JUNAID AL BAGHDADI PEGULAT YANG MENJADI WALI

Diposting pada

Daftar Isi

MENJADI WALI KARENA CINTANYA KEPADA KETURUN NABI MUHAMMAD SAW

Junaid al Baghdadi sufi yang terkenal dan menjadi rujukan bagi sufi sufi pada zamannya,

Beliau sangat disegani dan diikuti saran dan fatwanya, murid murid banyak sekali.

Di waktu mudanya Imam Junaid al-Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional. Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan :

“Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?” Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :

“Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia.”

Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan. Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan.

Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring. Ia berusia sekitar 65 tahun. Ketika sang juara bertahan Junaid al-Baghdadi memasuki ring, ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, “Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?” Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :

Artikel Pilihan:  TOKOH TOKOH SUFI ABAD KE ABAD

“Dekatkanlah aku kepada telingamu,Dengarkan kata-kataku,” Ia kemudian berbisik : *”Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini karenaku.?

Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah ﷺ akan senang/ridha dengan engkau. Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?”