GUS DUR DAN SEORANG TABIB DI TEGAL

GUS DUR DAN SEORANG TABIB DI TEGAL

Saat itu saya sedang dalam sebuah perjalanan ke sebuah kota, dengan tujuan untuk bertemu dengan kawan lama. Namanya saya sebut Kang Tabib. Setelah berbasa-basi ala kadarnya, saya bercerita kepada Kang Tabib, mampir dulu di Cirebon. Di Cirebon bertemu dgn salah satu guru Gusdurian, sahabat Marzuki Wahid; dan sempat bertemu dgn KH. Mustafa Aqil Siradj, yg biasa dipanggil Kang Mu. Ketika bertemu Kang Mu, begitu teman2 Cirebon memanggilnya, mengajarkan makna dan sejarah NU yang 32 tahun mau dibunuh rezim Orba, tetapi tetap hidup; karena adanya pilar2 kultural dan para kiai yg berdoa terus menerus.

Kang Tabib bertanya: “Ada yang bisa dibagi ceritanya Kang, dari Cirebon selain itu?”

Saya diam sesaat, tetapi kemudian menceritakan: “Ketika mau ziarah ke beberapa pemakaman di Cirebon, saya ditemani Kang Cilik, yang membawaku ke pemakaman keramat Sayyid Abdurrahman di Cirebon. Setelah itu kami berdiskusi di rumah Kang Cilik yg sederhana, dan di akhir pertemuan Kang Cilik memberi nasihat dengan tiga hal. Nasihatnya, yg saya ingat, hidup ini harus didasari dgn sumur, kapur, dan mbako. Tiga ilmu itu diperoleh dari gurunya: sumur, artinya harus punya ilmu yg bisa ditimba untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan diamalkan untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya bisa ditimba orang; kafur, ingat kepada yg Maha Ghofur, selalu memohon ampun atas berbagai kesalahan dgn istighfar kepada Alloh, agar; kesalahan2 seperti kapur yg ditulis di papan bisa terhapus; dan mbako (bahan utama untuk nglinting rokok), artinya adalah baqo’ adalah melanggengkan dzikir, dan orang yg nglinting mbako, kalau langgeng dzikirnya, bisa menemukan dan memperoleh anugerah Alloh.”

Kang Tabib menambahkan: “Apa masih ada lagi?”

Saya mengingat2 dan menjelaskan: “Setelah itu, Kang Cilik menyebutkan bahwa untuk memperoleh dan menemukan berkah anugerah Alloh itu, orang itu harus sanggup berjalan mengarungi hidup dgn tiga hal pula, dan harus sanggup menjalaninya, yaitu: usus watu, galih kangkung, dan petarangan angin. Tiga hal itu dimaknai begini: usus watu, dalam kondisi apa pun, kesedihan, kesengsaraan, usus kita ini harus seperti watu, tahan uji, dan dari situ akan melahirkan kelembutan hati, kesabaran dan dinamis; Galih Kangkung, adalah perumpamaan di mana pohon kangkung itu tidak ada galihnya, agar punya keyakinan yang kuat kepada Alloh, yaqin, di tengah kehidupan yg bisa mengombang-ambingkan, dan yaqin itu adalah galih yang menjadi sandaran setiap orang mukmin.”

Baca juga:  MBAH IROM WALI MASTUR

Saya melanjutkan: “Tentang petarangan angin, menurut Kang Cilik, adalah simbol untuk menunjukkan bahwa di tengah kehidupan kita harus senantiasa bisa melahirkan manfaat dengan prinsip yg kuat (ibarat burung bertelur lewat sebuah petarangan), meskipun terlihat kecil. Petarangan angin itu ibarat kita membuat petarangan dalam amal2 yg kita lakukan, yg sejatinya kita ini berada di atas angin, dan angin adalah nafs kita dalam seluruh perjalanan. Maka kita harus bisa menjadikan petarangan itu berbuah dan menetas, hanya dgn keyakinan yg kuat kepada Alloh. Sebab tanpa itu, angin selalu menggoyang petarangan itu, dan memusnahkan amal2 itu.”

