Tanda tanda kiamat,sifat allah,bulan muharrom,syariat islam

MENELAN LUDAH SAAT PUASA, GIMANA HUKUMNYA?

Diposting pada

Tubuh manusia dibagi menjadi dua bagian. Bagian luar dan bagian dalam. Masing-masing mempunyai tempat dan klasifikasinya tersendiri. Seperti orang yang sedang melakukan shalat, misalnya.

Batas tubuh orang shalat yang dianggap luar adalah yang berada di luar tenggorokan, tepatnya pada makhraj ‘ha’.

Apabila ada orang shalat, di dalam mulutnya terdapat sisa makanan, belum sampai ditelan melampaui tengah tenggorokan, shalatnya orang yang seperti demikian tidak batal karena makanan masih pada batasan luar tubuh.

Berbeda dengan orang wudhu. Batas luar tubuh orang wudhu tidak sama dengan batas luarnya orang shalat. Orang wudhu, saat membasuh wajah, batas luarnya hanya terletak pada anggota badan yang tampak saja.

Sehingga, di dalam mulut, bagi orang yang wudhu sudah dianggap bagian dalam.

Begitu pula orang yang puasa. Orang puasa, batasan luar dalamnya tubuh, secara dasar, mirip dengan orang shalat.

Baca juga:  MEMAKNAI PUASA SECARA TASAWUF

Namun ada yang sedikit mirip dengan orang wudhu sebagaimana dalam masalah hukum air liur bagi orang yang puasa berikut ini.

Sebelumnya, mari kita simak dahulu, bagaimana penjelasan Imam Nawawi tentang hukum menelan air liur itu sendiri?

ابتلاع الريق لا يفطر بالاجماع إذا كان على العادة لانه يعسر الاحتراز منه

Artinya: “Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakan para ulama.

Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.” (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 341)