MBAH IROM WALI MASTUR

Wali Mastur dari Tulungagung, namanya Mbah Irom atau Mbah Mukarom, sebelum kita baca artikelnya, mari kita kirim alfatihah untuk beliau, bi sirril fatikhah…..  aminn

Mbah Karim (70 an tahun) Tulungagung didawuhi Kyai Mustaqim (abahnya Kyai Abdul Djalil, pondok Peta Tulungagung) bahwa Mbah Irom itu wali. Di lain waktu, Mbah Karim Hadir ke Mbah Irom, lalu Mbah Irom bilang bahwa Kyai Mustaqim ialah orang sholeh. Siapa Mbah Irom?

Mbah Irom (Mukarrom) lahir di Tulungagung kisaran tahun 1901 dan wafat tahun 1976. Beliau santri sepuh (lama mondoknya) di Mojosari Nganjuk. Waktu mau mondok ke Mojosari, beliau dipesani oleh ibunya supaya jangan jadi tukang ngliwet dan wajib ngirit sebab abahnya telah meninggal. Berikutnya Mbah Irom berangkat mondok dengan berjalan kaki dari Tulungagung ke Mojosari. Sampai di sungai untuk menyeberang, uang sedikit untuk sangunya jatuh di dasar sungai, dan hilang.

Setiba di Mojosari dengan tanpa bekal, sebab uangnya hilang, Mbah Irom akhirnya riyadloh yang dalam keseharaiannya selama 3 bulan ke-1 cuma makan kacang dari hasil ngasak atau mengais sisa panen di sawah dari para petani yang baru memetik kacangnya. 3 bulan ke-2 ngasak kedele di sawah, dan itu yang dimakan. 3 bulan ketiga makan ares (hatinya batang pisang). Jika ares pisang tentu di desa banyak. 3 bulan ke-4 cuma meminum air putih.

Baca juga:  Kisah Abu Ubaidah al Jarroh, Sahabat Nabi Yang Terpercaya

seusai itu, badan Mbah Irom lemah sekali sebab cuma air putih yang masuk ke tubuhnya. Waktu membuka kitab, tanpa disengaja Ada uang yang pas untuk berbelanja 1 porsi makanan. Sedemikian tiap hari jikalau lapar, dan membuka kitab, akan memperoleh uang yang cuma pas untuk berbelanja nasi 1 porsi (teringat cerita guru saya yang mirip. Ialah beras di kuali kecil dan gula di toples kecil tidak habis dan uang di lemari tiap awal bulan ada, tapi cuma pas kebutuhan minim rumah tangga, tidak lebih sedikitpun).

Kata Mbah Karim, sesudah itu Mbah Irom mbruwah (memanen atas hasil tirakatnya). Di antara mbruwahnya muncul “keanehan”, Mbah Irom sering diajak makan orang-orang, sehari dapat lebih 3 kali dan sanggup saja menghabiskan makanan, tapi beliau juga sanggup tidak makan tujuh hari.

Mbah Irom pesan untuk Mbah Karim, “Jika punya ‘ilmu’, wajib engkau pendam di bumi sap (tingkat) tujuh yang bawah sendiri. Jika di langit, letakkan di langit sap (tingkat) tujuh, yang atas sendiri.”

Model khumul yang sedemikian ketat dan rapat tentu banyak orang akan terkecoh dengan performance luarnya yang dapat jadi kayak orang gembel, bodoh, cuek, apalagi performance dan gayanya tidak kayak di tivi yang full “ornamen” sehingga dapat “memukau-menipu” pemirsa.

Maka dapat dipahami waktu Mbah Irom tidak berkenan membaca ayat di depan khalayak ramai waktu ada tamu Mbah Kyai Hasyim Asy’ari yang menyebut selaku santri kung. Dalam dunia perkutut, ada katuranggan dari perkutut yang mempunyai suara bagus (kung). Perkutut yang kung menurut mereka terkadang tidak cuma mempertunjukkan bagusnya suara, tapi ada dimensi supra yang mereka percaya. Dalam konteks santri kung, tentu bukan cuma suara saja, tapi berdimensi lebih dari itu. Artinya Mbah Irom santri unggulan yang mempunyai daya linuwih spiritual, sehingga Kyai Hasyim yang waskita ingin menemui dan mendengarnya.

