KISAH KANTA, TAK SENGAJA SUKMANYA JALAN JALAN KE ALAM LAIN

Diposting pada

Daftar Isi

Pada krisis moneter 1998, situasi sulit massal juga pernah dialami bangsa tercinta ini. Tersebutlah ada seorang yg sukma nya “jalan-jalan” ke alam lain, karena kebanyakan melamun akibat kesulitan hidup saat itu. Berikut kisahnya:

Kisah Kanta dari Bandung
Kisahnya terjadi pada seorang penduduk Bandung yang bernama Kanta yang tidak sadarkan diri saat terlalu tinggi melamunnya. Ia adalah seorang korban PHK pada saat Indonesia tengah mengalami krisis moneter (1998).
Pada saat ia tengah melamun itu, tiba-tiba pemandangan di depannya bergoncang seperti terjadi gempa. Apa-apa yang ada di depannya, pepohonan, kandang ayam, selokan, kamar mandi, dan yang Iainnya lenyap. Kini yang muncul di hadapannya serba aneh. Semuanya serba lepas. Gunung-gunung yang tinggi. Padang rumput yang Iuas. Awan cerah putih membentang. la mencubit kulitnya untuk memastikan bukan mimpi, ternyata memang terasa sakit. Ia mulai merasa takut. Ia berteriak memanggil anak isterinya, namun tidak ada sahutan sama sekali.
Selanjutnya, dari kejauhan, Kanta melihat sesosok bayangan manusia yang mendatanginya. Ternyata ia adalah seorang kakek dengan berpakaian serba putih dan bertongkat.
Sosok itu semakin mendekat dengan berjalan di atas rerumputan. Kini Kanta dan kakek itu saling berhadapan. Mereka saling memandang. Kanta belum mengetahui siapa si kakek tersebut: seorang walikah, jin, atau malaikat. Kemudian si Kakek berkata, “Kanta, kau masih muda, masih banyak harapan ke depan. Kau pengecut, kau penakut.”
Kanta menyahut, “Tapi, Kakek ini siapa. Saya belum pernah berjumpa Kakek sebelumnya.”
“Kau tak perlu tahu siapa namaku, Kanta. Hanya aku adalah salah satu dari sekian banyak roh yang beredar dan hidup di atas langit dunia. Aku melihatmu melamun begitu tinggi. Dari terlalu tingginya kau melamun dan mengkhayal, sukmamu lepas keluar dari badan kasarmu. Aku melihatnya, dan itu sangat berbahaya, Kanta. Aku khawatir badan kasarmu yang telah kosong ditinggalkan sukmamu yang lepas ke atas, akan dikuasai oleh roh jahat yang banyak bertebaran di atas duniamu. Melamun dan mengkhayal memang tidak bisa dihindari dari kehidupan manusia, tapi melamun dan mengkhayal terlalu sering dan terlalu tinggi bisa mengakibatkan hal-hal yang buruk terhadap kehidupan manusia itu sendiri.
“Allah SWT melarang manusia melamun, karena itu pekerjaan tidak baik. Saya ingatkan sekali lagi Kanta, kau mengerti?” ujar sang Kakek.
“lya, Kek. Saya mengerti. Maafkan saya, Kek,” kata Kanta.
“Jangan minta maaf kepadaku Kanta,” tutur si Kakek, “bertobatlah kepada Allah SWT yang telah menciptakan dan mengurus kehidupanmu.”
Dari dialog-dialog berisi nasehat-nasehat itu, rasa takut Kanta mulai hilang. Kanta berbicara lagi: “Tapi saat ini saya sedang susah, Kek. Saya menganggur. Anak isteri saya butuh nafkah, Kek.”
“Jangan kau lanjutkan kata-katamu, Kanta. Semua penghuni alam ghaib, baik yang putih maupun yang hitam sedang menyaksikan segala kejadian dan kesulitan yang dialami oleh bangsamu. Kau seharusnya prihatin dan mawas diri, Kanta,” ucap Kakek itu.
“Maksud Kakek bagaimana?” sahut Kanta.
“Aku tak bisa menerangkan lebih lanjut, karena semua ini terjadi atas kehendak-Nya. Hanya camkan dalam dirimu bahwa manusia akan memperoleh baik dan buruknya atas apa yang diperbuatnya. Itu saja. Kalau manusia berbuat baik, maka hasil yang dipetiknya akan baik pula. Namun kalau manusia itu berbuat buruk, maka hasil yang akan dipetiknya pun akan buruk, Kanta,” ujar Kakek tersebut.
Kanta semakin antusias mengikuti pembicaraan itu. “Termasuk dosa juga mungkin, ya, Kek,” kata Kanta lagi.
“Manusia tidak akan luput dari kesalahan dan dosa. Tiap hari jumlah dosa yang dibuat selalu lebih banyak daripada perbuatan amal soleh, Kanta. Kanta, kamu sebagai rakyat kecil dalam bangsamu, tetapi semua manusia sama dan sejajar di hadapan Tuhan. Dosa dan kesalahan yang berlebihan menimbulkan murka Allah SWT, Kanta. Dan akan melahirkan azab atau siksa dunia walaupun yang berbuat hanya segelintir bangsamu. Tapi makan korban banyak, Kanta,” jelas si Kakek.

BACA JUGA:  CARA MEMBEDAKAN JIN, RUH DAN MALAIKAT.