KISAH PERJALANAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, MEMPEROLEH GELAR, ” SULTHANUL AULIYA (RAJA DARI SELURUH PARA WALI ALLAH).

Diposting pada

Daftar Isi

KISAH PERJALANAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, MEMPEROLEH GELAR, ” SULTHANUL AULIYA (RAJA DARI SELURUH PARA WALI ALLAH).
(Dalam Kitab Al-Fawaid Al-Mukhtarah).
” Pada masa menimba ilmu, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau berteman dengan dua orang, Ibnu Saqa dan Ibnu Abi Asrun, pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang Wali, berpangkat Wali Al-Ghouts, rumah Wali tersebut sangat jauh dari keramaian kota, namun keinginan mereka bertiga, untuk bertemu sang Wali, tidak terhalang oleh jarak yang demikian jauh.

Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing.
Ibnu Abi Asrun, beliau bertanya kepada Ibnu Saqa:
“Hei Saqa, engkau mau ngapain bertemu Wali itu?.
” Aku akan mengajukan sebuah pertanya’an yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya.
Tidak lama kemudian, Ibnu Saqa bertanya kepada Ibnu Abi Asrun,
“Kalau engkau, apa yang hendak tanyakan?.
“Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin ia tidak mampu untuk menjawabnya.

Pada hakikatnya, tujuan dari keduanya sama, yaitu untuk menguji ketinggian ilmu dari seorang Wali tersebut.

Baca juga:  Syekh Abdul Qadir Jaelani dan saudagar

Lalu keduanya bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani:
” Qadir, engkau mau mengajukan pertanyaan seperti kami, atau ada hal lain?.
“Aku tidak ingin bertanya apa-apa. Jawab Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Lalu keduanya bertanya lagi:
“Terus kau mau apa, hanya mau mengikuti kami?.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau menjawabnya lagi:
” Aku tidak punya pertanya’an yang mau diajukan, aku hanya ingin bersilaturahmi, dan mengharap berkah darinya, itu sudah lebih dari cukup.
Sesampainya di kediaman Wali Al-Ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya, akan tetapi, sang Wali tersebut tidak kunjung membuka pintu, tidak lama kemudian, sang Wali tersebut keluar dalam keada’an marah lalu bertanya:
“Siapa diantara kalian yang bernama Ibnu Saqa?.
Aku wahai Syeikh, jawab Ibnu Saqa.
Tidak banyak bicara, kemudian Sang Wali tersebut memberikan jawaban pertanya’an Ibnu Saqa, secara detail, begitu juga dengan pertanya’an Ibnu Abi Asrun dijawab dengan mudah oleh sang Wali, dan kemudian Ibnu Saqa dan Ibnu Abi Asrun, keduanya disuruh pulang.
Sampai pada giliran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, sang Wali Al-Ghouts, beliau hanya memandang sekujur tubuhnya, tidak lama kemudian sang Wali tersebut berkata:
“Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuanmu hanya ingin berkah dariku, dan In syaa’Allah tujuan baikmu akan tercapai.
Lalu sang Wali berkata lagi:
“Aku melihat engkau berkata padaku, “Kakiku ini berada dileher seluruh para Wali di dunia ini, dan sekarang pergilah anakku.

Baca juga:  ROSULULLAH BURAQ DAN SYEH ABDUL QODIR JAILANI

Seiring berjalannya waktu, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT, berkat sikap rendah dirinya kepada seorang Wali, dan beliau diangkat menjadi Raja, dari para Wali di muka bumi ini.
Dan pada sa’at mengajar muridnya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau berkata seperti apa yang dikatakan oleh sang Wali tersebut:
“Kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para Wali.
Dan perkata’annya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, di dengar oleh seluruh para Wali di penjuru dunia, lalu beliau berikrar, ” Sami’na wa atha’na.
“Wallahu a’lam bishawwab.