Kisah Hikmah, Mualaf & Dinnar dari Akhirat

Diposting pada

Daftar Isi

Kisah Hikmah, Mualaf & Dinnar dari Akhirat

Dua kakak beradik Majusi (penyembah api), kecewa dengan api yang mereka sembah. Pasalnya, waktu dites, api itu tidak jadi dingin, tapi malah membakar jemari si adik. Padahal sudah mereka sembah bertahun-tahun.

Di tengah galau bimbang mereka, keduanya mendengar tentang Islam. Dan di daerah nun jauh di sana, katanya, ada salah satu orang ampuh yang menyebarkan agama Islam bernama Malik bin Dinar.

Kakak beradik itu mantap berangkat ke majelis Malik bin Dinar untuk mengenal Islam. Namun, baru pertengahan jalan sang kakak surut langkah, dengan alasan khawatir cacian keluarga dan tetangganya. Sedang sang adik tetap berjalan membawa serta istri dan anaknya.

Sesampai di majelis Syekh Malik bin Dinar, keluarga kecil itu mendengarkan pengajian sampai usai. Setelahnya, baru menyampaikan kisah dan tujuannya.

Langsung, hadirin yang belum bubar menangis berjamaah! Terharu ada Majusi yang menyembah api puluhan tahun masuk Islam.

“Nantilah sebentar, jangan beranjak pergi dulu,” rayu Syekh Malik bin Dinar, “Tunggulah sebentar, kami akan mengumpulkan sedikit uang untuk bekal kalian sekeluarga.”

“Maaf, kami tidak ingin menjual agama ini dengan uang!” jawab mualaf itu tegas, lalu ia pamit meninggalkan majelis.

Kemudian keluarga kecil itu meninggalkan majelis Malik bin Dinar dan memasuki rumah kosong hampir roboh yang mereka temukan sebagai ganti rumah asri yang mereka tinggalkan nun jauh di sana.

Sesampai di rumah, si istri meminta:

“Yah, cobalah Ayah mencari pekerjaan di pasar, dan nanti, belilah dengan uang hasil kerjamu, sesuatu yang bisa kami makan.”

Sang suami mengiyakan, lalu pergi ke pasar menawarkan tenaganya. Namun nahas, orang sebanyak itu, tidak ada satu pun yang mau menggunakan tenaganya.

BACA JUGA:  PEMUDA YANG TERTIDUR 309 TAHUN

“Ah, bagaimana kalau aku bekerja pada Allah saja?” batinnya ditengah deraan putus asa.

Lalu, ia melangkahkan kaki menuju masjid, mengerjakan shalat berjam-jam hingga malam. Kemudian pulang dengan tangan hampa.

“Hari ini, kau tidak dapat apa-apa?” tanya sang istri setelah melihat lesu pada wajah suaminya.

“Hai, sayangku. Hari ini aku bekerja kepada Allah yang menguasai segenap kerajaan. Tapi Ia belum memberikan ongkos, mungkin besok akan membayarnya.”

Dan keluarga kecil itu menahan lapar dalam kedinginan malam yang menusuk.

Keesokan harinya, dengan semangat tinggi, sang suami mengulangi apa yang dilakukan kemarin, yakni ke pasar dulu, kalau tidak ada yang menggunakan tenaganya baru ke Masjid untuk “berdagang” kepada Allah sampai malam.

Tapi, lagi-lagi hasilnya nihil. Pulang malam tidak membawa apa-apa. Jadilah keluarga itu hanya minum air selama dua hari, tanpa makanan.

Di hari ketiga, yang kebetulan hari Jumat, ia mengulangi aktivitasnya ke pasar. Lemas dia, sebab hari itupun tidak ada orang yang mempekejakannya. Padahal dua perut yang menunggu di rumah sudah menjerit kelaparan.