PENAKLUKAN MAJAPAHIT SECARA SPIRITUAL OLEH SUNAN KALIJAGA

Diposting pada

*💞RUNTUHNYA KEDATON WILWATIKTA💞*

BAB. 9
*Mangkatnya Sang Raja*

Setelah beberapa saat kedua orang yang sedang berwawansabda itu saling berdiam diri, tiba-tiba sang Prabhu memecah kesunyian dengan pertanyaan.

“Apa yang membedakan antara Wahyu, Dhawuh, Wangsit dan Wisik itu .. apa?”

Sunan Kalijaga tersenyum maklum, baru menjawab.

“Wahyu itu firman Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada keraguan di dalamnya, pasti benarnya. Sedangkan Dhawuh itu diperuntukkan bagi para sepuh yang memiliki ruh tua dan para suci yang ‘gentur’ tapanya. Wangsit itu sama dengan Ilham, bisa diperoleh siapa saja orang awam, semisal mimpi hal yang sama sekitar dua pertiga malam. Sedangkan Wisik itu, berkaitan dengan laku ilmu yang berhubungan dengan mahluk halus.” jawab Sunan Kalijaga.

Prabhu Kertabhumi manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya.

“Apa hubungannya dengan sumber kekuatan yang diperoleh?”

“Wahyu itu berkaitan dengan Mukjizat Rasul Allah. Dhawuh itu berhubungan dengan Karomah atau Keramat. Wangsit itu bertalian dengan Ma’unah atau Mangunah. Sedangkan Wisik itu menghasilkan Istijrat.” jawab Sunan Kalijaga.

Prabhu Kertabhumi tersenyum.

“Apa yang terjadi setelah manusia itu mati?”

“Setiap manusia hidup pasti akan mati. Badan jasadnya rusak binasa, ruhnya tetap hidup melanjutkan perjalanannya. Karena sesungguhnya mati itu cuma pindah tempat.”

“Kemana perginya ruh? Apakah akan kembali ke suwung seperti saat ia tiada dulu? Ataukah pulang ke rumahnya yang lama? Ataukah kembali ke bumi menitis ke dalam wadah baru yang dikehendaki tapi isinya tetap sama?”

Sunan Kalijaga melengak mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi dengan sabar ia menjawab.

“Ruh tidak pernah mati, ruh akan hidup selamanya, selama Tuhan menghendaki. Karena Islam tidak mengenal ‘panitisan’ atau ‘tumimbal lahir’ kembali ke dunia, seperti ‘cakramanggilingan’. Dalam Islam, ibarat orang menenun kain Gringsing benang emas, yang diidamkan oleh manusia, adalah ‘kasampurnan jati’ mati dalam keadaan Husnul Khotimah. Kun fayakun, sekali sentak jadi …!” Sunan Kalijaga berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi,

“Pada hari yang sudah ditentukan nanti, seluruh mahluk dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menerima pengadilan. Bagi mereka yang selama hidup di dunia melakukan banyak perbuatan mulia, akan memperoleh ganjaran Surga yang di dalamnya penuh kenikmatan. Sebaliknya bila manusia selama hidupnya mengumbar perbuatan dosa, maka ganjaran yang diterimanya adalah siksa neraka. Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya. Karena manusia sendiri yang akan menjalani hidupnya, maka dia sendiri pula yang akan memetik hasil perbuatannya. Siapa yang berbuat dosa, maka dia sendiri yang akan menerima akibatnya ..”

Baca juga:  Suluk Linglung Wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga

“Bukan orang lain yang menanggung dosa. Begitu Maha Adilnya Tuhan bila manusia mau merenungkan. Karena pada hakikatnya bukan Tuhan yang menyiksa manusia, tapi manusia sendiri yang telah menyiksa dirinya, dengan menyia-nyiakan hidup yang sudah diberikan oleh Tuhan. Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, Maha Pengampun dan menerima taubat yang sadar dari kesalahannya. Dengan syarat manusia mau bertobat dan berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosanya lagi.”

Prabhu Kertabhumi senang mendengar uraian yang disampaikan Sunan Kalijaga. Tidak demikian dengan kedua abdinya. Sabdo Palon dan Noyo Genggong tampak kurang senang dengan wejangan Sunan Kalijaga. Mereka menganggap sang Prabhu sedang dipengaruhi. Mereka menutup telinga dan membuang muka dengan rasa kesal. Tapi Sunan Kalijaga tak menghiraukan kedua abdi itu.

Sang Prabhu Kertabhumi mulai tertarik dengan ajaran Islam. Setelah menghela nafas panjang, Prabhu Kertabhumi kemudian berkata dengan nada melunak.

“Sahid, aku ingin mendengar penjelasanmu tentang orang-orang yang sejak lahir ditakdirkan beragama selain Islam. Atau mereka yang sejak lahir belum pernah mendengar agama Islam. Karena mereka hidup dan bertempat tinggal di lingkungan yang engkau bilang adalah masyarakat kafir. Bukankah kakek, buyut, canggah, wareng, iwur-iwur, hingga leluhurmu dahulu masih beragama pada keyakinan lama? Apakah mereka juga akan dihukum siksa neraka? Padahal mereka tidak bisa protes kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan .. akan menjadi apakah aku nanti setelah lahir ke dunia? Dan agama apa pula yang aku anut?’ .. Kecuali mereka bisa minta kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan .. lahirkankah aku di negeri Arab pada masa pemerintahan Muhammad, agar aku menjadi muslim yang baik. Bagaimana jika kelahirannya kemudian nyasar ke Jawa, pada tahun yang sama dan akan menjadi orang kafir menurut penilaianmu? Di mana letak keadilan Tuhan bila semua orang di luar Islam akan dihukum seperti katamu?”

Sunan Kalijaga tertegun mendengar pertanyaan sang Prabhu yang kritis.

“Tiap umat telah diberi Rasul oleh Allah, dipilih diantara bangsa itu sendiri dan diberi Kitab suci dalam bahasanya sendiri. Syariat yang turun di setiap umat mengikat untuk bangsa tersebut, tetapi tidak ada kewajiban bagi umat lain yang tidak sampai kepada mereka. Hamba haqqul yakin para leluhur yang tak pernah mendengar, apalagi menerima tuntunan agama Islam, atau belum mendengar agama Tauhid, selama para leluhur berlaku jujur, berbuat baik kepada sesama, Insya Allah Tuhan semesta alam akan memberi vonis yang adil kepada mereka.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *