PENGALAMAN SPIRITUAL ABU SAID AL KHARROZ

Diposting pada

Abu Said al-Kharroz, yang meninggal pada tahun 279 Hijriyyah. Beliau adalah sebagai sufi yang  banyak menaruh perhatiannya pada tingkatan-tingakatan dan keadaan-keadaan dalam perjalanan menuju Allah. Hal ini diuraikan Abu Said al-Kharroz dalam Kitab karya nya yang berjudul Thoriq ila Allah wa Kitab al-Shidq.

Abu Said al-Kharroz

 

Dalam kitab karangannya Thoriq ila Allah wa Kitab al-Shidq, Abu Said al-Kharroz menguraikan tingkatan-tingkatan tentang Ikhlas, kesabaran, kerendahan hati, Zuhud atau asketisme, tawakal, rasa takut, rasa malu, syukur, ridha, rasa rindu kepada Allah, dan rasa akrab.

Abu Said al-Kharroz, mendirikan Thariqot sufi, yaitu al-Kharroziyyah, yang dinisbatkan kepada beliau.

Abu Said Al-Kharraz adalah orang yang pertama  kali berbicara tentang keadaan Fana dan Baqa dalam pengertian mistis, merangkum keseluruhan doktrinnya dalam dua istilah tersebut. Abu Said Al-Kharraz  dijuluki sebagai lidahnya Sufi. Dalam perjalanan spiritualnya Abu Said telah bertemu dengan Nabi Muhamad SAW, malaikat, Iblis, dan Anaknya didalam mimpi-mimpinya.

Abu Said bertemu dengan Nabi Muhamad SAW.

Suatu waktu saat Abu Said telah  berada di Damaskus, Abu Said bermimpi bertemu dengan Nabi SAW dan berkata:
Beliau mendekati diriku. Ketika aku tengah membaca sebuah bait syair sambil menepuk-nepuk dadaku dalam keadaan lapar.
Nabi SAW lalu bersabda: “Keburukannya lebih besar daripada kebaikannya”.

BACA JUGA:  Gus Baha: Seorang Wali di Zaman Nabi Musa yang Bikin Allah SWT Tertawa 3 Kali Setiap Hari

Di lain waktu Abu Said bertemu kembali dengan Nabi SAW dan berkata kepada Abu Said: “Apakah engkau mencintaiku”?.

Dengan penuh kesadaran Abu Said lalu menjawab: “Maafkan aku ya Rasulullah, cintaku hanya kepada Allah yang telah menyibukkanku”.

Lalu Nabi SAW berkata: “Siapa yang mencintai Allah berarti dia juga telah mencintaiku”.

Abu Said bertemu dengan Malaikat.

Suatu kali Abu Said pernah bertemu dengan dua Malaikat turun dari Surga dan bertanya kepada Abu Said: ” Apa arti kejujuran?”.  Dengan bijak Abu said menjawab: “Menepati janji”.  Malikat itu berkata: “Engkau telah berkata benar”. Lalu mereka kembali ke surga.