KISAH CINTA SEORANG PEMUDA KEPADA RASULULLAH DAN WAFAT DI PANGKUAN BAGINDA NABI S.A.W

Diposting pada

Daftar Isi

KISAH CINTA SEORANG PEMUDA KEPADA RASULULLAH DAN WAFAT DI PANGKUAN BAGINDA NABI S.A.W.

Suatu saat pemuda ini hendak pulang. Saat perjalanan pulang Ia melewati satu rumah yang sangat sederhana, dan kebetulan rumah itu terbuka pintunya, dan tanpa sengaja saat melintasi rumah itu si pemuda menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka, bersamaan dengan itu Ia tanpa sengaja melihat si penghuni rumah (Wanita) yang kebetulan keluar dari kamar mandi.

Dan karena kejadian itu, si pemuda ini menangis sejadi-jadinya, kemudian Ia lari tanpa arah sampai keluar dari kota Madinah, ia malu atas perbuatan yang baru saja ia lakukan.

Ia berkata,
“Mataku ini tak pantas memandang wajah mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tubuh ini tak pantas bersanding dengan tubuh mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم”

🌷ALLAHUMMA SALLI ALA MUHAMMAD🌷

Baca juga:  KISAH ALI BIN ABI THALIB MELAMAR FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW

Begitu besar rasa cintanya kepada Baginda Nabi, Ia merasa tak tulus dalam cintanya karena ia telah melanggar apa yang dilarang oleh sang kekasih tercinta, Ia malu dan merasa tak pantas lagi bersama sang kekasih. Meskipun pada hakikatnya perbuatan itu, tidak melanggar, karena ia tanpa sengaja melakukan itu.

Akhirnya Ia bersembunyi diantara dua bukit di perbatasan kota Madinah.

Setelah beberapa hari Rasulullah tak melihat si pemuda, Beliau pun menanyakannya kepada para sahabat,
“Kemanakah si pemuda ( Tsa’laba bin Abdurrahman ) Apakah dia sakit?”.

Akhirnya Rasulullah pun mengutus sahabatnya Umar bin Khattab dan seorang yang menemani, untuk mencari si pemuda.

Berangkatlah Sayyidina Umar pergi mencari ketempat yang diisyaratkan oleh Baginda Rasul, setelah sampai di tempat tsb, Umar tak menemukan siapapun, yang ada hanya bukit berbatu dan hamparan padang pasir. Umar pun terus menyusuri padang yang menghampar.

Baca juga:  RASULLULLAH BERBICARA DENGAN LEBAH

Hingga tak lama mereka berdua menemukan seorang pengembala kambing, Umar pun mengampiri si Pengembala, dan bertanya,
“Hai Bapak, apakah engkau melihat seorang pemuda dengan ciri-ciri ia orangnya periang, dan selalu tersenyum?”.

Si Bapak ini pun menjawab,
“Kami tak pernah melihat pemuda seperti yang anda sebutkan tsb. Ada si pemuda yang biasanya kesini untuk meminta air minum padaku, wajahnya murung dan sering menangis, setelah usai meminta minum ia kembali lari lagi ke atas bukit, Sepertinya bukan dia yang anda cari tuan.”

“Dimanakah dia wahai pengembala? Aku ingin melihatnya” tanya Sayyidina Umar.

Si pengembala pun menunjukkan tempat dimana si pemuda itu berada.