Baca juga:  Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti

Wajar juga waktu para santri Mojosari ingin mengaji untuk Mbah Irom, senantiasa ditolak. Tetapi pernah suatu kali ada santri yang ngringik (maksa halus secara terus menerus), maka terpaksa Mbah Irom membacakan kitab sekali duduk dikhatamkan. Tentu santri tidak kuat, akhirnya sesudah itu tidak ada yang bernyali lagi minta mengaji.

Kyai Ghufron pernah bercerita, waktu Kyai Zainuddin menjelang wafat, beliau jatuh sakit. Untuk itu, Kyai Zainuddin menugaskan untuk Mbah Irom jadi imam sholat, temasuk imam sholat Jum’at.

Kisaran seminggu sebelum wafat pas hari Jumat, Mbah Irom jadi imam dengan membaca surat pendek. Sekalipun Kyai Zainuddin sakit, beliau ikut sholat Jum’at. Selesai sholat Jum’at, Kyai Zainuddin berteriak, “Siapa tadi pak tua ngimami kok lama sekali. Dia wajib didenda seratus rupiah.”

Tidak berhenti sampai di situ, beliau memanggil lurah santri supaya memanggil Mbah Irom. Sesampai Mbah Irom di depan Kyai Zainuddin, Kyai Zainuddin mengulangi ujaran di atas. Lalu Mbah Irom menjawab, “Saya tidak punya uang, dendanya diganti membaca qulhu saja.”

Baca juga:  Kyai Hamid, Ambil Sandalmu di Makkah Ya..

Kyai Ghufron memungkasi, ternyata betul, kisaran 1 mingguan, Kyai Zainuddin wafat dan dibacakan qulhu (fida’an) oleh Mbah Irom.

Anda yang belum paham karakter kyai dan santri pondok Mojosari tempo dulu akan masygul dengan cerita-cerita nyleneh seperti. Kyai Abdul Mun’im DZ, sejarawan NU bercerita bahwa di antara sekian banyak pesantren, maka pesantren Mojosari ini, khususnya KH Zainuddin, yang paling mempengaruhi dalam pembetukan kepribadian KH. Wahab Chasbullah. Pikiran, bicara sikap dan tindakan Kyai Wahab, telah melampaui logika, beyond gramatika (nahwu shorof), beyond fikih. Kelihatan “anarkis” tapi amat kreatif. Ini persis sikap Kyai Zainuddin dan Kyai alumni Mojosari lainnya.
Walupun mereka “anarkis” dan jadzab, tetapi amat disiplin.

Mbah Irom Menjelang wafat, waktu naza‘ yang menanti dan membacakan Yasin ialah Gus Tom Mojosari dan Mbah Karim. [Warta Sunda/gg]

Sumber cerita:
1. Mbah Karim pada 26 April 2019 di Pondok Peta. Mbah Karim dapat cerita dari abahnya sendiri dan juga dari Mbah Irom. Mbah Karim masih famili dengan Mbah Irom (cucu ponakan).

2. Kyai Ghufron pada 10 Pebruari 2019.

Source: Ainur Rofiq Al Amin

Source link

Tags: #Kisah Para Wali #wali

PENYEBAB SYEKH ABDURRAHMAN BAJALHABAN DIANGKAT MENJADI WALI ALLAH SWT
“PENYEBAB SYEKH ABDURRAHMAN BAJALHABAN DIANGKAT MENJADI WALI ALLAH SWT.” Baca juga:  Wali Paidi
Makam Seorang Wali Yang Mengapung di Laut
Makam Seorang Wali Yang Dikelilingi Air Laut, Beliau adalah Kiai Mudzakir atau Syech
Gus Dur Dapat Mendeteksi Wali yang Masih Hidup Maupun yang Telah Meninggal
Gus Dur Dapat Mendeteksi Wali yang Masih Hidup Maupun yang Telah Meninggal Suatu
PENDOSA YANG MENJADI WALI ALLAH
PENDOSA YANG MENJADI WALI ALLAH Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam

Leave a reply "MBAH IROM WALI MASTUR"