Pengalaman Spiritual,Nur Ilahi,tafsir mimpi,1001 Tafsir Mimpi 3

KISAH NYATA MANUSIA HIDUP DI ALAM JIN

Diposting pada

Daftar Isi

Di Ajak Bekerja Di Alam Kerajaan Jin

Kisah nyata ini memang sulit untuk dicerna oleh akal sehat ,namun kisah ini sungguh sungguh menimpa seorang manusia.

Selama beberapa waktu bekerja dengan tekun sebagai penanam apel di Kerajaan Jin.Apa yang kemudian terjadi…?berikut kisahnya,

Pekerjaan di zaman sekarang ini sulitnya memang setengah mati. Apalagi bagi orang yang berpendidikan rendah. Nah, gara-gara kesulitan dalam mencari pekerjaan, seorang lelaki penduduk Rancabuaya, Garut Selatan, Jawa Barat, mengaku pernah bekerja di Kerajaan jin yang diperkirakan terletak di wilayah Sukabumi Selatan.

Si pelaku peristiwa menceritakan pengalaman anehnya itu sebelum dirinya jatuh sakit.Tepatnya dia bercerita secara langsung kepada seorang kakak iparnya, Ustadz Aa Nugraha Al-Fandi, penduduk Kampung Cihayam, Desa Selawi, Kecamatan Terogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Lelaki pelaku peristiwa itu sebut saja namanya Didin Rasyidin. Dia kini menderita scizoprenia (penyakit jiwa berat) setelah dia gagal mendapatkan harta berlimpah dari hasil kerjanya di Kerajaan jin. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Lembang, Bandung.

“Demi Allah, saya mendengar kisah ini langsung darinya.Tepatnya, beberapa hari setelah dia kembali ke dunia nyata’cetus Ustadz Aa Nugraha Al-Fandi mengawali kisahnya. Kemudian dia menceritakan pengalaman Didin tersebut.Berikut penyajiannya yang kami tuturkan daiam bentuk pengakuan….

Sudah setahun lebih aku (didin) berusaha mencari pekerjaan untuk menafkahi keluargaku. Pekerjaan apapun, asalkan halal, pasti akan aku jalankan.Tak peduli berapapun upah yang kuterima, aku pasti menerimanya dengan ikhlas.

Namun, setelah ke sana kemari mencari pekerjaan yang kudambakan, ternyata hasilnya Tetap nol besar. Hanya kesedihan dan rasa putus asa yang harus kuterima.

Memang, di daerahku tempat tinggalku banyak pemuda seumurku yang menganggur. Mereka rata-rata hanya tamatan SD.Ya, sama seperti diriku ini. Padahai, meskipun umurku baru 20 tahun, tapi aku telah beristeri dan beranak satu.

Si kecil Haiimah yang baru berusia 10 bulan.Kuakui bahwa selama berumah tangga hampir dua tahun dengan Nyi Dedeh, aku masih menggantungkan belas kasih kepada Emak. Namun, belakangan ini ibuku mulai sakit sakitan di usianya yang paruh baya.

Aku menikah di usia belia karena “dipaksa oleh calon mertua. Dia tak mau anaknya dibiarkan berlama-lama menjadi perawan tua. Padahal, ketika kunikahi Nyi Dedeh ketika itu baru berusia l4tahun.

BACA JUGA:  PENUTUP AURAT DARI PANDANGAN JIN

Suatu hari, aku dikirimi surat oleh kakak iparku, Kang Suanta, yang kini tinggal di Bandung. Dia menyuruhku datang ke rumahnya di Jl. Babakan irigasi. Dia berjanji akan mencarikan pekerjaan untukku di Kota Kembang.

Namun dia memintaku agar datang sendirian ke rumahnya, karna dia mengaku tak bisa menjemputku sebab katanya sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Sebagai anak desa, aku belum pernah bebepergian jauh. Apalagi ke kota sebesar Bandung. Paling banter daerah yang pernah kujamah dari kampungku nun jauh di Garut Selatan adaiah kota Garut. Aku hanya tahu tentang Bandung dari mulut mertuaku, yang pernah tinggai cukup lama di kota itu.

Dia sangat bangga bisa tinggal di Bandung meskipun hanya bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di daerah Cibaduyut.

Ringkas cerita, kusanggupi tawaran Kang Suanta. Aku pergi ke Bandung. Setibanya di terminal bus Cicaheum, aku termangu. Bingung. Menurut Kang Suanta, kalau sudah tiba di Terminal Cicaheum, aku harus naik bus kota jurusan Cibeureum, kemudian minta berhenti di Jamika.

Dan di sana, katanya aku harus naik angkot warna biru jurusan Elang Ujungberung, dan berhenti di Jl.Terusan Pasirkoja.Tepat di depan gapura yang ada plang Jl. Babakan Irigasi aku harus berjaian kaki beberapa ratus meter.Di sanalah Kang Suanta tinggal.

Ah, membingungkan sekali rasanya. Apalagi perjalanan panjang dari Garut Selatan menuju Bandung telah membuat tubuhku sangat penat, dan perutku keroncongan.

Sambil coba menenangkan pikiran, aku duduk di bangku kios penjual makanan. Kuisi perutku dengan sepotong pisang goreng. Nah, ketika aku sedang asyik melahap makanan itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang lelaki tua sudah duduk di sampingku.

Lelaki tua itu menatapku dengan pandangan yang seolah menyelidik. Sebagai rasa hormat, kuanggukkan kepalaku sambil berusaha tersenyum. Lelaki berpakaian serba hitam yang umurnya sekitar 60 tahunan itu balas tersenyum.