Jalaludin Rumi, Penyair Sufi

Jalaludin Rumi (604-672 H) nama lengkapnya Jalaludin muhammad ibn Al-Balkhi al-Qunuwi, lahir di Balkh tahun 604 H. Jalaludin pada awalnya belajar pada ayahnya, lalu Jalaludin Rumi belajar pada sahabat ayahnya. Setelah Burhanuddin Muhaqqiq meninggal dunia, Jalaludin Rumi pun menggantikannya sebagai guru di kota Qunyah.

Pertemuan Jalaludin Rumi dengan Shamsu Tabriz, seorang sufi Penyair dan pengelana dari Pulau Jawa, tahun 652 H, justru menjadi titik peralihan kehidupannya. Setelah pertemuanya itulah Jalaludin Rumi mengarah pada kehidupan zuhud dan tasawuf, meninggalkan pekerjaan Jalaludin Rumi sebagai guru, dan mulai mengubah puisi.

 Akhirnya Jalaludin Rumi sepenuhnya mengarah pada pengubahan puisi. Salah satu karyanya, Diwan shams-I tabriz. Jalaludin Rumi  sebagai  pendiri sebuah tarikat sufi terkenal, yaitu tarikat al-Jalaliah atau al-Maulawiyah. Tarikat ini sampai sekarang masih terdapat di kawasan Turki dan Syria. Jalaludin Rumi meninggal dunia tahun 672 H di Qunyah.

Pendapat Jalaludin Rumi tentang fana: “Apakah makna ilmu tauhid? Hendaklah kaubakari dirimu di hadapan yang maha satu. Seandainya kuingini cemerlang bagai siang hari, bakarlah eksistensimu (yang gelap) seperti malam dan luluhkan wujudmu dalam wujud pemelihara wujud, seperti luluhnya tembaga dalam adonannya. Dengan begitulah kau bisa mengendalikan genggamanmu atas “aku” dan “kita”, dimana semua kehancuran ini tidak lain timbul dari dualisme.

 Menurut Jalaludin Rumi , kata “aku” yang diucapkan seorang sufi dalam keadaan fana tidak diisyaratkan pd dirinya sendiri, karena terdapat perbedaan kata “aku” yang diucapkan untuk menekankan pribadi kemanusiaan serta keterpesonaan padanya dengan kata “aku” yang diucapkan untuk mengisyaratkan Dzat Illahi. Yang pertama, menurutnya, merupakan laknat. Sementara yang kedua merupakan Rahmat:
kata Aku bukan pada waktunya merupakan laknat (bagi pengucapnya). Dan pada waktunya merupakan Rahmat. Karena itu kata Aku yang diucapkan al-Mansur (maksudnya, al-Hallaj) merupakan rahmat yang berhasil dicapainya. Sementara kata Aku yang diucapkan Fir’aun merupakan laknat baginya. Renungkanlah!”

“Burung, seandainya berkicau bukan pada waktunya, wajib dipotong kepalanya. Dan ini (agar terpelihara kebenaran) saat pemberitahuan. Apa itu pemotongan kepala? Yaitu pemancungan jiwa (hewani) dengan jihad serta penghindaran kata-kata yang menekankan pada pribadi manusia.”

Kefanaan dalam pandangan Jalaludin Rumi adalah mengantar pada kefanaan dari kehendak: “Bukankah kalian yang mengatakan, bahwa sesungguhnya (wujud pribadi kita) ini korban yang disajikan kepada kholik dan kita fana dalam kebaqaan? Terlepas kita ini orang-orang berakal ataupun orang-orang gila, kita adalah para pemabuk atau peminum dan piala itu sendiri. Dan kitapun menundukan kepala kepada kehendak Nya maupun keinginan Nya, bahkan mengorbankan roh-roh kita yang manis (bagi cinta Nya).”

