KISAH HASAN AL BASRI DAN PUTRA SULTAN YANG MENINGGAL

Diposting pada

Daftar Isi

Imam Hasan Al-Basri sebelum memutuskan bertobat dan menjadi seorang sufi didahului dengan pengalaman rohani yang menggugah hati. Kisah tentang ziarah ke makam putra seorang kaisar menjadikan Hasan Al-Basri bersumpah untuk lebih banyak beribadah.

Farid al-Din Attar dalam bukunya berjudul Tadhkirat al-Auliya’ berkisah pada awalnya Imam Hasan al-Basri adalah seorang penjual permata, karena itulah dia memiliki julukan sebagai Hasan si pedagang mutiara.

Imam Hasan al-Basri menjual barang-barangnya sampai ke Bizantium, dan di sana dia kenal dekat dengan para jenderal dan menteri Kaisar Bizantium.

Suatu waktu, ketika Hasan al-Basri sedang berada di Bizantium. Ia bertemu dengan Perdana Menteri untuk berbincang-bincang.

Setelah sekian lama berbincang-bincang, Perdana Menteri mengajak Hasan ke suatu tempat, dia berkata, “Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat.”

Hasan menjawab, “Terserah engkau, ke mana pun aku ikut.”

Menteri kemudian memerintahkan kepada bawahannya untuk menyiapkan kuda, satu untuk dirinya dan satu untuk Hasan al-Basri. Setelah keduanya menaiki kuda, mereka berangkat menuju ke padang pasir.

Setelah sampai, Hasan al-Basri melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium. Tenda itu diikat dengan tali sutra dan pancang-pancangnya yang menancap ke tanah terbuat dari emas. Hasan memerhatikan tenda itu dari kejauhan.

Tidak lama kemudian, datang sekelompok pasukan dengan persenjataan yang lengkap. Mereka lalu mengelilingi tenda tersebut, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi.

Kemudian setelahnya datang para ahli filsafat dan cerdik pandai yang jumlahnya hampir mencapai 400 orang. Mereka melakukan hal yang sama dengan para prajurit sebelumnya, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi.

BACA JUGA:  Tasawuf Menjernihkan Kembali Kalbu

Hasan al-Basri merasa sangat keheranan melihat kejadian-kejadian itu, dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apa maksud dari semua ini?”

Hasan lalu bertanya kepada Perdana Menteri. Menteri kemudian bercerita, bahwa dulu Kaisar memiliki seorang putra tampan yang menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tidak seorang pun yang dapat menandinginya.

Kaisar sangat sayang kepada putranya itu. Namun tanpa diduga-diduga, putranya jatuh sakit. Semua tabib, semahir apa pun tidak dapat menyembuhkannya.

Di bawah tenda itulah tempat sang putra terbaring sakit, dan di tempat itu pula dia akhirnya dimakamkan. Kini, setiap tahun orang-orang datang untuk menziarahi makamnya.

Kemudian sekelompok pasukan yang tadi pergi datang kembali, mereka berkata, “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimpamu ini datang dari Dia yang tidak sanggup kami perangi dan tidak dapat kami tentang.” Setelah berkata demikian, mereka pun pergi kembali.