Karomah Karomah Dzun nun al-Misri

Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzun nun dan bertanya “Wahai Abu al-Faidl!” begitu ia memanggil demi menghormatinya. “Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah Swt?“ “Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu.” Dzun nunBegitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki.

Al-Maghriby semakin penasaran “Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku.” lalu Dzun nun berkata: “Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji.

Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad: “Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah Swt. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku”.

Baca:  Syeh Abdul Qodir Jailani: 25 Tahun Mendiami Padang Pasir

Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami’ al-karamaat“ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzun nun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku “engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira.” Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).

Suatu hari Abu Ja’far ada di samping Dzun nun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzun nun mengatakan “Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya.” Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.

Imam Abdul Wahhab al-Sya’roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzun nun lalu berkata “Anakku telah dimangsa buaya.” Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzun nun datang ke sungai Nil sambil berkata “Ya Allah… keluarkan buaya itu.” Lalu keluarlah buaya, Dzun nun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata “Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah Swt.”

Baca:  Siti Jenar : Ajaran Makrifat

Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misry yang wafat pada tahun 245 H, semoga Allah me-ridlai-nya.

Tags: #Dzun Nun al-Mishri #Karomah

Wali Paidi 12, Dinasehati Nabi Khidir
Wali Paidi 12, Dinasehati Nabi Khidir. Terlihat di sudut terminal orang gila ini
Wali Paidi 11, Ditemui Nabi Khidir Lagi
Wali Paidi 11, Ditemui Nabi Khidir Lagi. Anak buah gohell yg berjumlah tujuh
Wali Paidi 13, Mengenang Gus Dur
Wali Paidi 13 MENGENANG GUS DUR DALAM RANGKA HAUL KE II BELIAU. Sehabis tahlil
Wali Paidi 10, Garam Suwuk
Sehabis dari acara peresmian toko Mas Kiai Mursyid, Wali Paidi pamit pulang, sebenarnya

Tinggalkan pesan "Karomah Karomah Dzun nun al-Misri"