Kefanaan dalam pandangan Jalaludin Rumi erat kaitannya dengan ma’rifat serta merupakan buahnya. Kefanaan adalah ma’rifat secara langsung, yang tidak didasarkan pada akal teoritis ataupun kajian:
Tahukah kalian nama tanpa yang diberi nama, pernahkah kalian petik mawar dari m-w-r semata, kalian beriia nama, carilah realitas yang diberi nama, jangan liat bulan di air, carilah bulan di langit sana, andaikan dari nama dan huruf kalian ingin mengatasi , dari egoisme hendaklah kalian hindarkan diri, dari semua tabiat jiwa bersihkan diri kalian, wujud nurani kalian niscaya terlihatkan, memang Nabi dalam kalbu kalian niscaya tertampakkan, tanpa guru; dan penutupan pun tidak diperlukan.

Menurut Jalaludin Rumi, kefanaan pun akan menghantar pada tersaksikannya kesatuan dan sirnanya pluralitas: Dari dualisme kutukar diri dan kulihat alam hanya satu, dari yang satu kucari, dengan yang satu kutahu, kepada yang satu kulihat, dan untuk yang satu kuseru, oleh piala cinta kumabuk dan alam pun fana dari pemahamanku menikmati minuman dan berbincang dengan-Nya itulah kesibukanku.

Lebih jauh lagi, Jalaludin Rumi juga berpendapat tentang adanya hakekat Nabi Muhammad SAW atau cahaya abadi yang menjadi dasar ma’rifat semua Nabi maupun wali. Dan ini dikemukakan dalam al-matsnawi, serta diwan shams-I tabriz secara sentimental, tidak secara filosofis.

Sebagaian pendapat tersebut dikemukakannya dalam lirik berikut:
Dalam suatu bentuk muncul keindahan sekejap, ia pun lekat dalam kalbu dan terus lenyap, dalam paket baru ’sahabat’ itu muncul di tiap jiwa, terkadang tua renta dan terkadang muda belia, itulah Roh yang menyelam kedalam berbagai makna, ke jantung tanah liat itu mengaram, lihatlah! Ia keluar dari kebebasan tanah dalam, dalam wujud ia pun ada, terkadang muncul dalam keadaan Nuh maupun dunia, bahkan karam lewat doanya, sementara ia selamat lewat kepalanya, terkadang muncul lewat Ibrahim, dalam api menyala, jadi air demi dirinya, lalu ia pun hadapkan wajahnya ke bumi beberapa lama, agar yang di lihatnya dinikmati pemirsanya, lalu muncul dalam bebtuk Isa yang mendaki langit tinggi, dan kepada Allah mula memuji tanpa henti, ia yang datang dan pergi, dalam setiap alam ia bisa diamati, dalam bentuk seorang Arab, diakhir jalan, muncul ia, para raja alam pun tunduk kepadanya , apa yang berubah? Dan apa makna inkarnasi? Si bagus yang menarik kalbu itu muncul kembali, dalam bentuk pedang Ali, dan pada masanya menjadi tajam sekali, tidaki! Tidak! Bahkan ia muncul dalam keadaan manusia, “Aku inilah Yang Maha Benar!” serunya, ia bukan Manshur yang disalib itu, kata yang kufur oleh Jalaludin Rumi tidak dan takkan terucapkan, maka jangan dustakan atau mengingkarinya, tiap pendusta itu kafir dan tempatnya pun neraka.

Jalaludin Rumi , menyatakan bahwa Dia adalah segala sesuatu itu sendiri. Sebagaimana katanya:
Aku inilah mencuri para pencuri, serta derita tongkat aku juga, aku inilah awan, aku inilah hujan, dan aku inilah yang menghujani padang ilalang!
Jalaludin Rumi adalah seorang penyair yang di liputi perasaan cinta, yang mengantarnya pada kefanaan ataupun penyaksian kesatuan.

Sumber: Walijo.com

Tags: #ar-Rumi #makrifat #wali

  1. author

    sigit7 tahun ago

    🙂

    Balas

Tinggalkan pesan "Jalaludin Rumi, Penyair Sufi"