Riwayat dan karomah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Riwayat dan karomah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

(Kisah para Aulia’ dan para Syeikh adalah sangat elok dibaca oleh khususnya kepada murid-murid yang menjalani tariqah agar menjadi petunjuk dan tauladan bagi mereka yang berada di jalan tariqah dan secara amnya kepada muslimin dan muslimat kerana dalam hadits ada menyebutkan yang bermaksud : “Mengingati para Wali menjadi sebab turunnya rahmat” )

Juga suatu peringatan kepada golongan manusia yang suka menghina atau mempersendakan para wali-wali Allah,maksud hadith Qudsi ”Allah isytiharkan perang terhadap orang yang memusuhi para wali-Nya”.

Kelak Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani,semoga Allah menyucikan jiwanya. Beliau merupakah seorang Imam,ahli dalam masalah-masalah keagamaan,tauhid dan fiqh dan pemimpin dari mazhab Syafi’I dan Hambali dalam Islam. Beliau adalah seorang yang sangat bijaksana dan berpengetahuan luas,seluruh manusia mendapat manfaat darinya. Doanya segera dikabulkan ,baik ketika berdoa untuk kebaikkan dan berdoa untuk hukuman. Dia adalah seorang yang banyak melakukan banyak keajaiban (karamah), manusia sempurna, yang selalu sedar serta ingat kepada Allah Azza Wa Jalla, merenung (muraqabah) ,berfikir,menerima dan memberi pelajaran.

Dia mempunyai hati yang lembut,sifat yang mulia dan wajah yang selalu tersenyum,dia orang yang peka dan memiliki sikap yang sangat baik,berakhlak dalam tabiat serta dermawan dalam memberi materi (wang) dan nasihat serta pengetahuan. Dia mencintai orang-orang,tetapi secara khususnya terhadap orang-orang yang beriman dan mengabdikan serta beribadah kepada Dzat Yang Maha Esa, menolong kepada siapa yang beriman.

Dia tampan selalu berpakaian rapi, pembicaraannya (kata-katanya) tidak berlebihan dan sia-sia. Apabila berbicara, meskipun dia berbicara dengan cepat tetapi setiap kata dan suku katanya yang keluar terdengar jelas. Beliau berbicara dengan penuh keindahan dan dia berbicara kebenaran. Bicara tentang kebenaran tanpa ragu-ragu kerana dia tidak peduli dirinya apakah dia akan dipuji,dikritik atau dicaci.

Ketika Khalifah Al-Muqtafi mengangkat Yahya bin Sa’id sebagai kadi (ketua hakim), Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menuduhnya dihadapan orang ramai, dengan mengatakan “anda telah mengangkat seorang tiran(orang yang zalim) yang paling buruk sebagai hakim atas orang-orang yang beriman. Biarlah kita lihat bagaimana anda akan menjawab untuk diri anda sendiri kelak ketika anda dihadapkan kepada Hakim Maha Agung, Allah Azza Wa Jalla Tuhan alam semesta.”

Mendengar hal ini, Khalifah tergoncang dan menitiskan air mata, lalu ia segera memecat sang hakim.
Penduduk Kota Baghdad mengalami kemajuan dalam hal akhlak dan rohani dan tingkah laku. Melalui pengaruhnya, kebanyakkan warga kota bertaubat dan menyatakan penyesalan, mengikuti akhlak yang baik dan perintah-perintah Islam. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dicintai dan dihormati oleh setiap orang, dan pengaruhnya tersebar kemana-mana. Orang-orang berbudi mencintainya, sedangkan para tiran (orang yang zalim) dan orang jahat takut kepadanya. Banyak orang termasuk para raja,menteri dan orang-orang bijak datang kepadanya untuk menanyakan persoalan-persoalan dan mencari penyelesaiannya, bahkan banyak orang Yahudi dan Nasrani menerima Islam melaluinya.

Dalam pengajaran dan pelayanannya (khidmatnya) kepada umat manusia, dia menggunakan sifat-sifat yang diwarisi oleh Yang Maha Tinggi.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata “seorang Syeikh spiritual (Sufi) bukan seorang guru yang sebenarnya,kecuali kalau dirinya memiliki/mempunyai dua belas sifat. Dua diantara sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat Allah Yang Maha Tinggi,iaitu menyembunyikan kesalahan manusia dan ciptaan yang lain,tidak hanya dari orang-orang lain tetapi bahkan dari diri mereka sendiri,dan memiliki perasaan terharu (kasihan) dan kemahuan memaafkan untuk dosa yang terburuk sekalipun.

Dua sifat diwarisi oleh Nabi Muhammad SAW iaitu cinta dan lemah lembut. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang pertama dari keempat khalifah, seorang Syeikh (guru) sejati,mewarisi kebenaran,kejujuran,dan keikhlasan hati, juga ketaatan dan kemurahan hati (kedermawanan). Dari Sayyidina Umar bin Khaththab r.a, iaitu keadilan dan menekankan kebenaran serta mencegah kesalahan. Dari Sayyidina Utsman bin Affan r.a iaitu, kerendahan hati dan bangun serta berdoa ketika manusia lainnya dalam keadaan tertidur dan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, iaitu pengetahuan dan keteguhan hati serta keberanian (kependekaran).”

