ASAL USUL KI LURAH SEMAR BODRONOYO

Diposting pada

KIAI LURAH SEMAR BODRONOYO

Asal-usul.

Sepeninggal Bethoro Ismoyo, raja di istana Taman Langit (Kahyangan, Suralaya) mewariskan tahta kepada putranya Sang Hyang Tunggal. Sebelum mukso(melepaskan sukma dan raga ke alam Sunyaruri, alam ghaib, alam metafisika), Bethoro Ismoyo bersabda bahwa kelak ia akan bereinkarnasi kepada salah satu cucunya.

Siang berganti malam, pagi pun datang menyirnakan petang. Perjalanan waktu dari hari ke bulan terus berjalan hingga berganti tahun. Anak-anak dari Sang Hyang Tunggal pun telah tumbuh dewasa.

Suatu hari Sang Hyang Tunggal bersama permaisurinya Dewi Rakti memanggil ketiga putranya yaitu Sang Hyang Antogo,Sang Hyang Ismoyo, dan Sang Hyang Manikmoyo. Ia mengatakan bahwa belum bisa memutuskan siapa diantara putra-putranya kelak yang akan mewarisi tahta istana.

Ia menceritakan bahwa dulu ketika Dewi Rakti melahirkan mereka sejatinya adalah bersamaan, yaitu dalam bentuk sebutir telur bercahaya. Sang Hyang Tunggal lalu menyiramkan Tirta Amerta Sari (air keabadian) ke telur tersebut sehingga pecah menjadi tiga bagian.

Kulit / cangkang telur berwujud Sang Hyang Antogo. Putih telur menjadi Sang Hyang Ismoyo. Sementara kuning telur berubah menjadi Sang Hyang Manikmoyo. Karena itulah sang ayah belum memutuskan siapa sebenarnya mereka yang tertua dan berhak mewarisi tahta istana Taman Langit.

“Kulit telur ditakdirkan untuk melindungi isinya, putih dan kuningnya!” tutur Sang Hyang Antogo menanggapi wejangan itu.

“Sudah seyogyanya, cangkang telurlah yang tertua ayahanda.” lanjutnya

Sang Hyang Ismoyo membantah pendapat itu. Menurutnya antara kulit telur dan isinya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

“Tak mungkin telur tercipta hanya cangkangnya, tanpa isi maka kulit telur hanyalah rangka yang kosong!” sanggah Sang Hyang Ismoyo.

“Kulit tak bisa sempurna tanpa isinya, putih dan kuning telur adalah cikal bakal dari tanda-tanda adanya kehidupan!”

Sang Hyang Antogo tersinggung dengan pendapat saudaranya itu. Ia bersikeras bahwa kulit yang berwujud keras tentu paling kuat dibandingkan putih dan kuning. Sementara Sang Hyang Ismoyo juga tetap bersikukuh bahwa tanpa isi, cangkang akan sangat rapuh dan mudah pecah.

“Kita buktikan siapa yang terkuat!” tantang Sang Hyang Antogo.

“Diatas langit masih ada langit!” jawab Sang Hyang Ismoyo menerima tantangan saudaranya.

Sang Hyang Tunggal segera melerai. Namun kedua putranya itu sudah terbakar amarah, dan tak menghiraukan nasehat ayahnya.

“Apakah kalian tidak akan menyesal bertikai dengan saudara sendiri!” sabda Sang Hyang Tunggal.

Guntur menggelegar, petir menyambar bersahut-sahutan. Seketika istana Taman Langit menjadi gelap gulita. Perkataan dari Sang Hyang Tunggal, raja dari para dewa telah menjadi sabda dan kutukan.

Sementara itu Sang Hyang Antogo segera melesat meninggalkankan Kahyangan, dan secepat kilat disusul Sang Hyang Ismoyo.

Mereka beradu kesaktian dan kekuatan. Terjadi pertarungan maha dahsyat antara dua kesatria dewa itu. Saling mencabut pusaka, saling menusukkan, saling memukul dan menghantam, serta saling membanting satu sama lain. Hingga dikisahkan ketika itu terjadi gempa dimana-mana. Gunung-gunung longsor dan meletus. Hujan badai melanda seluruh isi bumi.

