Tanda tanda kiamat,sifat allah,bulan muharrom,syariat islam

BULAN SYA’BAN DAN KEUTAMAANNYA

Diposting pada

Bulan Sya’ban dan keutamaanya

(kitab Al-Ghunayah li Thalibi Thariq al-Haqq fi al-Akhlaq wa at-Tashawwuf wa al-Adab al-Islamiyah, buah karya Sulthonul Awliya Syeikh Abdul Qadir al Jailani )

Dari Aisyah , istri Nabi , dia bercerita :
“Rasulullah pernah berpuasa sehingga kami katakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dibanding pada bulan Sya’ban.”
“Wahai Rasulullah , mengapa engkau berpuasa pada bulan Sya’ban ?” beliau menjawab, “Wahai Aisyah, Sya’ban adalah bulan ketika malaikat maut menandai nama orang yang dicabut nyawanya pada waktu yang tersisa ditahun itu dan aku ingin namaku ditandai saat aku dalam keadaan puasa.”

Dari Ummu Salamah , dia bercerita :
“Rasulullah tidak berpuasa pada suatu bulan setelah Ramadhan yang lebih banyak dari puasanya pada bulan Sya’ban.”

Dari Anas bin Malik , dia bercerita :
“Nabi pernah ditanya tentang keutamaan puasa, maka beliau menjawab, “Puasa Sya’ban sebagai pengagungan bagi bulan Ramadhan.”
“Keutamaan bulan Rajab atas semua bulan adalah keutamaan Al-Qur’an atas semua ucapan dan keutamaan bulan Sya’ban atas semua bulan seperti keutamaanku atas semua Nabi dan keutamaan bulan Ramadhan atas semua bulan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”
Dinamai Sya’ban karena ia mengumpulkan bagi bulan Ramadhan kebaikan yang sangat banyak, dan dinamai Ramadhan, karena ia menghanguskan dosa-dosa.
Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi : beliau bersabda, “Sya’ban adalah bulanku, Rajab adalah bulan Allah dan Ramadhan bulan umatku. Sya’ban adalah penghapus (dosa) sedangkan Ramadhan sebagai penyuci.”
Beliau juga bersabda,”Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan, banyak orang-orang yang melupakannya. Pada bulan itu amal perbuatan manusia diangkat menghadap Tuhan semesta alam dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.”

Kata Sya’ban terdiri dari lima huruf : syin yang berarti asy-syaraf (kemuliaan), ‘ain yang berarti al-‘uluww (tinggi), ba’ yang berarti al-birr (kebajikan), alif yang berarti al-ulfah (kelembutan) dan nun yang berarti an-nur (cahaya). Hal itu merupakan karunia yang diberikan Allah kepada seluruh hamba-Nya. Sya’ban merupakan bulan yang didalamnya semua pintu kebaikan terbuka, berbagai berkah turun, berbagai kesalahan diabaikan dan berbagai kejahatan dihapuskan. Pada bulan itu juga diperbanyak shalawat kepada Nabi . Karena ia merupakan bulan Nabi .

Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah , pernah bertanya kepadanya, “Wahai Aisyah, malam apa ini?” Aisyah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam pertengahan Sya’ban. Pada saat itu pula Allah memberi perlindungan dari api neraka. Apakah kamu mengizinkanku pada malam ini ?” “ya,” jawab Aisyah. Maka beliau mengerjakan shalat dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an lainnya yang ringan. Lalu bersujud sampai pertengahan malam. Kemudian beliau bangun untuk rakaat kedua dan membaca seperti rakaat pertama, kemudian bersujud sampai waktu shubuh. ‘Aisyah berkata, “Melihat hal itu, aku menyangka Allah telah mencabut nyawa beliau. Setelah beberapa lama aku mendekat, lalu aku menyentuh kedua kakinya yang kempis. Beliau bergerak dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujud, “Aku berlindung pada ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari azab-Mu. Pujian-Mu sangat Agung, aku tidak dapat menghitung pujian atas diri-Mu, Engkau seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Kutanyakan, “Wahai Rasulullah, aku telah mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam sujudmu malam ini yang belum pernah aku dengar sebelumnya.” Rasulullah . Bertanya, “apakah kamu mengetahuinya ?” “Ya, “Jawab Aisyah. Rasulullah bersabda, “Pelajari dan ajarkan do’a itu, karena sesungguhnya Jibril telah menyuruhku untuk mengucapkannya dalam sujudku.”
Dari Aisyah dia bercerita : pada suatu malam aku pernah kehilangan Rasulullah , lalu aku keluar rumah dan ternyata beliau berada di Baqi’ sedang mengadahkan kepada ke langit, lalu beliau berkata kepadaku, “Apakah kamu khawatir jika Allah akan menganiayamu sedang Rasul-Nya ada dihadapanmu ?” aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku kira engkau mengunjungi istrimu yang lain.” Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu memberi ampunan kepada orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu biri-biri.”

Dari Ikrimah, budak Ibn ‘Abbas, mengenai firman Allah , pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, Ibn ‘Abbas berkata, “Yaitu malam pertengahan Sya’ban. Pada saat itu Allah mengurus segala urusan untuk waktu satu tahun, menandai nama-nama yang akan mati dan menulis nama-nama yang akan berangkat ibadah haji ke Baitullah. Dia tidak menambahkan kepada seorang pun dari mereka dan tidak pula menguranginya.”

Abu Nashr memberitahuku, dari Malik bin Anas, dari Hisyam bin Urwah, dari Aisyah , dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah mengalirkan kebaikan pada empat malam, yaitu : malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertengahan (nisfu) Sya’ban, pada malam itu Allah menandai ajal dan rezeki serta menetapkan orang yang akan berangkat haji dan malam Arafah sampai waktu azan.”

Sa’id menceritakan, Ibrahim bin Abi Najih berkata, “Ada lima dan yang kelima adalah malam Jum’at.”
Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda, “Jibril pernah mendatangiku pada malam pertengahan (nisfu) Sya’ban dan dia berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu ke langit.” Kemudian aku bertanya, “malam apakah ini ?” Jibril menjawab, “Pada malam ini Allah membuka tiga ratus pintu rahmat, Dia memberi ampunan kepada siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kecuali tukang sihir, dukun, pecandu khamar atu orang yang selalu mengulang-ulang berbuat riba dan z1_n4. Mereka tidak diberi ampunan oleh-Nya hingga mereka bertobat.”
Setelah seperempat malam, Jibril turun dan berkata, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu.”
Maka beliau mengangkat kepalanya dan ternyata pintu-pintu syurga sudah terbuka dan diatas pintu pertama ada malaikat berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdzikir pada malam ini.” Pada pintu kedua ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang bersujud pada malam ini.” Pada pintu ketiga ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdoa pada malam ini.” Sedangkan pada pintu keempat ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang manangis karena takut kepada Allah pada malam ini.” Dan pada pintu keenam ada malaikat berseru, “Beruntunglah kaum Muslim pada malam ini.” Pada pintu ketujuh ada malaikat berseru, “Adakah orang yang meminta, pasti akan diberi.” Dan pada pintu kedelapan ada malaikat berseru, “Siapapun yang bertobat, niscaya dia akan diberi ampunan.”
Lalu aku bertanya, “Wahai Jibril , sampai kapan pintu-pintu ini akan terbuka ?” Jibri menjawab, “Sampai terbit fajar dari sejak permulaan malam.” Kemudian Jibri berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada malam ini Allah akan membebaskan manusia dari neraka sebayak bulu biri-biri.”

Ada yang berpendapat bahwa malam itu disebut malam bara’ah (pembebasan), karena pada malam itu ada dua pembebasan. Pertama, pembebasan orang-orang yang sengsara dari Allah , Tuhan Yang Maha Penyayang; kedua, pembebasan para wali dari orang-orang yang hina dina.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah , beliau bersabda, “Pada malam nishfu Sya’ban, Allah melongok sekali longokan. Lalu Dia mengampuni orang-orang yang beriman, mengabaikan orang-orang kafir dan membiarkan orang-orang yang dengki dengan kedengkian mereka, sampai mereka meninggalkan kedengkiannya.”

Ada yang mengatakan bahwa para malaikat mempunyai dua malam raya di langit, sebagaimana kaum Muslim mempunyai hari raya di bumi. Malam raya para malaikat adalam malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar. Sedangkan hari raya orang-orang yang beriman adalah hari Idul Fitri dan Idul Adha. Hari raya para malaikat berlangsung pada malam hari karena mereka tidak tidur, sedangkan hari raya orang-orang Mukmin berlangsung pada siang hari karena mereka tidur di malam hari.

Ada yang mengatakan, hikmah ditampakannya malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar disembunyikan adalah karena malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Malam itu disembunyikan Allah agar mereka tidak membicarakannya. Dan Allah memperlihatkan malam bara’ah, karena malam itu merupakan malam pemberian keputusan. Malam itu merupakan malam kemurkaan dan keridhaan, malam pengabulan dan penolakan, malam kebahagiaan dan kesengsaraan, malam kemuliaan dan kehinaan. Pada malam itu ada orang yang bahagia dan ada pula yang sengsara, ada yang dimuliakan ada pula yang dihinakan. Berapa banyak kain kafan yang dicuci sedang pemakainya masih terus sibuk di pasar. Berapa banyak kuburan yang sudah digali sedang pemiliknya masih terus tertawa padahal mereka sudah dekat dengan kebinasaan. Berapa banyak orang yang berharap syurga tetapi yang tampak padanya adalah petunjuk ke nereka. Berapa banyak orang yang mengharapkan pemberian tetapi memperoleh musibah. Dan berapa banyak orang yang mengharapkan kekuasaan, tetapi justru dia mendapatkan kebinasaan.

