GUS YAHYA DIDORONG JIN WANITA SEJAUH 35 KM

Diposting pada

Daftar Isi

Ternyata, kisah menundukkan jin tidak hanya berkisar pada ulama terdahulu seperti Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani dan lain lain. Ternyata ulama zaman modern pun memiliki banyak kisah seperti itu.

Tersebutlah seorang ulama yang halus tutur katanya, lemah lembut dan terkenal sangat tawadlu, rendah hati. Beliau bernama Kyai Muslih Zuhdi rahimahullah. Ternyata dibalik kelembutannya, ia adalah seorang yang sangat sakti. Ia dikenal memiliki ajian “Sampar Angin”. Sebuah ajian dahsyat yang membuat pemiliknya bisa bergerak sangat cepat. Hanya hitungan detik atau menit untuk menempuh jarak yang sangat jauh tanpa kendaraan.

Ajian ini sempat pula beliau ijazahkan kepada Kyai yang dikenal kalem danmenjadi ulama paling diperhatikan di lingkungan Nahdlatul Ulama, Kyai Musthafa Bisri, yang biasa dipanggil dengan sebutan Gus Mus.

Gus Mus mendapat ijazah ajian Sampar Angin ini dengan pesan yang aneh dari pemberinya, yakni Kyai Muslih Zuhdi, “Terimalah ijazah ini, tapi jangan diamalkan!”

Gus Mus pun melongo. Kenapa memberi ijazah tapi tidak boleh diamalkan? Tapi karena ini dawuh Kyai, maka beliau patuh saja tidak berani membantah. Kyai Zuhdi menambahkan, “Karena bekerjanya ajian ini dengan menggunakan bantuan jin. Tak baik memperalat jin” tandas Kyai Zuhdi.

Dan memang jin itu patuh pada manusia yang diberi kekuasaan oleh Allah Ta’ala. Sehingga ketika suatu waktu. Gus Yahya (Keponakan Gus Mus) yang mondok di Krapyak Yogyakarta hendak pulang ke Rembang menggunakan motor vespa PS 150 yang sudah berumur. Pada kesempatan itu pula, Gus Syafi’ (putra Kyai Muslih Zuhdi yang memberi ijazah Gus Mus) ikut membonceng Gus Yahya karena sama sama ingin pulang ke Rembang.

Baca juga:  KISAH NYATA MANUSIA HIDUP DI ALAM JIN

Musim hujan membuat perjalanan dengan vespa tua itu semakin lambat. Bahkan ketika sampai di daerah Pati vespa itu pun mogok. Biasanya dibongkar businya, digosok, bisa jalan lagi. Tapi kali ini tidak. Vespa itu seperti kerbau yang mogok membajak sawah. Bahkan busi baru yang sudah disiapkan pun tidak menjadi solusi.

Keringat Gus Yahya mengalir deras bersaing dengan tetesan gerimis. Kaki sudah ngilu karena berkali kali harus “mancal” pedal stater. Akhirnya setelah digenjot berulang ulang dengan “histeris” vespa itu mau jalan.

“Ayo Mas, cepat” kata Gus Yahya kepada Gus Syafi’ karena khawatir motornya mogok lagi. Apalagi ini sudah lewat waktu maghrib.

Gus Syafi’ segera loncat ke boncengan dan vespa itu di-geber paksa, suara vespa itu sangat keras dan terdengar sungguh merana. Tapi ia melaju lumayan cepat.  Tepat di tugu batas kota Rembang vespa itu mogok lagi, seperti unta yang kelelahan. Tak kuat lagi berjalan. Untung saja , di dekat situ adalah rumah Mbah Masrur yang masih kerabat Gus Yahya.

Isteri Mbah Masrur, melongok keluar dari toko kelontong miliknya. “Kamu Yahya?”

 “Nggih, Mbah”.

“Lha embahmu (Kyai Masrur) tadi malah berangkat ke Leteh”. Leteh itu rumah keluarga Gus Yahya. Maksudnya, Mbah Masrur justru pergi ke rumah Gus Yahya, sekitar dua kilometer dari situ.

Maka Gus Yahya dan Gus Syafi’ mampir istirahat di rumah Mbah Masrur. Belum lama Gus Yahya duduk di rumah itu, Mbah Masrur datang dengan memabwa Suzuki Carry, mobil dinas milik Kyai Kholil Bisri (ayah Gus Yahya).

Baca juga:  WUJUD FISIK JIN

“Lho! Kok sudah disini?” kata Mbah Masrur, “Baru saja mau kususul ke Pati. Katanya mogok di Pati? Ini baru mau ke sana”.

Saya bingung. “Kok tahu saya mogok di Pati Mbah?”

“Dikasih tahu Aminah”.

“Aminah siapa?”

Mbah Masrur lantas menjelaskan bahwa ia punya jin perempuan bernama Aminah. Habis shalat maghrib tadi, Aminah mengabarinya, “Cucumu (Gus Yahya) Vespanya mogok di Pati”.

Lha mbok kamu tolong! Bantu dorong sana !”

Jadi, dari Pati sampai ke depan rumah Mbah Masrur (Rembang), Aminah mendorong vespa itu. (Jarak Pati-Rembang sejauh 35 KM)

“Tahu begitu, persnelengnya aku nol-kan tadi…,” kata Gus Yahya berseloroh sambil membayangkan betapa capeknya Aminah mendorong Vespa yang nyaris terus-menerus dipasang gigi satu karena takut mogok.

“Tahu begitu, aku nggak mau mbonceng!” kata Gus Syafi’ sambil tersenyum dan mengelus-elus tengkuknya yang merinding.

Wallahu A’lam.

Alhamdu lillahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Ahad Kliwon, 24 Februari 2019 M / 19 Jumadil Akhir 1440 H (Repost)

Wawan Setiawan

Sumber :

Syaikh Mahfudz Termas, Nabi Khidlir dan Keramat Para Wali, terjemah dari Kitab Bughyatul Adzkiya fil bahtsi ‘an karamatil Awliya’ menukil kitab Hayatul Hayawan karangan Syaikh Muhammad bin Musa bin Isa bin Muhammmad Syekh Kamaluddin Abul Baqa’ Ad-Damiri Al-Mishri Asy-Syafi’i

Teronggosong.com