“Apa masih ada lagi?”

“Ketika berkunjung ke seorang guru ahli mudawamah Dalail Khoirot yg memperoleh melalui jalur al-Mujiz dari Jekulo, shohibul Mujiz yg terkenal itu. Kami bersilaturahmi dan mendengarakan hikmah2nya. Salah satunya, jangan pernah melupakan sholawat. Menurutnya, Dalail Khoirot itu initinya sholawat dan doa.”

Kang Tabib, adalah salah seorang di antara sahabat kami yg menekuni dunia pengobatan alternatif, tatkala sebagaian besar sahabat2 kami menjadi dosen,PNS dan terjun di politik praktis. Kang Tabib, ketika masih di kampus dulu adalah salah satu pemimpin demo, dan ketika orasi selalu berapi2 menggugah rekan2nya. Meski selalu tampil demo, ketika sering berkunjung ke rumah kami dan berdiskusi, saya tahu dia ini sering tirakat dan berpuasa. Saya sendiri baru tahu kalau dia menekuni dunia pengobatan ini, sebagaimana sebagian guru Nahdliyin di Patianrowo Jawa Timur.

“Bagaimana Kang, dari seorang pendemo berapi2 bisa berubah menekuni dunia seperti ini,” kataku.

“Nasib aja kang.” jawabnya.

“Gus Dur kan tidak menekuni pengobatan, ha ha ha,” aku menyindir sambil lalu.

“Lha iya, tapi kan juga tidak seperti itu cara memahami Gus Dur.”

“Maksudnya?”

“Begini-begini ini juga ada berkahnya Gus Dur, lho? Baru nyadar, Gus Dur itu meluas lho Kang?”

“Ok.Ok. Ok. Bagaimana ceritanya.”

Kang Tabib menjelaskan: “Dalam semua pergulatan, saya diantarkan untuk menekuni jalan seperti ini. Saya sangat merindukan Guru Kita ini, Gus Dur. Tapi jarak kami jauh dan tidak ada kemampuan untuk ke Jombang. Dan saya hanya bisa sampai di Giren, Tegal. Di makam Syaikh Armia dan guru2 ternama di Tegal, para auliya’ yang di makamkan di Giren. Di Giren ini saya tirakat, ingin bertemu Gus Dur, melalui wasilah para guru di Giren Tegal. Untuk mengobati rindu dan air mata yg selalu membasahi ini.”

Baca juga:  Inilah Makna Syiiran Gus Dur Yang Sebenarnya

Di Giren ini, memang ada makam terkenal yg selalu dijadikan tempat berziarah. Salah satu tokoh yang di makamkan di Tegal, adalah Mbah Giri, yg diyakini mendirikan desa Giren; ada Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad, Syaikh Armia bin KH. Kurdi bin Mbah Ki Ageng Suropono, dan lain2. Di Makam Giren ini, sering dijadikan tempat tirakat oleh sebagian orang, dan tampaknya sahabat saya ini, Kang Tabib, salah satu di antaranya.

Ceritanya dilanjutkan: “Saya di Giren ingin bertemu Gus Dur, dan al-Alhamdulillah. Saya pada malam2 yg larut, melihat Gus Dur di tengah-tengah tirakat itu dan kemudian melihatku, dan memeluk; dgn tatapan supaya saya ini bersabar dalam menjalani hidup, karena hidup di tengah kota memang berat. Dan kemudian setelah itu, setelah Gus Dur pergi, sang juru kunci menghampiri saya dan bertanya.”

“Mas, tadi siapa itu?” kata sang juru kunci.

Dengan agak malu, saya berkata: “Apa ya pak?”

“Yang tadi seperti ada yg menemui.”

“Tanpa bisa berkata, malah saya jadi meleleh air mata, mengingat Gus Dur, yg membuat juru kunci terheran2.”

Kang Tabib lalu berkata kepada saya: “Setelah dipeluk Gus Dur itu, saya merasa bersemangat, untuk menjalani apa saja hidup ini dgn mengalir, termasuk bersabar dalam menekuni jalan pengobatan alternatif ini.”

Banyak hal kemudian kami berbicara tentang dunia pengobatan alternatif, sampai pada Mujarrobat Dairobi dan khazanah2 hikmah lain, dari Banyuwangi, dan lain2. Dalam hal itu, Kang Tabib mengemukakan perlunya kaum Nahdliyin mengambil peran secara lebih serius. Sebab dengan mengambil contoh, tradisi gurah, yg ditemukan di Giriloyo Imogiri, Yogyakarta; dan juga pengobatan lain, tetapi dalam produksi herbal justru banyak diproduksi orang2 berjenggot, dengan pendanaan kapital yang kuat. Kang Tabib, merasa bahwa Gus Dur meluas, termasuk di dalamnya juga harus ada yg menekuni pengobatan alternatif. Menjamurnya pil-pil herbal yg dilakukan orang2 berjenggot tebal, harus ada yang menekuni di jalur pengobatan alternatif ini. Jangan sampai ditinggal.

Baca juga:  Ziarah Wali Se Indonesia, Ini Alamat Lengkapnya

Hikmah yang bisa diambil dari kisah Kang Tabib ini, seorang guru yg bintang2nya telah tersohor di langit dan meluas di bumi, dia tidak akan meninggalkan murid2nya, ketika-muridnya sangat rindu. Murid dan guru akan terhubung secara spiritual. Sebab ada hadits dari Sayyidah Aisyah menyebutkan: Al-Arwâh junûdun mujannadah famâ ta`ârofa minhâ i’talafa wamâ tanâkaro minhâ ikhtalafa. Artinya: “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya), maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda akan saling tercerai berai” (Shohîh al-Bukhôrî, No. 3336).

Dari hadits itu dapat difahami, bahwa ruh seorang murid yg selalu mencintai dgn merindukan gurunya, dgn sungguh2 dan tetesan air mata, akan saling mengenal, dan bisa bertemu, dan menjadi sarana Alloh mengijabahi hajat seorang murid. Lebih2 bila guru itu termasuk orang sholih dan dikasihi Alloh. Arti penting pertemuan secara spiritual seperti ini, dalam satu menit saja, dapat mengubah keseluruhan hidup dari seorang murid; menghapus pengetahuan yg sebelumnya; dan menambah energi kesabaran dan upaya terus menerus dalam pengetahuan yg baru.

Hikmah kedua, adalah di antara tradisi yg perlu dilanjutkan dan tidak boleh dialpakan adalah pengobatan alternatif di kalangan anak2 muda pesantren. Harus ada yg menekuni sebagian di dunia ini, dan menyongsongnya agar menjadi lebih baik dan terkoordinir. Sebab wilayah ini sudah didesak oleh orang2 berjenggot tebal. Hal ini juga untuk meneruskan tradisi apa yg dilakukan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari di Jombang, yg juga menekuni dunai pengobatan, seperti diceritakan cucu Ki Dalang Sakiban, dalam buku Sang Guru Sejati. Mereka yg sudah tidak melirik dan memperhatikan bidang ini dan telah sukses, perlu juga punya perhatian terhadap dunia di bidang ini, sebab medan ini juga menjadi medan jihad yg tidak ringan untuk mempribumikan Islam.

Nur Khalik Ridwan, alumni PP Darunnajah Banyuwangi dan Pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA)
https://bangkitmedia.com
SARINYALA

Tags: #Gus Dur

Leave a reply "GUS DUR DAN SEORANG TABIB DI TEGAL"