Doa, nama islami
Doa

Perbedaan Wirid dan Dzikir, Terletak pada Waktu dan Tujuan

Diposting pada

Doa-doa ini terdapat dalam Al-Quran seperti doa sapu jagad (robbana atina dan seterusnya), atau doa iktirof (robbana dzolamna anfusana dan seterusnya).

Dalam hadits Nabi kita bisa membaca berbagai macam doa di dalam karya Al-Imam An-Nawawi Ad-Dimasyqi yakni Al-Adzkar An-Nawawiyah.

2. Ghoir Ma’tsur, wirid ini hasil racikan dan eksperimen namun substansinya tetap mengacu kepada Al-Quran atau hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam.

Hizib termasuk kategori ini, karena terdapat berbagai rahasia di balik hizib ini, maka perlu pembimbing atau mursyid yang berlisensi sekaligus berpengalaman.

Hizib ibarat obat yang diracik oleh para guru mursyid karena dosisnya yang khusus namun biasanya cukup berat, tidak dianjurkan bagi para pemula untuk mengamalkan tanpa bimbingan dan ijazah seorang Mursyid.

Ijazah

Ijazah yang dimaksud adalah perkenan untuk membaca suatu amalan wirid dengan tata cara yang ditentukan. Adalah suatu keharusan bagi pengamal wirid untuk mengijazahkan amalan yang mereka terima.

Ada 3 jenis ijazah :

1. Ijazah ‘Ammah ( umum ), jenis ini sangat gampang di jumpai.

Misalnya dari buku-buku doa yang menyampaikan informasi tentang bentuk suatu amalan wirid.

Atau pun dari suatu majelis yang memberikan ijazah untuk jamaahnya secara global.
Biasanya ijazah jenis ini tidak menyertakan jumlah hitungan dan sanadnya.

Contohnya seorang Kyai memberikan keterangan tentang faedah suatu sholawat, dan menyarankan membacanya agar mendapatkan faedah yang dimaksud.

Ijazah ‘ammah juga biasanya tidak melihat siapa yang menjadi pembacanya. Jadi siapapun bisa dan boleh mengamalkan wiridan tersebut.

2. Ijazah Khususiyah ( Khususon ),

Ijazah jenis ini lebih spesifik. Biasanya dilihat dari karakter sipengamal dan ijazah yang dikeluarkan.

Jenis wirid yang dikeluarkan juga lebih khusus. Misalnya Hizib atau Asma. Semua karakter amalan yang mengandung tingkat karakteristik lebih panas biasanya di ijazahkan secara hati-hati.

BACA JUGA:  INILAH YANG DIALAMI TUBUH KETIKA KITA DZIKIR

Ataupun suatu amalan yang notabene lebih ringan namun mempunyai tata cara khusus untuk sampai ke tingkat terbukanya Hijab atau keterkabulan Hajat si pengamal. Beberapa hal yang menyertai ijazah ini adalah adanya :

A. Sanad atau mata rantai mujiz

Sanad ini pun terbagi dua :

• Sanad Sughro
Ijazah ini mempunyai sanad yang tidak terlalu panjang. Mungkin hanya sebatas 3 orang sampai 5 nama, menyertakan Mujiz-nya.

• Sanad Kubro
Ijazah ini mempunyai sanad yang lebih lengkap dan panjang juga biasanya disertai dengan beberapa nama khusus yang berkaitan dengan isi amalan wirid tersebut. Misalnya nama dari beberapa penjaga ( baca : Khodam ayat ) yang menyertai amalan itu.

Untuk sanad yang seperti ini biasanya di punyai oleh Jama’ah Thoriqoh. Hanya saja tidak ada nama khodam ayat seperti dalam amalan hikmah.

B. Hitungan atau jumlah
Untuk hitungan pun, ijazah jenis ini lebih disiplin. Sang Mujiz biasanya menyertakan sejumlah bentuk hitungan dalam bacaan tersebut.

Ada hitungan ringan untuk harian yang terbagi menjadi 3 waktu dan hitungan darurat.

Sebagai contoh pembagiannya seperti dibawah ini :

Hitungan Harian

• Hitungan ringan.
Wirid yang dibaca dalam satu waktu dalam sehari diwaktu tertentu. Misalnya ayat Qursyi yang dibaca 3 kali saat waktu maghrib.

• Hitungan sedang.
Wirid yang dibaca 2 kali dalam waktu tertentu. Misal ayat Qursyi dibaca 3 kali saat waktu maghrib dan shubuh.

• Hitungan berat.
Wirid yang dibaca setiap ba’da sholat fardhu. Misal ayat Qursyi dibaca 3 kali setiap ba’da sholat fardhu.