KISAH HABIB LUTHFI MONDOK DI KEDUNG PARUK

Diposting pada

Daftar Isi

KEAJAIBAN SHOLAWAT
kisah:KULI PASAR YANG SHOLEH

Waktu saya mondok di Kedung Paruk Purwokerto. Disana ada pekerja kasar, tukang kuli angkut bernama Darjo. Setelah 9 tahun meninggal, cucunya juga kemudian ikut meninggal. Maksud orang tua anak itu, ingin anaknya dimakamkan didekat makam kakek-nya (Darjo), terlebih di pemakaman itu banyak orang shaleh, seperti Ayahya Mbah Kiai Abdul Malik (Kiai Ilyas).

Akhirnya, dengan beberapa alasan kuburan pak Darjo dibongkar, setelah digali 1,5 m ternyata bambunya masih hijau, kain kafannya masih utuh, wangi luar biasa seperti baru dimakamkan beberapa jam. Setelah kejadian itu saya menghadap ke guru saya Mbah Kiai Abdul Malik, mau laporan ke Mbah Malik.

Baca juga:  KISAH HABIB UMAR BIN THOHA BIN YAHYA INDRAMAYU MENGIMAMI SHOLAT JAMAAH DI JABAL QOF

Saat itu Mbah Kiai Abdul Malik sedang duduk santai di depan rumah, tersenyum melihat kedatangan saya. Tiba-tiba mbah Malik bilang, “Bagaimana Darjo mayitnya masih utuh?” Belum bicara Mbah Malik sudah menjelaskan. Kata beliau, Darjo itu istiqamah setiap malam tidak pernah meninggalkan membaca shalawat, sebelum membaca shalawat sebanyak 16.000, Darjo enggan tidur. Shalawatnya “Allahumma shali ala Muhammad, Allahumma Shali ala Muhammad”. Secara lahiriah kuli kasar, tapi ternyata Pak Darjo temasuk orang saleh.

Kita tidak harus membaca 16.000, minimal 300 saja setiap malam sudah bagus. Siapa yang membaca shalawat tiap hari buat keluarga dan putra-putrinya tiap malam 300 kali, Insya Allah putra-putrinya akan diberkahi, dan jika nakal senakal apapun anaknya, pada waktunya akan menjadi baik. Insya Allah.

Baca juga:  KAROMAH HABIB JA'FAR AL-KAFF KUDUS JADI 7

(Maulana Habib Lutfi bin Yahya)