MAKANAN JAWA ZAMAN KE ZAMAN

Diposting pada

MAKANAN JAWA ZAMAN KE ZAMAN

CATATAN 1800AN (MATARAM ISLAM)

Serat Centhini yang merupakan sebuah ensiklopedi yang menceritakan tentang banyak hal, meliputi seni, kehidupan dan kebudayaan Jawa, agama, makanan tradisional, ramuan jamu atau obat tradisional, jenis-jenis tanaman dan kisah percintaan (termasuk tatacara suami istri berhubungan menurut kaidah Jawa) maka kita bisa melihat khazanah budaya orang Jawa hingga abad 18.

Serat Centhini atau Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga ditulis atas perintah Sunan Paku Buwana V di Surakarta Hadiningrat (1820 – 1823).

BAB MAKANAN

Dalam hal makanan, perjalanan kuliner meliputi daerah2 seperti Bogor, Dukuh Argapura (daerah Lumajang), Padepokan Gunung Tidar Magelang, Ibukota Mataram (Kerta, sekarang masuk Kecamatan Pleret, Bantul), di rumah Pujangkara (Mataram), dan di Tembayat (sekarang Klaten)*

Jika dihitung, maka kuliner yang didapatkan dari Bogor hingga Wanamerta itu ada sebanyak 1.606 menu.

Kira-kira seperti apa makanan Jawa pada kurun 1800an ?

Ada banyak fragmen cerita, diantaranya dalam salah satu kisah (bagian 30) dimana Ki Damarjati, Kepala Desa Prawata, menyiapkan Jamuan, menyambut kedatangan Raden Jayengresmi dengan Gatak Gatuk ke Desa Prawata. Ki Damarjati menyuruh istri dan anaknya, Wara Surendra pergi ke ladang dan memetik tanaman hasil bumi.

Wara Surendra memetik jambu dersana, manggis, kepel, kokosan, rambutan, duwet putih, salak, delima dan pelem madu.

Ia menyediakan makanan berupa sayur bening, sambal jagung, sayur menir, pecel dengan ayam muda, aneka sayuran mentah (lalapan), betutu ayam, ikan gabus asin, ayam goreng betina, acar dari bawang putih dan mentimun kecil.

Ia juga menyediakan makanan kecil seperti criping ubi kayu, criping linjik (jenis ketela), pisang goreng memakai gula, criping ketela, putu tegal, mendut, semar mendem, nasi yang lunak, nasi ayam jago dan karag gurih.

Sedangkan minuman yang disajikan berupa kopi gula tebu disaring dengan tapas (jaringan pada pangkal pelepah daun kelapa) dan air panas seduhan daun belimbing wuluh.

Dalam babak lain terdapat juga menu yang sekarang sudah jarang seperti : Tongseng bajing, tongseng emprit, Oseng-oseng Manuk Emprit, Rawong Kutuk (ikan gabus), Sekul Goreng Manuk Emprit, Soto Kambangan (soto bebek), Gule Banyak (angsa) dan banyak lagi (termasuk buah2an yang sudah sangat jarang ditemui).

BACA JUGA:  Pangeran Samber Nyawa

Jika dibandingkan dengan makanan abad 10 (artikel berikut) maka ada beberapa yang sudah tidak lagi dikonsumsi pada Serat Centhini.

CATATAN MASAKAN ORANG JAWA (MATARAM KUNO)

Berdasar prasasti dan relief candi, makanan jawa kuno seperti ini

Masakan nasi
Skul paripurna : nasi yang biasanya disajikan dalam perayaan penetapan suatu desa sebagai sima.

Skul liwet : nasi yang ditanak dengan pangliwetan.

Skul dinyun : nasi yang ditanak dalam periuk.

Skul matiman : nasi yang ditim.

Masakan Ikan
Grih : Ikan yang diasinkan atau dikeringkan. Kini kita menyebutnya gereh.

Daing/deng : ikan yang dikeringkan yang kini disebut dendeng (disebutkan dalam prasasti: asin atau tawar).

Jenis ikan yang biasanya diasinkan atau didendeng adalah ikan laut seperti ikan kembung (rumahan), tenggiri (tangiri), bawal (kadiwas), selar (slar), sontong/cumi-cumi (hnus), layar/pari (layar-layar), gabus, kerang-kerangan (iwak knas), kepiting laut (getam), kepiting sungai (hayuyu), dan udang (hurang).

Masakan dari hewan ternak
Makanan sumber hewani selain ikan antara lain ayam (ayam), bebek (andah), angsa (angsa), babi ternak (celeng), kambing, dan kerbau (kbo/ hadangan). Hewan-hewan itu dalam prasasti hanya disebut sebagai penganan yang disayur dan dipanggang.

Orang Jawa Kuno juga mengkonsumsi babi hutan (wok), kijang (kidang), kambing (wdus), kera (wrai), kalong (kaluang), sejenis burung (alap-alap), hingga kura-kura (kura).

Sayuran
Dalam prasasti, lalapan diistilahkan dengan Rumwahrumwah.

Kuluban, yaitu sayuran yang direbus.

Dudutan juga sering disebut mungkin sejenis kangkung, salada, atau genjer yang cara memanennya didudut/ dicabut.

Camilan
Prasasti Sanguran di Malang dari 850 saka (928 M), menyebutkan panganan bernama tambul dan dwadwal atau dodol.

Bumbu Dapur
Tanaman untuk bumbu yang diketahui ditanam di Jawa sejak lama adalah merica, lada hitam, lada putih, dan cabe Jawa, juga kemukus, laos, brambang & bawang.

Dapat diperkirakan makanan pada abad 10 M dibumbui dengan jahe, kunyit, kapulaga, dan laos, juga merica.

Sumber :
-Historia
-Early Tenth Century Jawa From the Inscriptions/Antoinette M. Barret Jones