Wali Paidi 22, Diundang Nabi Muhammad

Wali Paidi menyelesaikan pembacaan tahlilnya tepat adzan Maghrib berkumandang. Ia berjalan mundur ketika keluar dari makam dan langsung menaiki sepedanya mencari masjid terdekat. Wali Paidi mengikuti adzan yang didengarnya berniat shalat. Tapi semakin mendekat, suara adzannya justru kian menjauh. Akhirnya, Wali Paidi memutuskan untuk putar balik mencari masjid yang lain. Wali Paidi merasa masjid yang dituju tidak mau menerimanya.

Wali Paidi menyusuri jalan ke arah alun-alun Kota Malang. Dia berjalan pelan, bersiap kalau ada masjid yang dilaluinya berharap akan berhenti. Ketika Wali Paidi berada di depan rumah makan Cairo (resto menu Timur Tengah), hatinya menyuruh belok kiri.

Setelah berjalan 20 meteran, Wali Paidi melihat ada masjid di sebelah kiri jalan, masjid tersebut posisinya agak masuk ke dalam. Dia memasukkan sepedanya dan parkir di halaman masjid itu. Terlihat sebagian jamaah sudah keluar dari masjid karena sholat Maghrib sudah selesai.

Wali Paidi melangkah masuk mencari kamar kecil, lalu keluarlah seorang yang kulitnya agak hitam dan berambut agak gondrong dari dalam masjid, yang seakan menyambutnya, “melihat dari sarungnya yang ngelinting dan baju kokonya yang putih lusuh serta mangkak mburik, mungkin orang ini tukang becak,” gumamnya.

Wali Paidi kaget (dia sering kegetan memang), ketika bertanya padanya di mana letak kamar kecil itu, wajah orang tersebut terlihat jelas mirip wajah Arab habaib. Sorot mata dan wajahnya sangat tajam.

Ke kamar kecil, kencing Wali Paidi mobat mabit tidak tenang. Dia merasa berdosa karena mengira habib tersebut sebagai adalah tukang becak yak nah. Habis dari kamar kecil, dia berniat meminta maaf kepadanya.

Anehnya, ketika Wali Paidi selesai berwudlu dan mau masuk ke masjid, habib yang dimaksud sudah tidak ada. Disusul ke parkiran, tidak ada, ke dalam masjid, juga tidak ada. Wali Paidi merasa menyesal karena gampang berburuk sangka kepada orang lain, gampang menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.

Wali Paidi tidak tenang ketika melaksanakan sholat Maghrib. Dalam shalatnya, dia meminta kepada Allah untuk dipertemukan dengan habib tersebut. Mengakhiri sholat, mengucapkan salam, menoleh ke kiri, ajibnya, habib yang dicarinya sudah berdiri di samping. Ya Allah, ini siapa sebetulnya?

Wali Paidi berniat mendekat, mau mencium tangannya, tapi habib muda tersebut langsung lari ke luar masjid menuju jalan raya terus, hilang entah kemana.

“Subhanallah, ternyata di Kota Malang yang hiruk pikuk dunia ini masih ada kekasih Allah yang berseliweran, seharusnya aku tadi minta kepada Allah tidak hanya bertemu, tapi juga minta bisa diberi kesempatan untuk mencium tangannya,” gumamnya.

Setelah berdzikir sebentar, datanglah seorang pemuda pengurus masjid mendekatinya sambil memberi secangkir teh jahe kepadanya, dan Wali Paidi melihat banyak habib-habib sepuh mulai berdatangan memasuki masjid. Rupanya, sehabis Maghrib di masjid ini, diadakan rutinan membaca Raatibul Haddad.

Wali Paidi berniat untuk keluar karena merasa tidak pantas mengikuti acara tersebut. Bagaimana tidak, yang datang semuanya berjubah, sedang dirinya bercelana jeans dan berkaos oblong hitam dengan gambar Gus Dur sedang tertawa lebar. Hahaha.

Ketika Wali Paidi berdiri, dia mendengar suara tanpa wujud yang berkata kepadanya (hatif), “kamu mau pergi ke mana, apakah kamu tidak malu menolak undangan Nabi Muhammad?”

Wali Paidi duduk kembali, mengurungkan niatnya untuk keluar masjid. Dia mengikuti pembacaan Raatibul Haddad sampai selesai. Wali Paidi merasa malu sekali kepada habib-habib sepuh yang hadir di majelis, terutama kepada Nabi Muhammad yang mengundangnya.

Lalu, siapa habib yang keluar dari masjid tadi? Wali Paidi masih bertanya-tanya? Jangan-jangan memang tukang becak betulan? Bersambung! [dutaislam.com/ab]

Bersambung Wali Paidi 23

Tags: #Kisah Wali Paidi #Wali Paidi 22

Tinggalkan pesan "Wali Paidi 22, Diundang Nabi Muhammad"