Dari sebagian kitab Durratun Nasihin hasil karya dari Syeikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyyi

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan laut dari sinar dibawah Arasy, kemudian menciptakan satu malaikat yang mempunyai dua sayap, satu sayapnya ditimur dan sayapnya yang lain dibarat, sedang kepalanya dibawah Arasy dan dua kakinya dibawah bumi yang ketujuh. Apabila seorang hamba membaca shalawat untuk saya dibulan Sya’ban, maka Allah menyuruh malaikat itu agar menyelam di air hidup. Malaikat itupun menyelam, kemudian keluar dari dalam air serta mengkibaskan sayapnya sehingga berteteslah dari bulunya, tetesan yang banyak sekali. Maka Allah menciptakan dari tiap-tiap tetes air itu akan satu malaikat yang memohonkan ampunan baginya (orang yang membaca shalawat) sampai hari Qiyamat.” ( Zubdatul Waa’izdiina )

Sabda Nabi : “Tahukah kamu sekalian, mengapa dinamakan bulan Sya’ban ? mereka menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui, beliau bersabda, “Karena didalam bulan ini bercabanglah kebaikan yang banyak sekali ( Raudhatul ‘Ulama )

Diriwayatkan dari Imam Muslim dari Abu Hurairah : Nabi bersabda :
“Allah telah menjadikan kasih sayang-Nya seratus bagian; maka Allah menahan disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan yang satu bagian dikirimkan ke bumi. Maka dari sebab yang satu bagian itu, semua makhluk menjadi berkasih kasihan; sehingga binatang mangangkat kukunya / kakinya dari anaknya karena takut anaknya terkena musibah.”
“Dan Allah mengakhirkan / menyisihkan sembilan puluh sembilan yang dengan itu Allah berbelas kasihan kepada para hamba-Nya dihari Qiyamat.”

Oleh karena itu diterangkan : “Bulan Rajab kesempatan membersihkan badan, bulan Sya’ban kesempatan membersihkan hati dan bulan Ramadhan kesempatan mensucikan jiwa.
Maka sesungguhnya orang yang membersihkan badannya dibulan Rajab, seharusnya dia membersihkan hatinya dibulan Sya’ban dan barang siapa yang membersihkan hatinya dibulan Sya’ban juga seharusnya membersihkan jiwanya dibulan Ramadhan. Maka kalau tidak membersihkan badanya dibulan Rajab dan tidak membersihkan hatinya dibulan Sya’ban kemudian kapan / bagaimana dia bisa membersihkan jiwa dibulan Ramadhan ?
Oleh karena itu sementara Hukama berkata, “Sungguh bulan Rajab itu kesempatan untuk mohon ampunan dari segala dosa, bulan Sya’ban kesempatan untuk memperbaiki hati dari segala macam cela dan bulan Ramadhan untuk menerangkan haati / membersihkan hati / jiwa Lailatul Qadar untuk mendekatkan diri kepada Allah .” ( Zubdatul Waa’izdiina )

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda :
“Barangsiapa berpuasa tiga hari dari permulaan bulan Sya’ban dan tiga hari dipertengahan bulan Sya’ban serta tiga hari diakhir bulan Sya’ban maka Allah mencatat baginya seperti pahala tujuh puluh Nabi dan seperti orang yang beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun dan apabila dia mati ditahun itu maka dia sebagai orang yang mati syahid.”
“Barangsiapa yang mengagungkan bulan Sya’ban, bertaqwa kepada Allah dan bertaat kepada-Nya serta menahan diri dari perbuatan maksiyat / durhaka, maka Allah mengampuni semua dosanya dan menyelamatkan didalam satu tahun itu dari segalam macam bencana dan dari bermacam-macam penyakit”. ( Zubdatul Waa’izdiina )

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Az Zaahidiy bahwa dia berkata : “Kawan saya Abu Hafshin Al-Kabiir telah meninggal dunia, maka saya juga menshalati jenazahnya dan saya tidak mengunjungi kuburnya selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud akan menengok kuburnya, ketika saya tidur dimalam hari saya bermimpi melihatnya dia sudah berubah mukanya menjadi pucat, maka saya bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya. Kemudian saya berkata / bertanya kepadanya, “Subhaanallah / Maha Suci Allah, mengapa engkau tidak membalas salam saya ?” dia menjawab, “membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah.” Kata saya, “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dahulu berwajah bagus ?
Dia menjawab, “ketika saya dibaringkan didalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk disebelah kepala saya seraya berkata, “Hai situa yang jahat, dan dia menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat bahkan diapun memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar”. Kuburpun berkata kepada saya, “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku ?”, kemudian kuburpun menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang-tulang rusukku menjadi bertebaran dan sendi-sendi tulangkupun menjadi terpisah-pisah sedang saya dalam siksa sampai malam pertama bulan Sya’ban”, waktu itu ada suara mengundang dari atas saya, “Hai Malaikat, angkatlah batang kayumu dan siksamu dari padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidupkan / mengagungkan satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari dibulan Sya’ban. Maka Allah menghapuskan siksa dari padaku dengan sebab aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan berpuasa satu hari dibulan Sya’ban; kemudian Allah memberi kegembiraan kepada saya dengan syurga dan kasih sayang-Nya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *