BACA AL-QURAN DI KUBURAN

Diposting pada

Daftar Isi

BACA AL-QURAN DI KUBURAN

Membaca al-Quran di kuburan bukanlah sesuatu yang bid’ah atau bahkan sesuatu yang haram.

Hal ini berdasarkan hadis di bawah ini:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ الْحَلَبِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُحَيْمٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله تعالى عليه يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

“Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

Al-Hafidz al-Haitsami berkata:

وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد للحافظ الهيثمي 3/66)

“Perawinya dinilai sebagai orang2 terpercaya” (Majma’ al-Zawaid III/66)

Begitu pula dengan riwayat hadis berikut ini:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله تعالى عليه يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yg meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakam-kan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembuka al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dgn penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam kitab al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Maid 4/449)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tsb:

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“HR al-Thabrani dgn sanad yg hasan” (kitab Fath al-Bari III/184)

Dalam kedua hadis ini Rasulullah Saw tidak menentukan waktu pembacaan al-Quran saat pemakaman saja. Dan kalaulah membaca al-Quran di kuburan dilarang, maka sudah pasti Rasulullah tidak akan memperbolehkannya dan hanya mengkhususkan ketika pemakaman saja. Dan sudah barang tentu hal semacam ini tidak boleh terjadi sebagaimana dalam kaidah fikih:

اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ

“Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan” (kitab al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208)

Lalu dari mana pihak yg anti tahlil melarang membaca al-Quran di kuburan, padahal Rasulullah sendiri tidak menyatakan yg demikian itu dalam hadis2nya?

Hadis di atas juga diperkuat oleh amaliyah sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab yg merupakan salah satu sahabat Rasulullah yg meriwayatkan ribuan hadis setelah Abu Hurairah dan Ibnu Abbas:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ سَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِيْنٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْحَلَبِىُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحَمْنِ بْنِ الْعَلاَءَ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ قَالَ لِبَنِيْهِ إِذَا أَدْخَلْتُمُوْنِى قَبْرِى فَضَعُوْنِى فِى اللَّحْدِ وَقُوْلُوْا بِاسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله تعالى عليه وَسُنُّوْا عَلَىَّ التُّرَابَ سَنًّا وَاقْرَءُوْا عِنْدَ رَأْسِى أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا فَإِنِّى رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ (رواه البيهقي في السنن الكبرى رقم 7319 والدعوات الكبير رقم 638)

Baca juga:  TIAP MALAM JUM'AT AHLI KUBUR PULANG KE RUMAH KITA

“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Ala’ bahwa bapaknya berkata pada anak2nya: Jika kalian telah memasukkan aku ke dalam kubur, maka letakkan aku di liang lahat. Dan ucapkanlah: Dengan nama Allah dan atas sunnah Rasulullah Saw. Dan ratakanlah tanah secara perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku melihat Ibnu Umar menganjurkan demikian” (Riwayat al-Baihaqi dalam kitab al-Kabir No 7319 dan kitab al-Da’awat No 638)

Ibnu Jum’ah berkata:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنه أَنَّهُ اسْتَحَبَّ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (خلاصة الأحكام في مهمات السنن وقواعد الإسلام لابن جمعة الحزامي الشافعي 2 / 1028)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau menganjurkan membaca permulaan dan penutup surat al-Baqarah di atas kuburan setelah dimakamkan. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang hasan” (Khulashat al-Ahkam II/1028)

Atsar ini juga disahihkan oleh madzhab Hanbali:

وَفِي الْمَبْدَعِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَابِلَةِ وَقَدْ صَحَّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا. اهـ مِنْ هِدَايَةِ الرَّاغِبِ (فتاوى حسنين مخلوف 1 / 444)

“Di dalam kitab al-Mabda’ dari kalangan Hanbali disebutkan: Sungguh telah sahih dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya di dekat kuburnya. Dikutip dari kitab Hidayat al-Raghib” (Fatawa Hasanain Makhluf 1/444)

Kendatipun Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yg tidak menganjurkan membaca al-Quran di kuburan, tetapi ia tidak menampik dgn argumen riwayat Ibnu Umar diatas sebagai dalil diperbolehkannya membaca al-Quran di kuburan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَّى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ دَفْنِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا وَالرُّخْصَةُ إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا حَالَ الدَّفْنِ خَاصَّةً (جامع المسائل لابن تيمية 3 / 132)

“Dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. Dispensasi ini bisa jadi secara mutlak (boleh baca al-Quran di kuburan kapan saja), dan bisa jadi khusus ketika pemakaman saja” (Ibnu Taimiyah, Jami’ al-Masail III/132)

