MENGGALI MAKNA SPIRITUAL TOKOH SEMAR

Diposting pada

Manusia yang telah mengenal Tuhan akan bersikap bijaksana karena ia mengetahui pasti bahwa dirinya tidak pintar dan tidak pantas berbuat tidak adil di hadapan Tuhan. Ia sungguh mengetahui pasti kebesaran Tuhan hingga ia takut dan merasa kecil di hadapan Tuhan.

Cara Berjalan

Tokoh Semar berjalan setiap tiga langkah menengok ke kiri, ke kanan dan ke belakang. Artinya manusia harus peka pada lingkungan sekitarnya.

Mengengok ke kiri dan ke kanan adalah simbol kepedulian manusia kepada lingkungan dan tetangganya. Apakah ada tetangga, teman dan saudara yang sedang kesulitan serta membutuhkan pertolongan? Tengok mereka dan berikan pertolongan.

Dengan kepedulian sesama manusia akan tercipta keharmonisan dan budaya saling membantu. Dari sikap peduli juga akan lahir kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan.

Cara berjalan Semar juga mengandung simbol ini. Langkah pertama niat, langkah kedua ucapan, dan langkah ketiga perbuatan.

Setiap langkah, Semar menengok ke kiri, ke kanan dan ke belakang. Artinya ia mengevaluasi diri setiap saat. Mempertanyakan apakah niat, ucapan dan perbuatannya telah benar dan baik? Kalau belum benar dan baik maka harus diperbaiki.

Mengevaluasi diri, apakah niat, ucapan dan perbuatan ini telah melukai manusia lain?

Mengevaluasi diri, apakah niat, ucapan dan perbuatan ini telah sesuai? Niat baik, ucapan baik dan perbuatannya pun baik. Artinya tidak seperti pendusta dan manusia munafik yang niat dan ucapannya tidak sama, ucapan dan perbuatannya tidak sama.

Artikel Pilihan:  Makna Tembang Jawa Sluku Sluku Bathok

Segala sesuatu yang ia kerjakan dilihat kembali atau mengevaluasi diri. Jika niat, ucapan dan perbuatannya melukai atau merugikan orang lain, ia segera akan meminta maaf dan memohon ampun pada Tuhan.

Itulah tokoh Semar, merupakan gambaran manusia sejati yang telah mengenal jati dirinya dan telah mengenal Tuhan. Wujud, gerak dan sifatnya memiliki arti yang sangat dalam.

Budaya Yang Luhur

Ini membuktikan kebudayaan wayang adalah kebudayaan yang cedas dan luhur. Nenek moyang kita dahulu menonton hiburan wayang yang memiliki nilai-nilai kehidupan dan spiritual yang luhur.

Wayang bukan sekedar hiburan tanpa nilai dan makna. Melalui kebudayaan yang menghibur, juga tersirat nilai, makna dan ajaran kehidupan untuk manusia. Dulu sejumlah Wali (Wali Songo) menggunakan media wayang untuk mengislamkan masyarakat, dan mengajarkan masyarakat jalan hidup yang baik dan benar sesuai syariat Islam.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam tulisan ini, penulis hanya manusia biasa yang kerap salah dan bodoh.