Rahasia titik Ba

KARAM DALAM DIRI

Diposting pada

KARAM DIRI

Barang Siapa Mengenali Dirinya maka sesungguhnya dia Mengenali Allah
Barang siapa Mengenali Dirinya maka sesungguhnya dia telah benar-benar Mengenali Allah
Barang siapa Mengenali Dirinya maka sesungguhnya dia telah Mengingati Allah
Barang siapa Mengenali Dirinya maka sesungguhnya dia telah Sempurna memuji Allah
Hakikat Diri kita ini adalah tiada daya upaya dan tiada kekuatan. Jika kita menyebutkan bahwa kitalah yang Menyembah Allah, itu adalah terlalu Mustahil, sebab kita tak Wujud Sebenar-benarnya dan kita tiada daya upaya dan kekuatan serta kehendak.

Maka sewaktu kita bersolat sebenar-benar yang bersolat dan Menyembah Allah itu adalah Allah sendiri. Allah lah yang Menyembah Diri-Nya sendiri Kita hanya Alat saja.

Seumpama sebatang pena yang digunakan oleh penulis untuk menulis sajak atau puisi memuji Dirinya. Sebagai pena yang digunakan oleh penulis, tak layak mendabik Dada mengatakan bahwa pena lah yang menulis semua puisi dan sajak itu. Karena pena itu jika penulis tak angkat dan tak gerakkannya masakan dia boleh menulis?

Baca juga:  Junaid al Baghdadi Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik

Begitulah dengan Diri kita ini tak ada kekuatan dan kehendak sewaktu kita mampu berdiri dan menggerakkan anggota kita melakukan semua Amalan dalam Solat, sebenarnya kekuatan dan kehendak itu adalah milik Allah.

Maka begitulah dengan nak Mengenal Allah. Mana mungkin kita dapat Mengenal Allah dengan kekuatan ingatan kita.

Kita mana ada kekuatan ingatan sebab kita tak wujud dan tiada Daya Upaya. Maka Allah lah Yang Mengenali Dirinya Sendiri. Sebagaimana Allah lah yang Menyembah Diri-Nya Sendiri dan kita ini adalah alat atau tool yang Dia gunakan untuk memuja, memuji dan Menyembah-Nya.

Sebenarnya bukannya kita yang mengenali Allah, sebagaimana bukannya kita yang Menyembah dan Memuji Allah. Yang Mengenal, memuja, memuji dan MengAbdikan Diri itu adalah Allah jua.

Maka oleh karena itu, kita hendaklah menyerah kembali segala-galanya kepada Allah. Dalam arti kata jangan kita mengaku bahwa kitalah yang Mengenal Mengingat, Menyembah Allah.Kita tak layak memakai pakaian Allah.

Hanya Allah saja yang layak mengenali Diri-Nya bukannya kita yang mengenali Diri-Nya.
Apabila kita sampai ke garisan penamat ilmu Makrifat ini, dan kita RASA bahwa kita tiada Daya Upaya, maka meletup dan meledak
La hawla Wala Quwwata illa billah
Dengan sebab itu maka lahirlah Ucapan yang tidak difahami oleh orang awam, iaitu ucapan : AKU TIDAK ADA
AKU MANA ADA
BUKAN AKU YANG BAWA KERETA ITU, ALLAHLAH YANG MEMANDU KERETA ITU

Baca juga:  Fudhail bin Iyadh, Perampok Yang Menempuh Jalan Sufi

Ucapan-ucapan seperti ini jika didengar oleh orang yang jiwanya Sarat dengan Cinta kepada Dunia dan Bencikan Maut, akan muncullah dari Bibir mereka tuduhan melulu terhadap orang yang mengucapkan ucapan yang karam dalam Wajah Allah ini. Seumpama tuduhan sesat, gila, menyeleweng dan sebagainya.

Kalam Makrifat ini terlalu halus untuk dimengertikan oleh orang awam. Karena terlalu halus hingga menyebabkan Mata Hatinya tidak dapat memandang dan melihat pengertian sebenar ucapan dari mereka yang sudah karam dalam Zauq terhadap Allah. Zauq dalam wajah Allah.