PETUALANGAN BALUQIYA DAN NABI KHIDIR MENJELAJAHI BUMI

Diposting pada

Keanehan demi keanehan, Baluqiya mencoba terbiasa dgn lingkungan yg dihadapinya. Semangat untuk bertemu Muhamad sangat menggebu2. Hingga akhirnya Baluqiya tiba di gunung Qaf.

Gunung itu terbuat dari yakut hijau. Ia mengelilingi dunia seluruhnya. Karena pancaran sinar gunung tsb, langit terlihat berwarna biru. Allah menugaskan penanganan gunung ini kepada seorang malaikat. Apabila Allah hendak mengguncangkan sebagian bumi.

Dia memerintahkan malaikat tsb untuk menggerakkan lapisan yg tersambung dari belahan bumi tsb ke gunung Qaf. Apabila Allah hendak menenggelamkan sebuah desa beserta isinya, maka Dia mengizinkan kepada malaikat itu untuk memotong lapisan kampung tsb dari bumi. Baluqiya bertanya kepada malaikat itu, “Apa yg ada di belakang gunung ini?”

“Di belakang gunung ini ada 40 ribu kota selain kota2 dunia. Kota itu terbuat dari emas dan perak. Tidak ada siang dan malam. Penduduknya adalah para malaikat yg tidak pernah lelah bertasbih kepada Allah,” jawab sang malaikat.

Baluqiya kembali bertanya, “Apa di belakang kota2 itu?” Dia menjawab,” Di belakangnya ada 70 ribu hijab (penghalang). Setiap hijab besarnya seukuran dunia. Tidak ada seorang pun yg mengetahui di balik hijab itu, kecuali Allah.”

Baluqiya pun meninggalkan malaikat itu. Dia melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sebuah gunung. Di sana ada malaikat2 yg rupa mereka seperti Kijang. Baluqiya mengucapkan salam kepada mereka, mereka pun membalasnya. Baluqiya bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

“Kami adalah sebagian malaikat Allah. Di sini kami beribadah kepada Allah semenjak kami diciptakan,” jawab si malaikat.

Lalu Baluqiya bertanya kepada mereka tentang gunung besar yg menghadap kepada mereka, yg menyinarkan cahaya seperti matahari. Lalu malaikat menjawab, “Itu adalah gunung dunia yg terbuat dari emas. Semua logam emas yg ada di bumi bersumber darinya.”

Baluqiya meninggalkan mereka. Dia melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sebuah laut yg luas. Di sana ada dua ikan yg sangat besar. Dia mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka pun membalasnya. Keduanya bertanya kepada Baluqiya, “Siapa engkau, hai makhluk Allah?”

“Aku Baluqiya, dari Bani Israil. Aku datang dalam rangka mencari Muhammad, penutup para nabi. Apakah kalian memiliki sesuatu yg bisa aku makan,” tanya Baluqiya. Atas izin Allah, kedua ikan itu memberinya roti. Dimakannya roti itu dan setelahnya Baluqiya tidak merasa lapar lagi.

Selanjutnya, dia sampai ke sebuah jazirah. Di sana Baluqiya melihat seekor burung yg sangat besar, indah rupanya dan memiliki sesuatu yg bisa membuat akal tercengang karena keindahannya. Burung itu ada di atas sebuah pohon yg di bawahnya ada hidangan yg di atasnya ada ikan yg dipanggang. Baluqiya mendekati burung itu, mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa engkau?”

“Aku adalah salah satu malaikat yg ada di surga. Aku diutus oleh Allah mengirim hidangan ini kepada Adam dan Hawa ketika keduanya berkumpul di Gunung Arafah. Keduanya telah menyantap sesuatu darinya. Lalu Allah menyuruhku untuk meletakkan hidangan tsb disini dan aku berdiam diri di dekatnya hingga hari kiamat,” kata si burung itu

Baca juga:  KISAH KETIKA ROSULULLAH MASIH DALAM KANDUNGAN

Dia juga memerintahkanku untuk memberikan sesuatu kepada orang yg datang kesini. Maka Baluqiya memakan sesuatu dari hidangan itu. Akan tetapi tak sedikitpun hidangan itu berkurang. Hidangan itu seperti kembali keadaannya semula.

Baluqiya bertanya kepada sang burung tentang hidangan itu. Ia menjawab, “Sesungguhnya makanan dunia akan berkurang dan berubah bila didiamkan. Sementara makanan surga tidak akan pernah berkurang dan berubah.”

“Apakah ada seseorang yg pernah memakan hidangan ini?” tanya kembali Baluqiya.

“Sudah! Sesungguhnya Khidir Abdul Abbas, terkadang datang ke sini dan memakan hidangan ini. Setelah itu dia pergi lagi,” jawab si burung. Mendengar itu Baluqiya memutuskan diri tinggal di tempat untuk bertemu Khidir, berkumpul bersamanya dan menanyakan berbagai hal kepadanya.

Pada suatu hari, ketika Baluqiya sedang duduk, tiba2 Nabi Khidir AS mendatanginya dgn mengenakan pakaian putih. Baluqiya berdiri menyambut dan mengucapkan salam kepadanya. Khidihr membalasnya. Baluqiya berkata, “Wahai Abdul Abbas (Khidir), aku telah berpergian dalam rangka mencari Nabi akhir zaman hingga akhirnya aku sampai ke tempat ini. Aku diam di sini menunggu kedatanganmu agar engkau memberitahuku tentangnya.”

“Hai Baluqiya, sesungguhnya nabi akhir zaman tidak akan muncul saat ini, dan engkau tidak akan bertemu dgnnya sekarang ini,” balas Khidir.

“Hai Baluqiya, tahukah engkau berapa jarak antara kamu dgn ibumu?” tanya Khidir kembali. Baluqiya menjawab, “Tidak tahu.” Khidir berkata, “Jaraknya adalah jarak tempuh 50 tahun.”

“Maukah aku letakkan kamu di hadapan ibumu?” kata Khidir. Baluqiyah mengiyakan dan Khidir menyuruhnya untuk memejamkan mata.

Baluqiya berkata, “Aku pejamkan kedua mataku. Aku tidak tahu apa2 kecuali ibuku telah ada di sampingku. Aku buka kedua mataku, lalu aku mengucapkan salam kepada ibuku dan mengatakan kepadanya.”

Kedatangan Baluqiya, membuat ibunya terkejut. Pasalnya, ibunya melihat seekor burung putih telah membawa Baluqiya kembali ke sini. Lalu burung itu menghilang dgn cepat.

Sejak peristiwa itu, Baluqiya menceritakan semua kisahnya kepada ibunya. Kemudian dia pergi kepada Bani Israil dan juga menceritakan hal yg dialami selama perjalanan.

Dia ceritakan kepada Bani Israil dan semua keajaiban yg dilihatnya. Perkataan Baluqiya selama menempuh perjalan puluhan tahun juga diabadikan oleh Bani Israil dalam sebuah catatan. Menurut sebuah riwayat, Baluqiya berumur seribu tahun.

Kisah Baluqiya ini cukup masyhur. Mampukah kisah masa lalu itu akan membawa kita kepada fakta sains atau pemahaman baru perihal rahasia lain dari bumi. .

Wallahu a’alam.

Kitab Bada’i al-Zuhur Fi Waqa’i al-Duhur – Karangan Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *