat & karomah Al-Habib Husein bin Abu Bakar Al-aydrus, Penulis : Sayyid Abdullah bin Abu Bakar Al-aydrus )

Keterangan: Lukisan Foto Habib Husein Bin Abubakar Alaydrus. Sumber : Museum Leiden Belanda.