KAROMAH KAROMAH WALI ALLAH

Mengenai Karomah Karomah Wali Allah, Berdasarkan kitab Al-Tabaqat al-Kubra karya Imam ‘Abdul Rauf al-Munawi r.a. dan juga dalam kitab Mawaqi’ al-Nujum karya Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi r.a.

Ada wali yang mampu menyingkap alam gaib, hingga dinding dan kegelapan tidak menghalanginya untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang di dalam rumah mereka.
Ada wali yang ketika berjumpa dengan seorang pezina, pemabuk, pencuri, pencela, atau orang yang suka berbuat zalim, ia melihat goresan tanda hitam pada anggota tubuh mereka yang melakukan maksiat ‘Ali Abi Ya’zi, guru Ibnu ‘Arabi, termasuk wali yang menempati maqam ini. Mukasyafah ini khusus bagi orang yang bersifat wara’ (orang yang benar-benar menjauhi maksiat dan syubhat).

Ada wali yang jika ada orang yang ribut atau diam di majelisnya, ia mengetahui derajat dan apa yang akan terjadi dengan orang itu, kenyataannya sesuai dengan apa yang dikatakan wali itu, dan ia selamanya tidak akan salah. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki ribut di majelis Abu Madyan, lalu orang itu disuruh keluar.

Abu Madyan berkata, “Kamu akan melihat keadaanya setahun kemudian.” Sebagian orang yang hadir meminta penjelasan, lalu Abu Madyan berkata, “Ia akan menganggap dirinya Imam Mahdi.” Dua puluh tahun kemudian, apa yang dikatakan Abu Madyan terjadi. Kemampuan ini berasal dari ilmu ladunni.
Ada wali yang tatkala bangun tidur, di hadapannya sudah tersedia minuman dari madu, susu, dan air, lalu ia meminumnya.
Ada wali yang mampu mengetahui alam ruhani yang berbeda dengan alam fisik, tetapi ia tidak menggelutinya.

Ada wali yang mampu mengetahui rahasia batu-batu mineral, dan semacamnya. Ia mengetahui khasiat, rahasia, dan bahaya dari batu-batu itu.

Ada wali yang dianugerahi maqam bisa memahami Allah dan mendengar tanda-tanda kekuasaan-Nya, sehingga ia bisa mendengar ucapan benda-benda mati. Apakah kemampuan itu termasuk hal yang biasa atau luar biasa tergantung pada tingkatan pemahaman terhadap ucapan benda mati. Yang termasuk hal luar biasa ada 2 macam. Pertama, merujuk pada orang yang mendengarnya, yakni kemampuan memahami hakikat ucapan benda mati. Kedua, merujuk pada ucapan benda-mati itu sendiri melalui karamah, misalnya bertasbihnya kerikil di telapak tangan sebagian sahabat. Apabila seorang hamba memperoleh maqam ini, maka ia akan mendengar semua benda mati bertasbih dengan bahasa yang jelas seperti bahasa manusia.

Baca juga:  Habib Luthfi bin Yahya: Tentang Sufi dan Rahasia Ilahi

Tags: #Karomah #Macam-Macam Wali

Comments are closed.