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a sangat sayang kepada puluhan ribu pengikutnya sebagaimana seorang ayah sayang kepada anaknya. Dia mengetahui nama dan memperhatikan masalah-masalah duniawi juga keadaan spiritual mereka, dia membantu dan menyelamatkan mereka dari bencana kemalangan, bahkan jika mereka berada di tempat jauh sekalipun. Dia adalah seorang ayah bersama anak-anaknya dan memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan keharuan (belas kasihan). Kepada orang yang lebih tua darinya, dia seolah-olah menjadi lebih tua daripada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Dia menjalinkan persahabatan dengan kalangan orang miskin dan lemah, serta tidak pernah mencari teman diantara orang-orang terkenal dan berkuasa, orang-orang seperti itu memperlakukannya seolah-olah raja dari segala raja.

Salah seorang dari anak lelaki pembantunya menceritakan bahwa ayahnya, Muhammad bin Al-Khaidir melayani Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani selama tiga belas tahun, dirinya tidak pernah melihat seekor lalat hinggap pada dirinya dan tidak pula dia pernah melihat membuang hingus (di khalayak ramai). Meskipun Tuan Syeikh memperlakukan kaum lemah dan miskin dengan rasa hormat yang besar, pembantunya tidak pernah melihatnya berdiri ketika para sultan (penguasa) datang mengnjunginya dan tidak pula dia mengunjungi mereka atau dia tidak memakan makanan mereka kecuali sekali, ketika seorang raja datang berkunjung kepadanya, dia meninggalkan ruang jamuan dan datang kembali setelah raja dan pesta jamuannya selesai, sehingga mereka akan menyambutnya dengan berdiri.

Ketika dia menulis surat kepada khalifah, dia mengatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memerintahkan dia untuk melakukan ini atau itu dan bahwa hal itu merupakan kewajiban bagi khalifah untuk mentaatinya kerana dia adalah pemimpin mereka. Apabila khalifah menerima surat seperti itu,dia akan mencium surat itu sebelum dia membacanya dan berkata “Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani benar,sesungguhnya dia mengatakan kebenaran!”.
Abu Hasan, salah seorang hakim agung pada masa itu menceritakan, “Aku mendengar Khalifah Al-Muqtafi berkata kepada menterinya, Ibnu Hubaira, “syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mentertawakanku dan hal itu amat jelas bagi orang-orang di sekitarnya bahwa yang dia maksudkan adalah aku. Dilaporkan kepadaku bahwa dia menunjukkan sebuah pohon kurma dikebunnya dan berkata, “engkau lebih baik bekerja, jangan bepergian (berjalan) terlalu jauh atau aku akan memenggal kepalamu!”.

Sekarang kamu, wahai Ibnu Hubaira, pergi dan berbicaralah kepadanya seorang diri dan katakan, “anda jangan mengejek dan mengancam kahlifah, anda harus tahu bahwa kedudukan khalifah adalah suci dan harus dihormati”, sang menteri Ibnu Hubaira pergi kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan melihatnya sedang berkumpul dengan kerumunan orang ramai. Dalam perbicaraannya pada satu pokok, tiba-tiba dia menyatakan, “sesungguhnya aku akan memenggal kepalanya juga”.

Sang menteri merasa bahwa yang Syeikh maksudkan adalah dia dan merasa takut serta ngeri, dia pun melarikan diri dan mengatakan apa yang terjadi kepada khalifah. Sang khalifah menitiskan air mata dan berkata, “sungguh,Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah orang yang hebat”, lalu dia pergi menemui Syeikh untuk dirinya sendiri, Syeikh telah memberinya banyak nasihat dan khalifah menangis dan terus menangis.

Bersambung….

Tags: #Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani #Syekh Abdul Qodir Jailani

author
Penulis: 
    Karamah Syeikh Ahmad Badawi Wajahnya Bercahaya
    #Sang_Penatap_Matahari Karamah Syeikh Ahmad Badawi ialah wajahnya bercahaya sehinggakan beliau melilit wajahnya sebanyak
    Ibnu Arabi, Sufi Besar dari Spanyol
    Ibnu Arabi, yang  nama lengkapnya Abu Bakr Muhammad ibn ‘Ali ibn Ahmad ibn
    Abu Dzar al Ghiffari, Tak Ada Yang Mau Menguburkan Jazadnya
    Abu Dzar al Ghiffari , yang meninggal pada 22 Hijjri yah. Pada masanya
    Wahdatul Wujud, Ibnu Sabin
    Ibnu Sabin adalah seorang sufi dan juga Filosof dari Andalusia, yang mempunyai nama

    Tinggalkan pesan "Riwayat dan karomah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani"