Karomah wali allah,cerita wali paidi, wali paidi

KISAH WAFATNYA IMAM SYAFII

Diposting pada

Wafatnya Imam Syafii  Pada suatu hari, Imam Syafi’i terkena w4_5ir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan d4_r4hnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya.

Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar.

Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.
Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, “Bagamana kondisi Anda wahai guru?”

Imam Syafi’i menjawab, “Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?”.

Saat-saat Wafatnya Imam Syafii

Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, “Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku,”

Lalu sepupunya berkata, “Kami akan turun sebentar untuk salat.”

Baca juga:  14 NASEHAT IMAM SYAFI'I

Imam menjawab, “Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku.”

Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, “Apakah engkau sudah salat?”

Lalu mereka menjawab, “Sudah”,

Lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin,

Mereka berkata, “Biar kami campur dengan air hangat,”

Ia berkata, “Jangan, sebaiknya dengan air safarjal”. Setelah itu ia wafat.

Imam Syafi’i wafat pada malam Jum’at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.

Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka.

Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya.

Ia berkata kepada mereka, “Apakah Imam meninggalkan hutang?”, “Benar!” jawab mereka serempak.

Baca juga:  Kisah Hidup Imam Syafii

Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

Jenazah Imam Syafi’i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah.

Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, “Semoga Allah merahmati asy-Syafi’i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik.”

Turbah asy-Syafi’i

Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi’i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi’i.

Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah. Kisah Wafatnya Imam Syafii