Kisah Abu Nawas Dikasih Jabatan Malah Pura-Pura Gila di Depan Raja

Diposting pada

Daftar Isi

KISAH lucu Abu Nawas kali ini menceritakan sosok sufi tersebut pura-pura gila di depan raja. Diawali dari suatu hari ketika ayah Abu Nawas yang merupakan penghulu istana sakit parah dan kritis. Ia pun memanggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas datang, lalu mendapati ayahnya yang sudah sangat lemah.

“Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku,” kata ayahanda Abu Nawas, seperti dikutip dari laman nu.or .id, Rabu (15/12/2021).

Abu Nawas segera menuruti permintaan ayahnya. Dia mencium telinga kanan ayahnya, ternyata beraroma harum. Sedangkan telinga sebelah kiri berbau sangat busuk.

“Bagaimana anakku? Sudah kau cium?” tanya ayahnya.

“Sudah, ayah,” jawab Abu Nawas.

“Ceritakan dengan sejujurnya aroma kedua telingaku ini,” ucap ayah Abu Nawas.

“Aduh, yah. Sungguh mengherankan. Telinga ayah yang sebelah kanan harum sekali, tapi yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?” ungkap Abu Nawas.

“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begitu?” tutur sang ayah.

“Wahai ayahku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini,” pinta Abu Nawas.

“Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah risiko menjadi qadi (penghulu),” jelas ayahanda Abu Nawas.

BACA JUGA:  Hikayat Abu Nawas : Dosa Besar dan Dosa Kecil

“Jika kelak kau suka menjadi qadi, maka kau akan mengalami hal yang sama. Namun jika kau tidak suka menjadi qadi, maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai qadi oleh Raja Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Raja Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai qadi,” lanjutnya.

Itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi qadi. Seorang qadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara.

Walaupun tidak menjadi qadi, Abu Nawas sering diajak konsultasi oleh Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan, dia kerap kali dipaksa datang ke istana untuk sekadar menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Wallahu a’lam bishawab.