KORONA CUMA BERTAMU

Diposting pada

KORONA CUMA BERTAMU,

Judul asli: KHASANAH: BERAPA LAMA CORONA BERTAMU?
—Oleh: Emha Ainun Nadjib

Di Maiyah sering dibicarakan terminologi misalnya “Negara Kuat Rakyat Lemah”, dengan beberapa kategori lainnya, dan Indonesia termasuk “Rakyat Kuat Negara Lemah”. Salah satu bukti riilnya adalah NKRI tidak mungkin berani “total lockdown” untuk menghindari penyebaran Coronavirus, karena kondisi lemah ekonominya Negara.

Tetapi dengan liarnya Coronavirus rakyat Indonesia tidak mungkin mengurung diri, karena kekuatan rakyat kita terutama kalangan bawah mayoritas adalah kemerdekaan dan kelonggaran untuk “iguh” dan “ubet” perekenomian sehari-hari mereka. Pemerintah NKRI tidak mungkin mampu “mentraktir” rakyatnya sangat banyak di wilayah yang sangat luas kalau mereka tidak punya peluang untuk “iguh” dan “ubet” harian itu. NKRI bukan “Kecamatan” Singapura, bahkan juga bukan “Provinsi” Korea Selatan.

Makanya sesungguhnya bangsa besar kesayangan Allah ini membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan nasional yang “muhtadin” atau “mulhamin”, kalau perlu “mukarramin”. Pemimpin yang dipandu oleh hidayah Allah, dituntut oleh ilham-ilham-Nya, kalau perlu dilimpahi “karamah”.

Kalau melihat longgarnya regangan sosial di seluruh Nusantara dalam menangani bahaya Corona, dan kalau bercermin pada Italia dan sejumlah Negara lain, mestinya sudah jutaan orang dari rakyat kita yang terpapar Coronavirus. Tapi nyatanya sampai hari ini belum sampai seribu orang, dan yang meninggal belum sampai seratus. Sesungguhnya bangsa Indonesia sudah lama dibikin tangguh dan sakti oleh berbagai macam virus: virus biologis, virus moral, virus politik, virus budaya, virus peradaban global, dan kini mereka sedang dilatih khusus oleh Coronavirus agar menjadi pendekar yang lebih mumpuni. Tetapi kita tidak “kemendel” untuk menyimpulkan itu, sebab celaka kalau sampai kita menyentuh garis takabur.

Baca juga:  Ketika Kakbah Tanpa Kiswah ( Kain Penutup)

Jamaah Maiyah hari-hari ini sebaiknya mulai menggali kreativitas dan hidayah Allah untuk melaksanakan ayat 18 Surah Al-Hasyr: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dengan pijakan takwa pada sebelum dan sesudahnya, Jamaah Maiyah memperhatikan apa yang selama ini ia perbuat yang esok hari akan menghasilkan sesuatu. Termasuk apa pikirannya, apa isi hatinya, apa sikap hidupnya, apa yang dikerjakannya atas kasus Coronavirus ini yang akan berbuah esok lusa. “Ma qaddamat”: apa yang engkau utamakan (apa skala prioritasmu) untuk dilakukan dan jeli pada outputnya. Setiap yang diputuskan oleh Jamaah Maiyah untuk dilakukan ada landasan aqdamiyah atau afdlaliyahnya: “ma qaddamat”, “ma fadldlalat”. Apalagi Allah sendiri akan memaparkan hulu-hilir perbuatanmu itu. “Innallaha Khobirun bima ta’ malun”. Allah menginformasikan di esok hari hasil keputusanmu hari ini.

Sumber: https://web.facebook.com/story.php?story_fbid=10222326816629139&id=1528538402&_rdc=1&_rdr

[Baca selengkapnya — https://bit.ly/3aqog7H]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *