IMAM SUFYAN TSAURI: KISAH ANAK SI TUKANG RIBA

Diposting pada

Daftar Isi

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Imam Sufyan ats-Tsauri berkisah, “Aku pergi haji, tatkala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seorang pemuda yang tidak mengucapkan doa apa pun selain hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Hal itu dia lakukan baik ketika di Ka’bah, Padang Arafah, Mudzdalifah, Mina, maupun ketika tawaf di Baitullah, doa yang ia baca hanya shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Saat aku melihat ada kesempatan, aku pun berkata kepadanya, “Wahai sabahatku, di setiap tempat yang kita datangi dalam ibadah haji ini ada doa yang secara khusus dituntunkan, jika engkau belum mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu!”

Pemuda itu menjawab, “Aku sudah mengetahui semua itu, kini izinkanlah aku untuk menceritakan kepadamu apa sebenarnya yang telah terjadi padaku sehingga aku hanya membaca shalawat seperti yang engkau saksikan.”

Pemuda itu melanjutkan ucapannya, “Aku berasal dari Khurasan, ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan ibadah haji, naik turun gunung, lembah dan gurun.

Kami akhirnya memasuki kota Kufah, di sana ayahku jatuh sakit dan tengah malam dia meninggal dunia, aku pun mengafani jenazahnya agar tidak mengganggu jamaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku yang telah meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu, akan tetapi kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai.

Terhenyak oleh pemandangan itu, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan, aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain, keletihan dan kebingungan menyatu dalam diriku hingga membuat aku tertidur.

Dalam tidurku aku melihat pintu tenda kami terbuka, tampaklah sesosok manusia bercadar seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Betapa sedihnya raut wajahmu, ada apa gerangan?”

Aku pun menjawab, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita, tapi aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.”

Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya, aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya, wajahnya bersinar seperti bulan purnama.

Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah engkau, wahai kekasih kebaikan?”

Dia menjawab, “Aku, Muhammad al-Musthafa.” (Semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya).

Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kaki beliau saw, aku menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya Ya Rasulullah.”

Kemudian dengan lembut beliau saw berkata, “Ayahmu sebelumnya adalah tukang riba, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, wajah mereka akan berubah menjadi wajah keledai.

Tetapi di sini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu, ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik, setiap malam sebelum tidur dia melafalkan shalawat seratus kali untukku.

Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafa’at karena shalawatnya kepadaku, setelah diizinkan aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafa’atku.”

Imam Sufyan ats-Tsauri menuturkan, “Pemuda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk selalu bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.”

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku.

Jibril AS berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan kubawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”

Berkata pula Mikail AS, “Mereka yang bershalawat atasmu kuberi mereka itu minum dari telagamu.”

Israfil AS berkata, “Mereka yang bershalawat atasmu, maka aku akan bersujud kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala dan aku tidak mengangkat kepalaku sehingga Allah mengampuni orang itu.”

Kemudian Malaikat Izrail AS berkata, “Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan kucabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya.”

Dengan kisah yang dikemukakan ini, semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah Ta’ala, rasul-Nya, dan para malaikat-Nya.

Disadur dari buku Hikayat-hikayat Spiritual Pencerahan Matahati “Nafas Cinta Ilahi”, sebagaimana yang tertulis di http:/maulabasyaiban.blogspot.com/2008/11/kisah-keajaiban-shalawat-nabi.html, dengan sejumlah perubahan redaksi oleh penulis.