Dalil lainnya adalah menggunakan Qiyas Aulawi:

قُلْتُ وَقَدِ اسْتَدَلَّ بَعْضُ عُلَمَائِنَا عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْقَبْرِ بِحَدِيْثِ الْعَسِيْبِ الرُّطَبِ الَّذِي شَقَّهُ النَّبِيُّ صلى الله تعالى عليه بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا خَرَّجَهُ الْبُخَارِي (218) وَمُسْلِمٌ (703) … قَالُوْا وَيُسْتَفَادُ مِنْ هَذَا غَرْسُ اْلأَشْجَارِ وَقِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ عَلَى الْقُبُوْرِ وَإِذَا خُفِّفَ عَنْهُمْ بِاْلأَشْجَارِ فَكَيْفَ بِقِرَاءَةِ الرَّجُلِ الْمُؤْمِنِ الْقُرْآنَ؟ (التذكرة للقرطبي 1 / 84 وشرح الصدور للحافظ جلال الدين السيوطي 305)

“Saya (al-Qurthubi) berkata: Sebagian ulama kalangan kita menggali dalil membaca al-Quran di kubur dgn hadis tentang pohon kurma yg masih basah, yg dibelah oleh Rasulullah Saw menjadi dua, kemudian masing2 ditanam di atas dua kuburan. Rasulullah Saw bersabda: ‘Semoga pohon ini meringankan siksa kedua (mayit), selama belum mengering’ (HR al-Bukhari No 218 dan Muslim No 703).

Baca juga:  Ketika Manusia Bangkit dari Kubur

Ulama berkata: Diambil faedah dari hadis ini mengenai menanam tanaman dan membaca al-Quran di kubur. Jika orang yg meninggal saja mendapat keringanan (siksa) dengan tanaman, lalu bagaimana dgn bacaan al-Quran dari orang yg beriman?” (al-Qurthubi dalam kitab al-Tadzkirah I/84 dan Jalaluddin al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur 305)

Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi’iyah
tentang membaca al-Quran di kuburan:

وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)

“Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi’i dan disepakati oleh ulama Syafi’iyah” (al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab V/311)

Ternyata Ibnu Qoyyim, murid Ibnu Taimiyah, mengklaim bahwa membaca al-Quran di kuburan telah menjadi tradisi bagi para sahabat Anshar di Madinah:

وَذَكَرَ الْخَلاَّلُ عَنِ الشَّعْبِي قَالَ كَانَتِ اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ (الروح لابن القيم – 1 / 11)

“Al-Khallal mengutip dari al-Sya’bi bahwa jika salah seorang dari sahabat Anshar meninggal, maka mereka bergiliran membaca al-Quran di kuburannya” (kitab al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

Ibnu Qoyyim juga mengutip fatwa Imam Ahmad yang awalnya melarang membaca al-Quran di kuburan kemudian Imam Ahmad meralatnya bahkan menganjurkan hal tsb:

قَالَ الْخَلاَّلُ وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَرَّاقُ حَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ مُوْسَى الْحَدَّادُ وَكَانَ صَدُوْقًا قَالَ كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ وَمُحَمَّدٍ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِى فِي جَنَازَةٍ فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ يَا هَذَا إِنَّ اْلقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ ِلأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ مَا تَقُوْلُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيّ قَالَ ثِقَةٌ قَالَ كَتَبْتَ عَنْهُ شَيْئًا ؟ قَالَ نَعَمْ فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ اْلعَلاَءِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا وَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوْصِي بِذَلِكَ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ فَارْجِعْ وَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأُ (الروح لابن القيم 1 / 10)

“Ali bin Musa al-Haddad (orang yg sangat jujur) berkata: Saya bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri pemakaman janazah. Setelah dimakamkan, ada orang laki2 buta membaca al-Quran di dekat kubur tersebut. Ahmad berkata kepadanya: Wahai saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid’ah.

Setelah kami keluar dari kuburan, Muhammad ibnu Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu tentang Mubasysyir al-Halabi? Ahmad menjawab: Ia orang terpercaya. Ibnu Qudamah bertanya lagi: Apakah engkau meriwayatkan hadis dari Mubasysyir? Ahmad bin Hanbal menjawab: Ya. Saya mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin Abdirrahman dari ayahnya, bahwa ayahnya berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di dekat kepalanya dgn pembukaan al-Baqarah dan ayat akhirnya. Ayahnya berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga. Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu Qudamah: Kembalilah, dan katakan pada lelaki tadi agar membacanya!” (kitab al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

Wallahu a’lam
https://lintassantri.blogspot.com