DRACULA VS SULTAN MUHAMMAD ALFATIH

Diposting pada

Dracula hidup sezaman dengan Muhammad Al-Fatih (juga sama zaman dengan Hang Tuah) dia hanya setahun lebih tua dari penakluk Konstantinopel ini. Dracula lahir tahun 1431 (Al-Fatih tahun 1432). Dia adalah salah seorang penguasa Wallachia (sekarang bahagiann selatan Romania). Nama asalnya Vlad III bapanya juga bernama Vlad, tepatnya Vlad II. Bapa Dracula ini bergelar Dracul (Rumania: Draco = Naga), karena dia adalah salah satu dari anggota Ordo Naga.

Sejak menguasai Konstantinopel, Vlad II yang tak lain adalah ayah Dracula dan Sultan Al-Fatih sepakat untuk membuat sebuah perjanjian. Intinya tempat ini masuk dalam kekuasaan Islam, dan Wallachia harus memberikan jizyah atau semacam pajak.
Selain soal jizyah, Sultan Al Fatih membuat sebuah kesepakatan bijak agar daerah ini tidak mudah lepas atau memberontak. sultan meminta dua anak Vlad II untuk dikirim ke Konstantinopel untuk belajar ilmu ketenteraan. Kedua anak Vlad II ini bernama Vlad III atau Dracula dan Radu Cel Frumos.

1. Asal Muasal Perang Muhammad Al-Fatih Vs Dracula

Dracula memiliki impian, suatu ketika ia akan jadi pemimpin tertinggi di Wallachia dan ganti menyerang Islam. Siapa yang menyangka jika cita-cita ini menunjukkan titik terang. Diceritakan jika Vlad II dikudeta dan mati. Untuk mengisi kekosongan pemimpin, maka dikirimlah Vladd III atau Dracula untuk menggantikan posisi ayahnya.

Sebelum hal tersebut terjadi, pasukan Turki Ustmani berperang dengan pihak yang menentang. Hingga pada akhirnya berhasil ditumpas dan Dracula pun mengambil tempat tidak tahu berterima kasih, Vlad III pun justru merencanakan untuk menghancurkan balik umat Islam.

Setelah Vlad III menyambut, seperti yang seharusnya, Sultan mengirim utusan untuk menagih jizyah atau pajak. Tidak pula dibayar, Dracula justru membunh utusan ini dengan sangat kejam. Berita ini diketahui sultan.

2. Sultan Muhammad Al-Fatih Mengirim Ribuan Pasukan Untuk Membawa Hidup Dracula

Pada 1462 Muhamad Al-Fatih memerintahkan panglima perang Hamzah Bey membawa ribuan pasukan untuk menangkap Dracula, dan nasib ribuan pasukan ini berakhir tragis. Dracula menggunakan kemampuannya dengan apa yang dia pelajari di Konstantinopel, dia benar-benar memahami taktik dan strategi berperang umat Muslim, lalu dengan gerakan-gerakan yang efektif, Dracula kemudian mengalahkan dan membantai ribuan pasukan Muslim itu.

Artikel Pilihan:  Kisah Hikmah, Mualaf & Dinnar dari Akhirat

Dracula menyula (menusuk dengan kayu dari anus hingga tembus ke kerongkongan) 1.000 pasukan ini, hingga jadi hutan mayat manusia. Hamza Bey, komandan pasukan ini, ditempatkan ditengah hutan mayat dan digantung di kayu paling tinggi sebagai simbol penghinaan.

3. Strategi Sultan Muhammad Al-Fatih

Pertempuran Malam yang sering dikenal The Night Attack, atau Atacul de Noapte de la Targoviste terjadi pada tanggal 17 Juni 1462 M. Perlukan srigala untuk menaklukkan srigala, Sultan Al-Fatih yang masih terkesan dengan kematian ribuan pasukannya, merencanakan penyerangan sekali lagi untuk menumpaskan Dracula. Akhirnya dikirimlah Radu Cel Frumos yang tak lain merupakan saudara kandung dari Dracula. Peperangan ini sangat tidak mudah, namun Radu setidaknya sangat memahami daerah kelahirannya tersebut.
Panglima yang sudah Muslim ini pun melakukan penyerangan ke benteng Catate Poenari, tempat Dracula bersembunyi. Tempatnya yang tinggi sangat menyulitkan Radu. Namun, pada akhirnya penyerangan ini berhasil. Dracula lari ke Hungaria dan berlindung di bawah lelaki yang sebelumnya telah membunh ayahnya. Namun, pada akhirnya kepala Dracula berhasil ditebas oleh pasukan Turki Ustmani yang menyamar sebagai pasukannya.

Namun warisan Dracula tetap kekal bagi dunia, kekejaman tiada banding yang dia contohkan dan kebiadaban tanpa batas. Sampai saat ini Rumania mengakuinya sebagai pahlawan negara dalam perang salib dan patung-patungnya bertebaran di Rumania. Bagi kaum Muslim, Dracula adalah simbol kekejaman musuh kemanusiaan, pembunh umat muslim.

Namun saat ini konsep Dracula, Vampire dibuat dan dibungkus dengan bagus hingga kisahnya dijadikan filem Hollywood oleh barat dengan fakta yang jauh berbeda dengan menggambarkan yang sebaliknya iaitu Sultan Muhammad Alfateh yang tidak pernah tinggal solat Tahajjud dan rawatib sejak usia baligh ini pula yang berwatak bengis dan kejam..