Baca juga:  EYANG SEMAR SUDAH MENAMPAK DIRI, PAGEBLUK SEGERA BERAKHIR

Pertempuran mereka berlangsung cukup lama, pada hari keempat puluh akhirnya Sang Hyang Tunggal turun melerai keduanya. Ia mengadakan sayembara bahwa siapa yang sanggup menelan gunung Mahameru lalu memuntahkannya lagi, maka akan dianggap terkuat dan tertua, sehingga berhak mewarisi tahta. Sang Hyang Antogo dan Sang Hyang Ismoyo menyanggupinya!

Pertama yang mencoba adalah Sang Hyang Antogo. Ia segera bertiwikrama dan berubah wujud menjadi Berholo Sewu (raksasa). Lalu dicabutnya gunung Mahameru dari akarnya dan memakannya.

Sang Hyang Antogo kesusahan memasukkan gunung Mahameru kedalam mulutnya. Karena ternyata gunung itu masih lebih besar dari mulutnya. Namun karena nafsunya sangat besar, ia tetap memaksakan masuk hingga mulutnya robek besar. Ia pun tak kuat lagi dan tubuhnya roboh, lalu kembali mengecil.

Melihat kejadian itu, Sang Hyang Ismoyo segera bertiwikrama dan berubah wujud menjadi Berholo Sewu pula. Tetapi kali ini bentuk dan ukuran Reksa Denawa (raksasa) jelmaan Sang Hyang Ismoyo jauh lebih besar. Tinggi dan besarnya tujuh kali lipat dari gunung Mahameru.

Segera disambarnya gunung itu dan ditelan masuk kedalam perut. Namun sampai didalam perut ia merasa kesulitan untuk memuntahkan.

Sang Hyang Ismoyo mengeluarkan seluruh kekuatannya, tapi gunung Mahameru tetap tak bergerak didalam perutnya. Tenaga dan kekuatannya pun habis, tubuhnya roboh seperti Sang Hyang Antogo, dan kembali mengecil pula.

Cukup lama keduanya tak sadarkan diri. Hingga ketika siuman, mereka heran dan kebingungan.

“Kamu siapa?” tanya Sang Hyang Ismoyo kepada sosok di depannya.

“Aku Sang Hyang Antogo.”

Sang Hyang Ismoyo terperanga tak percaya. Saudaranya adalah seorang kesatria dewa berwajah tampan dan gagah perkasa. Tetapi sosok yang ada didepannya kini berwujud fisik seperti makhluk jadi-jadian. Wajah dan tubuhnya tidak seimbang. Ia pendek dan buncit, sementara mulutnya sangat lebar menyerupai mulut angsa.

“Kamu sendiri siapa?” Sang Hyang Antogo balik bertanya.

“Sang Hyang Ismoyo.”

Terkejut pula Sang Hyang Antogo. Saudaranya seharusnya berwajah sangat elok dan bersinar seperti matahari. Tapi kini menjadi gendut dan sangat tua.

Mereka berdua baru menyadari kejadian itu dan saling berpelukan, lalu menangis sejadi-jadinya. Menyesal telah bertikai dengan saudara. Dan kini mereka terkena kutukan Sang Hyang Tunggal.

Sang Hyang Antogo dan Sang Hyang Ismoyo pun terbang kembali ke istana Taman Langit untuk menemui ayahnya. Dihadapan Sang Hyang Tunggal dan sudara-saudaranya yang lain, mereka kembali menangis dan menyesali perbuatannya. Memohon agar ayahnya mengembalikan mereka ke wujud asli.

“Ini sudah takdir wahai putra-putraku tercinta, wujud kalian tidak bisa dikembalikan lagi ke bentuk aslinya.” ucap Sang Hyang Tunggal.

“Semua peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kalian semua, bertikai dengan saudara itu hanya akan membawa malapetaka!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *