tanda,Ibrahim ibnu adham, Ibrahim ibn Adham

ABDUL WAHID BIN ZAID DAN BIDADARI TERCANTIK

Diposting pada

Abdul Wahid bin Zaid, salah seorang teman Hasan al Basri, yang berasal dai Bashrah Iraq, Abdul Wahid bin Zaid meninggal pada 177 H. Abdul Wahid bin Zaid diliputi rasa takut kepada Allah, berpaling dari kelezatan duniawi, baik dalam makan maupun minum sekedarnya, ataupun dalam tindakan lain, yang tidak keluar dari batasan kezuhudan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Jalaludin Rumi,Abdul Wahid bin Zaid

Dalam Al-Wa’dh wa ar-Qaqaiq, Abdul Wahid bin Zaid menceritakan, Suatu hari aku berkumpul bersama beberapa orang dalam suatu majlis. Kami sedang bersiap untuk keluar berperang menghadapi musuh.

Aku telah memerintahkan para sahabatnku agar segera bersiap untuk membacakan beberapa ayat Alquran.” Maka seorang laki-laki segera membaca Q.S. At-Taubah: 111,


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan jannah.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Mendengar bacaan tersebut, ada seorang pemuda kira-kira umurnya lima belas tahun dan ayahnya telah meninggal dengan mewariskan harta yang sangat banyak.

Pemuda itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan jannah?” Aku jawab, “Benar.”

Pemuda itu kembali berkata, “Aku bersumpah di hadapanmu bahwa aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan jannah.”

Segera kukatakan kepadanya, “Wahai sahabat, sesungguhnya tebasan pedang itu sangat kejam sedangkan engkau masih sangat muda.

Aku khawatir engkau tidak mampu bersabar dan akhirnya lemah ketika menghadapi ujain itu.”

Si pemuda menjawab, “Wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwaku kepada Allah dengan imbalan jannah . dan aku sangat bergembira bahwa aku telah bersumpah kepada Allah dengan sungguh-sungguh untuk menjual diriku kepada-Nya.”

Baca juga:  JALALUDIN RUMI, PENYAIR SUFI, TENTANG AKU dan aku

Abdul Wahid berkata, ‘Mendengar perkataan pemuda itu terasa jiwa kami telah berubah kerdir dan lalai.’ Kami saling berucap, ‘Anak muda itu mempu berpikir sedangkan kita tidak mampu berpikir.’

Setelah mengucapkan kata-katanya, pemuda itu segera , mengambil seluruh harta yang dia miliki dan diinfakkan semua kecuali seekor kuda dan persenjataan yang dia miliki.

Ketika datang waktu keluar berperang pemuda itulah orang yang pertama kali maju untuk berperang. Dia berkata kepadaku, “Assalamu’alaika.

Wahai Abdul Wahid.” Aku jawab, “Wa ‘alaika as-salam, wahai orang yang beruntung dalam perniagaan.” Kami mulai melakukan perjalanan untuk menuju medan perang dan selama itu pula si pemuda selalu memenuhi harinya dengan berpuasa di siang hari serta menegakkan qiyamullail di malam hari.

Pemuda tersebut juga yang melayani semua perbekalan kami dan kuda-kuda tunggangan kami.

Dia juga yang berjaga ketika kami tidur. Terus menerus pemuda itu melakukan amalnya sampai kami telah bertemu dengan musuh di negeri Romawi. Di suatu hari kami mendengar dia berujar, “Betapa aku rindu kepada Ainul Mardhiyyah (nama bidadari ).”

Salah seorang sahabatku berkata, “Mungkin pemuda ini sedang mengalami godaan di dalam dirinya sehingga pikirannya kacau” aku bertanya kepada si pemuda, “Wahai sahabat, apa yang engkau maksud Ainul Mardhiyyah itu?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *