mailik bin dinar,Kisah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dan Iblis

Kisah Malik bin Dinar Kakek Tua dan Ular Besar

Diposting pada

Malik bin Dinar, yang meninggal pada 131 H. Ibn Khallikan menulis sebagai berikut:  “Malik bin Dinar adalah ilmuwan yang zuhud dan rendah hati. Dia adalah seorang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf dengan upah.” Malik bin Dinar Ber kata :  ” Barang siapa menyertai ku dalam kesederhanaan hidup, dia besertaku. Kalau tidak, dia berpisah dariku.” Dalam do’a nya Malik bin Dinar, berkata : “Ya Tuhanku, janganlah Kau masukkan apapun ke dalam rumah Malik bin Dinar.”

al-Sya’rani mengutarakan, bahwa Malik bin Dinar makan dari hasil kerjanya mengambil pelepah kurma. Sementara di dalam rumahnya tidak mempunyai isi kecuali mushaf al Qur’an , kendi dan tikar, tidak ada perabot lain, apa lagi uang atau emas.

Diriwayatkan bahwa dia pernah berkata sebagai berikut: “Seandainya seseorang mempelajari ilmu untuk di amalkannya, ilmunya akan berkembang. Namun seandainya dia mempelajari ilmu tidak untuk diamalkannya, dia akan bertambah keji takabur, dan merendahkan kaum awam.” Dari perkataan Malik bin Dinar ini mengandung makna bahwa, perlunya dikaitkan antara ilmu dan amal, karena ilmu tanpa amal bisa membuat seseorang yang berilmu menjadi angkuh terhadap orang lain, dan pengalaman ilmu akan mendorong ilmu itu sendiri mencapai ufuk cakrawala yang baru, sehingga ilmu itu akan semakin berkembang dan mekar.

Kisah Taubatnya Malik bin Dinar

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar,ia pernah ditanya tentang sebab-sebab ia bertaubat, kemudian ia menjawab : Aku adalah seorang polisi dan aku asyik menikmati minuman-keras, lalu kubeli seorang budak perempuan dengan harga mahal, ia melahirkan seorang anak perempuan dan aku pun menyayanginya.
Ketika ia mulai berjalan,maka cintaku semakin bertambah padanya, setiap kali aku meletakkan m1_num_4n k3_r45 dihadapanku, anak itu datang padaku dan mengambilnya lalu menuangkannya di bajuku.ketika umurnya menginjak dua tahun, dia meninggal dunia. Aku pun sangat sedih atas musibah ini.
 Ketika malam pertengahan bulan Sya’ban yang bertepatan dengan hari Jum’at, aku tidur di malam itu dengan meneguk arak dan belum shalat Isya’. aku bermimpi seakan-akan kiamat telah tiba, terompet sangkakala ditiup, penghuni kubur dibangkitkan, seluruh mahluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka.

Malik bin Dinar dikejar Ular Besar

Kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak di belakangku. Ketika aku menoleh, ku lihat ular yang sangat  besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju ke arahku. maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan.
Ditengah jalan kutemui seorang syaikh (ulama) yang berpakain putih dengan wangi yang semerbak. Maka ku ucapkan salam kepadanya dan dia pun menjawabnya, kemudian ku katakan: “Wahai Syaikh,tolong lindungi aku dari ular itu, semoga Allah melindungimu.”
Syaikh itu menangis dan berkata padaku: “Aku seorang yang lemah, sedangkan ular itu lebih kuat dari pada aku. Aku tak bisa mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu.”
Aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing neraka hingga sampai pada ujung tebing itu. Aku melihat kobaran api yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh di dalamnya karena rasa takutku pada ular tersebut.
Namun pada waktu itu seseorang berteriak memanggilku: “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni neraka itu!” aku pun menjadi tenang mendengarnya, maka aku turun dari tebing lalu pulang. Sedangkan ular yang mengejarku itu juga ikut kembali.
Selanjutnya, kudatangi Syaikh itu dan kukatakan “Wahai Syaikh, aku mohon padamu agar melindungiku dari ular itu, namun engkau tak mampu berbuat apa-apa.”
Syaikh itu menangis seraya berkata:”Aku seorang yang lemah, pergilah ke gunung itu, karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau kau punya barang simpanan di sana, maka barang itu akan menolongmu.”
Aku pun melihat gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang retak dan tirai-tirai yang tergantung, yang setiap lubang cahayanya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu  terdapat sutera.
Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Di saat ular besar itu mulai mendekatiku, para malaikat berteriak:”Angkatlah tirai-tirai itu,dan bukalah pintu-pintunya lalu mendakilah ke sana! mudah-mudahan engkau punya barang titipan di sana yang dapat melindungimu dari ular itu.”
Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri sedang mengawasiku dari atas, sementara ular itu semakin dekat padaku sehingga aku jadi kebingungan. Anak-anak itu berteriak:” Celakalah kamu semua! Cepatlah naik, karena ular besar itu telah mendekatinya.”
Kemudian naiklah mereka semua dengan serentak. Aku melihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata: ” Ayahku, demi Allah!”