Pelita Nubuwah – Syeikh Husain Manshur al-Hallaj, Tha’sin Al Siraj (Pelita Nubuwah NabiMuhammad SAW)

Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain, adanya mendahului ‘Tiada’ (‘Adam), namanya mendahului ‘Pena’ (Qolam), sebab keberadaannya terdahulu ada sebelum apa pun.

Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta, tidak juga di balik semesta, sesuatu yang lebih indah, lebih agung, lebih bijak, lebih adil, lebih kasih, lebih taat atau lebih takwa, yang lebih dari sang Tokoh Utama ini.Gelarnya adalah sang Junjungan Makhluk, namanya adalah Ahmad, dan harkatnya adalah Muhammad. Perintahnya penuh kepastian, hikmahnya penuh kebaikan, sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya penuh keunikan.

Maha Suci Allah! Adakah yang lebih nyata, lebih tampak, lebih agung, lebih masyhur, lebih kemilau, lebih perkasa ataupun cendekia, yang lebih darinya? Ia – sungguh – telah dikenal sebelum penciptaan sesuatu, yang ada, juga semesta. Ia senantiasa diingat sebelum adanya ‘sebelum’ dan setelah adanya ‘setelah’, juga sebelum ada substansi dan kualitas.

Baca juga:  Imam Ghozali, Latihan Rohaniah seorang Sufi

Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah nubuwah, hikmahnya adalah wahyu, gaya bahasanya adalah Arab, kesukuannya adalah “tiada Timur dan tiada Barat” [Q. 24: 35], silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah damai, dan sebutannya adalah ‘ummi (awam).

Segenap mata terbuka dengan isyaratnya, segenap rahasia dan segenap jiwa terasa dengan kehadirannya yang ada. Adalah Allah yang membuatnya fasih menghafalkan rangkaian Firman-Nya, dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang meneguhkannya. Juga Allah yang mengutusnya, dan ia adalah Bukti – senyatanya Bukti. Adalah ia yang memuaskan dahaga hati pedamba yang kehausan, yang tidak tersentuh apa pun, tidak terkatakan lidah, tidak juga terekayasa, yang ‘menyatu’ dengan Allah tanpa terpisahkan, bahkan jauh di luar jangkauan pikiran. Pokoknya ia yang mengabarkan adanya akhir, dan akhirnya akhir, serta akhir-akhirnya akhir.

Baca juga:  Dzun Nun al-Mishry Pemuda Istimewa

Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt al-Haram). Ia adalah ‘pembeda’, bahkan ia adalah panglima perang. Adalah ia yang diperintah untuk meluluhlantakkan berhala-berhala, juga ia yang diutus kepada ummat manusia untuk membasmi pemujaan.

Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat, dan di bawahnya kilat menyambar gemuruh, berkilatan, mencurahkan hujan, serta menyuburkan. Segenap pengetahuan hanyalah setetes dari samuderanya, segenap kearifan hanyalah secauk dari bengawannya, dan segenap waktu hanyalah sesaat dari masanya.

Allah (‘ada’) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat. Ia yang pertama dalam kesatuan (penciptaan) dan terakhir yang diutus sebagai Rasul, yang hakikatnya bersifat batin, dan ma’rifatnya bersifat lahir.

Baca juga:  Kisah Imam Hasan Al Basri dan sepasang mata seorang gadis.

Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya, bahkan para filsuf niscaya tersadar atas kearifannya.

Allah tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhluk-Nya, sebab ia adalah ‘ia’, dan ia adanya bersama Dia, sedangkan Dia adalah ‘Dia’.

Allah membuat bicaranya jelas, menambah nilainya, dan membuat bukti (hujjah)-nya dikenal. Dia menurunkan wahyu Pembeda [Al-Furqan] kepadanya. Dia membuat lidahnya fasih, dan Dia membuat hatinya terang. Dia membuat ummat sezamannya tidak mampu [memalsu Al- Qur’an].Dia pun mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.

Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syari’at-nya, adakah jalan (lain) yang dapat kau tempuh, tanpa adanya pembimbing, hai orang yang malang? Ketahuilah, segenap fatwa para filsuf berantakan, seperti gundukan pasir, dibandingkan hikmahnya.

Di salin dari terjemahan kitap TAWASIN :

Tags: #al-Hallaj #hallaj #mansur al-hallaj

Leave a reply "Pelita Nubuwah – Syeikh Husain Manshur al-Hallaj, Tha’sin Al Siraj (Pelita Nubuwah NabiMuhammad SAW)"